Selasa, 07 Juli 2015

Khutbah Idul Fitri 1434 H: Beramal Dengan Cinta


اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ.
اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ. وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.
اللهُ أَكْبَرُ بِفَضْلِهِ، اَللهُ أَكْبَرُ بحِلْمِهِ وَعَفْوِهِ، اَللهُ أَكْبَرُ بِجُوْدِهِ وَكَرَمِهِ، اَللهُ أَكْبَرُ رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ، وَبَسَطَ الأَرْضَ بِغَيْرِ عَنَتٍ، وَسَخَّرِ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِلْعَمَلِ وَالسَّكَنِ، وَأَنْزَلَ الْغَيْثَ عَلَى عِبَادِهِ بِرَحْمَتِهِ، وَسَخَّرَ الأَفْلَاكَ دَائِرَةً بِحِكْمَتِهِ وَقُدْرَتِهِ.
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي اِمْتَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الِإسْلاَمِ، وَشَرَحَ صُدُوْرَنَا بِنُوْرِ الإِيْمَانِ، وَأَفَاضَ عَلَيْنَا بِآلاَئِهِ الْعِظَامِ حَيْثُ جَعَلَنَا مِنْ خَيْرِ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ، وَأَنْزَلَ عَلَيْنَا أَعْظَمَ كِتَابٍ وَأَحْكَمَهُ، وَيَسَّرَ لَنَا أَمْرَ طَاعَتِهِ، وَبَشَّرَ الْمُتَّقِيْنَ بِجَنَّتِهِ، وَحَذَّرَ الْمُعْرِضِيْنَ بِأَلِيْمِ عِقَابِهِ.
اَلْحَمْدُ للهِ إِلَهِ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ، وَقَيُّوْمِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرَاضِيْنَ، وَمَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، اَلَّذِي لاَ عِزَّ إِلاَّ فِي طَاعَتِهِ، وَلاَنَعِيْمَ إِلاَّ فِي قُرْبِهِ، وَلاَصَلاَح َلِلْقَلْبِ وَلاَفَلاَحَ إِلاَّ فِي الإِخْلاَصِ لَهُ وَتَوْحِيْدِ حُبِّهِ.
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ تَفَرَّدَ بِالْعَظَمَةِ وَالْبَقَاءِ، وَالْعِزِّ وَالْكِبْرِياَءِ، وَالْجُوْدِ وَالْعَطَاءِ.
أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا يَلِيْقُ بِفَضْلِهِ، وَعَطَائِهِ وَنِعَمِهِ، وَأَشْكُرُهُ شَكْرَ عَبْدٍ خَضَعَ لَجَبَرُوْتِهِ وَعِزَّتِهِ، فَلَهُ الحَمْدُ دَائِمًا أَبَدًا بِلِسَانِي وَقَلْبِي وَجَوَارِحِي وَأَرْكَانِي، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ عَبْدٍ يَرْجُوْ بِرَّهَا وَذُخْرَهَا يَوْمَ الْعَرْضِ الأَكْبَرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبَ الْحَوْضِ الأَعْظَمِ، وَالْمَقَامِ الأَكْرَمِ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اِقْتَدَى بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu…
 
Allahu akbar dengan segala kemuliaan-Nya. Allahu akbar dengan segala kesantunan dan kasih sayang-Nya. Allahu akbar dengan derma dan pemberian-Nya. Allahu akbar yang meninggikan langit tanpa tiang, yang menggelar bumi tanpa lelah, yang menundukkan siang dan malam untuk bekerja dan istirahat, yang menurunkan hujan untuk hamba-Nya dengan cinta-Nya, dan mengendalikan planet beredar dengan hikmah dan ketentuan-Nya.
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…
Mulai dari bersembunyinya sang mentari di senja kala kemarin hari, gema takbir membahana mengiringinya beranjak ke dalam dekapan malam. Ratusan juta lisan mengagungkan nama Pemilik jagat raya dengan hati fitri bagai bayi yang lahir dari ibunya. Begitulah manusia beriman telah lahir dari rahim Ramadhan. Makhluk baru ini lahir dengan nama muttaqi (orang yang bertaqwa) siap menatap hari-hari depan dengan penuh optimisme apapun yang diperbuat oleh zaman terhadapnya.
Bulan penuh berkah yang meninggalkan kita mendidik kita menjadi manusia tangguh, hempasan dan tempaan lapar dan dahaga memastikan kita menjadi manusia mukmin yang siap melakukan segalanya untuk meraih cinta dan ridha Allah Azza wa Jalla. Dahaga terhadap tetesan air selamanya akan mewariskan dahaga terhadap ampunan dan maghfirah-Nya. Usahlah kau tanya di mana ridha Tuhanmu bersembunyi, bagai singa lapar, ia akan mencari dan mengejarnya, terus berlari dan tidak pernah berhenti sampai ia mendapatkannya.
Seperti malam-malam kemarin, beratnya mata oleh deraan kantuk tak menyurutkannya untuk mengeja kalam suci-Nya. Saat sebagian mata tertutup oleh penatnya bekerja mengais rezki, ia berdiri, sujud, dan ruku’ hidupkan malam dan gairahkan suasana dengan hangatnya spiritual yang senantiasa ditempa dan diasah. Semua dilakukannya karena cintanya kepada Rabbnya yang memberinya hidup dan menjamin penghidupannya. Maka, tak ada penat, lelah, dan kantuk yang menghambat langkahnya mengejar cinta-Nya.
Lilitan lapar dan kerontangnya dahaga bukan karena kebencian, hukuman, bahkan kutukan dari Tuhannya. Lebih karena cinta-Nya kepada seorang mukmin. Sebab Rabbnya akan memberinya dua kebahagiaan kepadanya; kebahagiaan saat mereguk hidangan berbuka dan saat mereguk nikmat surga dan bertemu dengan Rabbnya. Seperti yang diberitakan oleh Rasul yang mulia,
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ ‏ 
“Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan, jika ia berbuka ia berbahagia dan jika bertemu dengan Rabbnya ia berbahagia karena puasanya.” (Hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu…
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…
Ramadhan menyemai cinta di lubuk hati. Cinta kepada Allah membuat hamba mengabaikan seluruh lelah, lapar, dahaga, bahkan luka. Bertahan dalam ketaatan, bersabar dalam ujian setangguh para demonstran di Rabiah Adawiyah dan Medan An-Nahdhah. Ramadhan memupuk cinta kepada sesama, hamba-hamba Allah berbaris bershaf-shaf dalam sujud dan ruku’, bersama mengalunkan pujian, takbir dan tahmid. Dengan cinta mereka saling berbagi dan membantu. Lihatlah sore hari, saat para pengguna jalan raya berdesakan merangsek di dekat lampu merah. Para penjaja makanan dan minuman dengan senyum berbagi ta’jil, bukan untuk dijual. Begitupun suasana di masjid-masjid, para shaimin duduk berbaris berjejer menunggu bedug Maghrib sedang di hadapan mereka hidangan berbuka kiriman dari warga. Karena Rasul yang mulia mengabarkan kepada umatnya,
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلَ اَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَئٌ
“Barangsiapa memberi buka kepada orang yang berpuasa, dia mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya (orang yang berpuasa itu) tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (Tirmidzi)
Segala perbedaan yang ada tak membuat orang-orang berpuasa berselisih apalagi bermusuhan. Tak masalah apakah kau berpuasa mulai hari Rabu atau hari Selasa. Tak mengapa apakah kau shalat Tarawih 20 rakaat atau 8 rakaat. Perbedaan yang dilandasi dengan cinta justru melahirkan harmoni keindahan. Bagai lukisan di kanvas dengan aneka warna yang berbeda, ia menciptakan gradasi dan pesonanya. Karena puasa memberikan cinta dan keindahan. Rasulullah mengajarkan,
إِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّى صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ
“Sekiranya ada yang memeranginya atau mencacinya hendaknya ia katakan, sesungguhnya aku sedang puasa, dua kali.”
Maka dengan cinta karena Allah seorang mukmin bekerja, beramal, berbagai, berkontribusi, bersilaturahim. Bekerja dengan cinta akan melahirkan ketulusan, daya tahan, dan kebahagiaan. Meski di dunia engkau tak mendapatkan apa-apa. Meski tak ada yang membalasmu dengan terima kasih atau senyuman. Bahkan terkadang berbalas cacian dan cibiran. Seperti cinta Rasul kepada manusia.
Diriwayatkan bahwa istri beliau, Aisyah RA bertanya kepada beliau, “Ya Rasulullah, adakah hari yang lebih sulit yang kau alami daripada hari Uhud?” beliau menjawab, “Aku pernah mengalaminya bersama kaummu sesuatu yang lebih berat dari hari Aqabah. Saat aku tawarkan Islam kepada Ibnu Abdu Yalalil bin Abdu Kilal, namun ia tidak merespon seperti yang aku inginkan. Aku pun tinggalkan dia dalam keadaan gundah gulana. Aku tidak sadar tiba-tiba sudah berada di Qarnu Ats-Tsa’alib (nama tempat di Mekah). Aku angkat kepalaku tiba-tiba ada awan yang menaungiku. Aku lihat di atas, ternyata Jibril memanggilku, ‘Allah telah mendengar ucapan kaummu dan balasan mereka kepadamu. Allah Juga telah mengutus malaikat penjaga gunung agar kau perintahkan semaumu. Lalu malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku, ‘Ya Muhammad, Allah telah mendengar ucapan kaummu dan aku ini penjaga gunung. Tuhanmu telah memerintahkan aku agar engkau perintahkan aku semaumu. Jika kau mau, aku bisa timpakan kepada mereka Al-Akhbasyain (bukit Abu Qubais dan Qu’ayqu’an, Mekah).” Rasul pun menjawab, “Yang aku inginkan adalah agar Allah mengeluarkan di antara anak cucu mereka orang-orang yang hanya menyembah-Nya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatupun.”
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu…
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…
Teruslah berkarya untuk orang-orang tercinta, keluarga, masyarakat, dan bangsa sampai engkau mendapatkan cinta dan ridha-Nya. Bahkan sampai kaummu mencintaimu dan Allah menghembuskan cinta di dada mereka kepadamu. Menanam kebaikan tak harus kau petik hasilnya hari ini atau esok. Kau siram dan pupuk tanaman kebaikanmu dan bertahanlah untuknya terhadap serangan angin dan hama. Mungkin tanah yang kau pilih tandus dan beragam hama siap memangsa. Dan cinta membuatmu terus menyirami, memelihara, dan menjaganya.
Cinta yang bersemi yang disemai oleh madrasah Ramadhan dalam dirimu membuatmu seolah terlahir kembali di alam raya ini, dibangkitkan kembali di dunia yang lebih indah dengan bunga dan aroma yang membuat hidup terasa lebih hidup. Yang membuatmu menghiasi diri dengan sifat pecinta sejati, di antaranya:
Mengenalinya Dengan Sebaik-baiknya
Kau mencintainya karena kau telah mengenalinya dengan baik. Pupuklah pengetahuanmu tentang yang kau cintai niscaya kau akan lihay bersikap kepadanya dengan pengetahuan itu. Kenali masyarakatmu, kenali bangsamu niscaya kau akan bisa bersikap dengan mereka dengan kearifan. Memperdalam pengetahuan tentang Allah melalui asma dan sifat-Nya membuatmu pandai berinteraksi dengan-Nya sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya.
Segera Memenuhi Panggilannya
Saat yang kau cintai memanggil, segera kau merespon tanpa menghiraukan sesibuk apakah kau saat itu. Dengan suka-cita kau lakukan perintahnya dan kau turuti kehendaknya. Begitulah kiranya orang bertaqwa menyambut seruan Rabbnya, mengais ampunan dan surga-Nya
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imran: 133)
Berkorban Untuknya
Cinta yang tumbuh karena Allah membuatmu mampu berkorban meski manusia memandang sia-sia pengorbananmu. Kau dianggap orang bodoh melakukan kekonyolan. Keyakinan di hatimu membuatmu bisa memastikan bahwa kau tidak melakukan kekonyolan dan pengorbananmu tidaklah salah alamat. Seperti seorang ibu yang berkorban untuk anaknya, seorang pejuang yang mengorbankan harta bahkan nyawa untuk tanah airnya. Tidak ada yang sia-sia bagi yang melandasi pengorbanannya dengan cinta.
Mencintai Orang yang Dicintainya
Cinta kita kepada Rasulullah karena beliau orang yang paling dicintai Allah. Demikian pula para wali Allah. Akhirnya Anda tergabung dalam rombongan para pecinta yang bergerak menebarkan cinta di alam semesta dan membawa kemaslahatan kepada sesama. Gelombang yang ditimbulkannya pun menjadi besar dan arus yang dihasilkannya menjadi kuat. Maka memohonlah kepada Allah cinta mereka juga, agar kau kelak dibangkitkan bersama mereka di hari Akhir
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Attaubah: 119)
Rasulullah bersabda,
المَرْءُ معَ مَنْ أَحَبّ
“Seseorang itu dibangkitkan bersama siapa yang dicintainya.”
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu…
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…
Beramal dengan cinta memperpanjang daya tahan dan menambah amunisi serta energi seorang hamba, bahkan melipat gandakan tenaganya. Berbagai jalan kemudahan akan terbuka dan berbagai keajaiban tiba. Kesungguhan yang kau tunjukkan kepada Rabbmu membuatmu terbimbing menuju jalan-jalan kebaikan. Boleh jadi di permulaan jalan kau hanya menempuh satu cara menuju kebaikan, namun dengan cinta dan kesungguhanmu kau dapati berjuta jalan terbentang menuju Rabbmu. Firman Allah,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69).
Sebab ketika kita mencintai, kita terasa terlahir kembali dan dibangunkan kembali dari tidur yang panjang, di alam yang penuh bunga-bunga keindahan
Sebab ketika kita mencintai, pandangan kita kepada segala sesuatu berubah, pikiran kita tentang segala sesuatu berubah, dan perasaan kita kepada sesuatu berubah.
Sebab ketika kita mencintai, mimpi yang kita alami terdengar suaranya, senyum kita terdengar, dan rindu kita terdengar
Sebab ketika kita mencintai, malam lebih kita cintai daripada siangnya, menghabiskannya berlama-lama di bawah temaram cahaya bulan
Sebab ketika kita mencintai, bunga melebihi fungsi dia diciptakan, begitupun pos dan telepon.
Sebab ketika kita mencintai, kita lebih memahami kehidupan ini ketimbang sebelumnya, lebih memahami diri kita dan lebih memahami orang lain.
Sebab ketika kita mencintai, kita bisa memberi tanpa batas dan rindu tanpa tepi
Sebab ketika kita mencintai, lalu banyak kesukaan baru, kreativitas baru, dan perhatian baru
Sebab ketika kita mencintai, kita bisa mengubah kebiasaan buruk kita, pikiran buruk, dan akhlak buruk kita. Maka suara kita berubah, mimpi kita berubah, dan selera kita berubah
Sebab ketika kita mencintai, kita banyak berpikir, banyak bermimpi, banyak khawatir
Sebab ketika kita mencintai, selalu terkenang wajah mereka, suara mereka, sikap mereka, dan sapa mereka
Sebab ketika kita mencintai, tulisan yang terangkai untuk mereka lebih detail, susunan hurufnya lebih tertata indah dan kita ulang-ulang dalam merangkainya
Sebab ketika kita mencintai, kalimat terasa berbobot, jenak-jenak waktu terasa berarti dan kebahagiaan terasa bermakna
Sebab ketika kita mencintai, kita menulis catatan rencana, berinteraksi dengan ketidaksengajaan, berterima kasih atas semua kondisi
اَللَّهُمَّ أَعِزِّ الإْسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُعْلِيَ رَايَةَ الإِسْلاَم ِوَرَايَةَ أَهْلِهِ، وَأَنْ تُذِلَّ الْكُفْرَ وَأَنْ تُذِلَّ أَهْلَهُ ياَ قَوِيِّ يَا عَزِيْزٌ، اللَّهُمَّ انْصُرْ الْمُجَاهِدِينَ الَّذِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ لِتَحْقِيْقِ كَلِمَةِ التَّوْحِيْدِ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ وَأَيِّدْهُمْ بِتَأْيِيْدِكَ وَقَوِّهِمْ بِقُوَّتِكَ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْقَوِيُّ الْعَزِيْز، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةِ أُمُوْرِنَا، وَدُلَّهُمْ عَلَى الرَّشَادِ وَبَاعِدْ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ سُبُلِ أَهْلِ الْغَيِّ وَالْفَسَادِ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِناَّ نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ عَنَّا الرِّبَا وَالزِّنَا وَأَسْبَابَهُ، وَأَنْ تَدْفَعَ عَنَّا الزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مَنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بِلاَدِنَا هَذِهِ خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُوَفِّقْنَا لِتَوْبَةٍ نَصُوْحٍ قَبْلَ الْمَمَاتِ، اَلَّلهُمَّ لاَ تُمِتَّنَا إِلاَّ وَقَدْ وَفَّقْتَنَا لِلتَّوْبَةِ، نَلْقَاكَ بِهَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ. اَلَّلهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ صَلاَحًا فِي أَنْفُسِنَا وَفِي أَهْلِيْنَا وَفِي أَوْلَادِنَا وَفِي عُلَمَائِنَا وَفِي وُلَاتِنَا أَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ وَأَجْوَدُ الأَجْوَدِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ وَعَافِ مُبْتَلاَناَ، اَللَّهُمَّ ارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ وَكَفِّرْ سَيِّئَاتِهِمْ وَارْزُقْهُمُ الصَّبْرَ وَالِاحْتِسَابَ
اَللَّهُمّض إِنَّا عَبِيْدُكَ بَنُوْ عَبِيْدِكَ، بَنُوْ إِمَائِكَ، نَوَاصِيْنَا بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيْنَا حًكْمًكَ، عَدْلٌ فِيْنَا قَضَاؤُكَ، نَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ بِكُلِّ اِسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْكَرِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَنُوْرَ أَبْصَارِنَا، وَجَلاَءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُوْمِنَا.
اَللَّهُمَّ اشْرَحْ صُدُوْرَنَا بِالإِيْمَانِ وَاعْمُرْهَا باِلتَّقْوَى وَلاَ تَجْعَلْ فِيْهَا غِلاً وَلاَ حِقْداً وَلاَ حَسَداً لِأَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِيْنَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خًلَفَائِهِ الأَرْبَعَةِ الرَّاِشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنِ الآلِ وِالصُّحْبِ الْكِرَامِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَإِحْسَانِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Idul Fitri 1435 H : Kita Tak Bisa Sembunyi !

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَتَبَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ الصِّيَامَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأَنْزَلَ فِيْهِ الُقُرْانَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْـدَهُ لاَ شَـرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُـوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَّلِّ وسلم عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَأَصْـحَابِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى اخِرِ الزَّمَانِ، أما بعد: فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا اللهَ فَقْدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ. وَقَدْ قـَالَ اللهُ تَعاَلَى فِي الْـقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ:
Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT. kita semua bergembira telah dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan. Bulan diwajibkannya shiyam dan diturunkannya Al-Qur’an sebagai hidayah untuk manusia. Bulan penuh berkah dan rahmat serta bulan pembinaan kaum muslimin menuju derajat muttaqiin.
Banyak sudah pelajaran dan kesadaran yang telah kita dapatkan. Pertama, kita sadar bahwa Allah selalu bersama kita. Kita tak bisa bersembunyi dan tak ada yang bisa kita sembunyikan sama sekali. Kita benar-benar sadar, maka saat berpuasa meski di tempat yang sangat sepi dan kita sendirian tak mungkin kita diam-diam minum air meski hanya seteguk. Bahkan air sesetes pun kita jaga agar tidak sampai masuk ke dalam tenggorokan kita. Mengapa? Karena kita sadar bahwa Allah melihat kita. Meski kita sendirian tetap dilihat Allah. Meski satu tetes juga tetap dilihat oleh Allah. Karena kita merasa bahwa Allah selalu bersama dengan kita dan kita selalu dilihatnya, maka meski shubuh kurang satu menit kita pun sudah tak mau makan dan minum lagi, dan begitu juga meski maghrib kurang satu menit kita juga tak mau berbuka. Sungguh luar biasa. Puasa telah menyadarkan kita akan pengawasan Allah atas diri kita hingga pada tingkat yang sekecil-kecilnya. Inilah derajat keimananan yang paling tinggi yaitu derajat ihsan.
أنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأنَّكَ تَرَاهُ فإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فإنَّهُ يَرَاكَ
“Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan bila kamu tidak melihat-Nya, maka kamu sadar bahwa Ia melihatmu.” (Hr. Muslim).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Tentu kesadaran seperti ini bukan hanya dimaksudkan saat kita puasa di bulan Ramadhan saja. Tapi hendaknya kita wujudkan dalam kehidupan kita secara keseluruhan. Di mana pun kita berada. Di kantor atau di pasar. Di rumah sendiri, atau di hotel saat tak ada isteri/suami. Betapa indahnya apabila semua pejabat, pegawai negeri dan para pengusaha tak ada yang korupsi, karena sadar berapapun uang diambil adalah dilihat oleh Allah. Bukan karena adanya pengawasan jaksa, KPK atau polisi. Allah berfirman:
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur…” (Al-Baqarah: 255)
Kedua, kita sadar untuk selalu bersyukur kepada Allah. Indah sekali puasa telah membuat kita sadar akan arti pentingnya selalu bersyukur kepada-Nya. Dengan puasa kita rasakan betapa nikmat segarnya air, dan makanan-makanan lainya, yang semuanya adalah merupakan anugerah Allah.
Kita sadar, bahwa tanpa rahmat dan nikmat dari pada-Nya maka betapa susahnya hidup ini. Saat berpuasa, Alhamdulillah saat berbuka tersedia air, makanan dan minuman. Sehingga terasa betapa nikmat.
Manusia adalah makhluk yang paling banyak menerima nikmat dari Allah. Semua Allah ciptakan untuk manusia. Tapi sangat sedikit yang pandai bersyukur kepada-Nya. Padahal dengan bersyukur, nikmat dilipat gandakan dan selalu ditambah. Sedang bila manusia kufur nikmat, maka terjadilah bencana dan mala petaka. Allah berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim: 7)
Ketiga, kita sadar melakukan kewajiban baru setelah itu menerima hak.Banyak orang yang hanya pandai menuntut hak tapi tak pandai menunaikan kewajiban. Maka jadilah akhirnya hak itu tak pernah ia dapatkan. Karena tak logis seseorang mendapatkan hak padahal kewajiban tak ditunaikan. Orang yang sukses adalah orang mau dengan baik melaksanakan kewajiban, baru setelah mendapatkan hak.
Puasa benar-benar menyadarkan kita semua akan adanya hukum hak dan kewajiban ini. Kita menjalankan puasa, lalu kita dapatkan hak untuk berbuka. Kita lakukan perintah-perintah Allah dan kita tinggalkan larangan-larangan-Nya selama kita berpuasa, dan kita diberikan hak untuk dikabulkannya doa. Allah berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186).
Inilah jalan yang lurus, benar dan logis. Memenuhi panggilan Allah, beriman kepada-Nya lalu silahkan untuk minta dan berdo’a kepada-Nya. Banyak orang yang tak malu; minta masuk surga tapi shalat tak mau. Banyak minta dan berdoa kepada Allah, tapi saat dipanggil Allah tidak datang. Saat senang lupa kepada Allah, tapi saat susah baru ingat dan berdoa kepada Allah. Nabi bersabda:
تَعرَّفْ إِلَى اللهِ في الرَّخَاءِ يَعْرِفكَ في الشِّدَّةِ
“Ingatlah kepada Allah saat senang niscaya Allah ingat kepadamu saat susah.” (Hr. Ahmad)
Keempat, kita sadar bahwa kebersamaan adalah indah dan penuh berkah. Puasa Ramadhan membuktikan bahwa kebersamaan (berjamaah) adalah penuh berkah dan menjadikan sesuatu yang berat menjadi sangat ringan. Bukankah berpuasa itu sebenarnya berat? Bukankan sebenarnya Shalat Tarawih itu berat? Namun karena kita lakukan berjamaah (bersama-sama) maka menjadi terasa sangat ringan dan indah sekali.
Inilah ajaran berjamaah. Kita ummat Islam ini adalah ummat yang satu. Andaikan semangat dan spirit kebersamaan ini benar-benar kita wujudkan maka kita pasti menjadi ummat yang paling baik, kuat dan hebat. Tak mungkin tertandingi. Apa yang tak bisa dilakukan ummat Islam ini andaikan bersatu padu?! Tapi sebaliknya, ketika kita tidak bersatu padu, bercerai berai, karena faktor beda suku, bahasa, oraganisasi, partai, madzhab, maka inilah musibah. Kita ummat Islam meskipun sangat besar tapi nyaris tak memiliki kekuatan apa-apa. Apa yang bisa kita lakukan saat saudara-saudara kita di Palestina dibantai oleh kaum Yahudi yang kecil itu? Kita hanya bisa kaget-kaget saja. Padahal kaum Yahudi sudah bertahun-tahun berbuat biadab seperti itu dan menguasai Masjidil Aqsha.
Puasa Ramadhan hendaknya segera menyadarkan kita semua untuk berjamaah secara benar. Yaitu berjamaah atas dasar Islam. Bukan berjamaah atas dasar organisasi, partai, suku atau bangsa. Kita boleh saja memiliki suku, bangsa, bahasa, organisai, madzhab, partai yang berbeda-beda, tapi kita semua haruslah berjamaah dan bersatu padu di bawah ikatan Islam. Bukankah saat Ramadhan kita kompak berpuasa dan beribadah, meskipun kita memiliki suku yang berbeda, bangsa yang berbeda, organisasi yang berbeda, partai yang berbeda?
Marilah kita buang fanatisme sempit yang membuat ummat Islam bercerai berai. Mari kita masuk dalam ikatan Islam yang utuh dan satu. Nabi bersabda:
وَكُونُوا عِبَادَ الله إخْوَاناً
“Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Hr. Muslim)
Keenam, kita sadar bahwa hakekat diri kita adalah jiwa bukan tubuh. Puasa menyadarkan kita bahwa tubuh ini hanyalah rangka atau rumah belaka. Hakekat manusia adalah jiwanya. Cepat atau lambat tubuh ini pasti akan kita tinggalkan. Dan kalau sudah kita tinggalkan maka tak berarti dan tak bernilai sama sekali.
Maka betapa merugi orang yang hanya sibuk mengurusi kesehatan jasmanisnya saja, sementara ruh dan jiwa tak pernah diberikan haknya. Betapa buruknya orang yang hanya sibuk makan dan minum hingga tak beduli halal dan haram, padahal jasmani ini bakal dikubur dan dijadikan santapan cacing dan binatang yang ada dalam tanah.
Puasa menyadarkan kita, bahwa jiwa inilah yang terpenting. Ruh inilah yang tetap ada dan bakal mendapatkan balasan. Nabi berasabda:
إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ، ولا إِلى صُوَرِكمْ ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم. (رواه مسلم)
“Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh kamu dan juga tidak melihat kepada rupa-rupa kamu. Tetapi Allah melihat kepada hati kamu dan amal perbuatan kamu.” (Hr. Muslim)
Ketujuh, kita sadar bahwa semua kenikmatan dunia hanyalah sementara, tanpa Agama adalah sia-sia bahkan membawa celaka. Yang kaya di dunia ini sementara. Yang sehat juga sementara. Yang cantik, sementara. Yang muda, sementara. Pejabat, sementara. Dan semua itu menjadi sia-sia, bahkan manjadi sumber mala petaka, bila tidak dilandasi dengan Agama yang baik. Betapa banyaknya yang kaya akhirnya menderita karena tak memegang teguh Agama. Betapa banyaknya pejabat tinggi yang akhirnya jatuh hina karena tidak istiqamah. Betapa banyak rumah tangga menjadi berantakan setelah ekonomi meningkat sementara iman menurun.
Inilah puasa menyadarkan kepada kita bahwa peningkatan materi duniawi yang tak diiringi dengan peningkatan keimanan dan ketaqwaan, hanyalah mempercepat penderitaan. Maka pembangunan fisik saja tanpa dilandasi dan iringi dengan ketaatan dalam beragama, maka itu tidak akan membuahkan kemakmuran, tapi justru mempercepat kehancuran. Allah berfirman:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16)
Kedelapan, kita sadar bahwa kesulitan membawa kemudahan. Perjuangan membawa kemenangan. Puasa mendatangkan hari raya. Inilah kaidah penting yang harus kita camkan. Siapa saja yang ingin sukses, tidaklah mungkin tidak menghadapi kesulitan. Tak ada orang yang sukses tanpa perjuangan. Siapa yang hanya perpangku tangan, maka cukuplah udara hampa yang didapatkan. Puasa mengajarkan kita semua, tak mungkin bisa merasakan nikmatnya berbuka dan hari raya kecuali yang telah berpuasa dengan baik.
Wahai anak-anak dan para pemuda. Yang yatim dan yang papa. Yang sedang sakit dan yang lemah. Jangan anggap kesulitan itu rintangan. Sesungguhnya kesulitan adalah tangga manis untuk mengantarkan kesuksesan. Allah berfirman:
“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Al-Insyrah: 5-8)
Kesembilan, kita sadar bahwa dalam hidup ini hendaknya saling cinta mencintai. Puasa telah mengajarkan kita empati dan berbagi terhadap sesama. Kita berpuasa tapi ada makanan untuk berbuka. Kita berpuasa tapi hanya dalam hitungan beberapa jam saja. Ada di antara kita yang berpuasa tapi tak ada makanan untuk berbuka dan tanpa batas waktu karena memang tak ada. Itulah maka semuanya kita di akhir Ramadhan diwajibkan menuanaikan zakat fitrah, untuk kaum fakir dan miskin.
Jadi puasa mengajarkan kita semua untuk saling berbagi dan cintai mencintai. Nabi bersabda:
لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤمِنُوا ، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا ،. (رواه مسلم)
“Tidaklah kamu masuk Surga sehingga kamu beriman kepada Allah, dan tidaklah kamu beriman sehingga kamu saling cinta mencintai.” (Hr. Muslim)
Kesepuluh, kita sadar bahwa Allah sangat mencintai kita semua. Kepadahamba-hamba-Nya yang beriman ini. Ummat Nabi Muhammad Saw..
Allah menganugerahkan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah membuka pintu-pintu Surga. Allah telah menutup semua pintu neraka. Syetan pun dibelenggu. Pahala dilipatkan gandakan dengan melimpah ruah. Lailatul qadar yang lebih baik daripada seribu bulan telah dianugerahkan. Inilah kecintaan Allah kepada kita ummat Nabi Muhammad yang beriman.
Tinggal apakah kecintaan Allah ini kita balas dengan ketaatan atau kedurhakaan. Betapa buruknya bila kecintaan ini kita balas dengan kemaksiatan. Betapa buruknya bila panggilan-Nya yang penuh dengan kecintaan ini kita sambut dengan pura-pura tidak mendengar. Betapa buruknya, bila hari haya yang penuh berkah (bergemuruh takbir, tahlil dan tahmid ini) lalu kita susul dengan pesta dosa. Betapa buruknya, bila kita kumpul bersuka cita sekarang di sini shalat idul fitri, tapi besok pagi tak lagi kita tak mampu melangkahkan kaki ke masjid untuk shalat subuh dan shalat-shalat lainya. Betapa buruknya, bila di bulan Ramadhan masjid ramai, tapi setelah itu kembali sepi dan sunyi. Ya Allah ampuni kami.. ya Allah kami mohon cinta-Mu…
Allahu akbar 3x walillahilhamd..
Ya Allah, betapa indah Ramadhan yang Engkau anugerahkan kepada kami. Telah membuat kami semua memiliki kesadaran yang penuh. Sehingga dengan Ramadhan kami merasakan ketentraman, kenikmatan dan kebahagian. Ibadah mudah kami lakukan. Masjid-masjid penuh dengan para jama’ah yang shalat, berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Tapi kini, Ramadhan yang penuh berkah itu telah pergi.
Ma’asiral Muslimin rahimakumullah.. Betapa cepat Ramadhan berlalu. Betapa indah kenangan yang ditinggalkannya. Rasanya baru kemarin datang, tapi kini telah meninggalkan kita semua. Dan, tak mungkin kita minta kembali lagi. Memang Ramadjhan pasti akan datang lagi di tahun depan. Tapi, apakah kita masih hidup? Wallahu a’lam. Ajal bisa kapan saja datang. Tak pandang yang tua maupun yang mudah. Yang sakit maupun yang sehat. Yang miskin atau yang yang kaya. Yang susah maupun yang sedang pesta. Tak ada yang bisa lari dan tak ada yang bisa sembunyi dari kematian ini. Allah berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh..’ (An-Nisa’: 78)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)
Allahu akbar 3x wa lillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..
Mari kita bershalawat buat Nabi Muhammad. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga beliau, sahabat beliau dan ummat beliau yang setia hingga akhir zaman.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَناَ وَلِوَالِدِيْناَ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمينَ وَالْمُسْلِماتِ اَلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua, guru-guru kami, dan saudara-saudara kami, kaum Muslimin semua, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Ya Allah, hanya kepada-Mu, kami mengabdi. Hanya kepada-Mu, kami shalat dan sujud. Hanya kepada-Mu, kami menuju dan tunduk. Kami mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Mu. Kami takut adzab-Mu, karena adzab-Mu sangat pedih.
Ya Allah, jagalah kami dengan Islam dalam keadaan berdiri. Ya Allah, jagalah kami dengan Islam dalam keadaan duduk dan jagalah kami dengan Islam dalam keadaan tidur. Jagalah kami dengan Islam saat kami sehat maupun saat kami sakit. Jangan cabut nyawa kecuali kami dalam kondisi beragama Islam dan husnul khatimah.
Ya Allah, Engkau yang menyelamatkan nabi Nuh dari taufan badai dan banjir yang menenggelamkan dunia, Engkau yang menyelamatkan nabi Ibrahim dari kobaran api menyala, Engkau yang menyelamatkan Isa dari salib kaum durjana, Engkau yang menyelamatkan Yunus dari gelapnya perut ikan, Engkau yang menyelamatkan Nabi Muhammad dari makar kafir Quraisy, Yahudi pendusta, munafik pengkhianat, pasukan Ahzab angkara murka. Ya Allah, hancurkanlah orang-orang yang tak suka dengan Agama-Mu, yang menghina Kitab-Mu, Yang mempermainkan Syari’at-Mu.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang sedang berjuang di Palestina. Selamatkan mereka, kaum wanita dan anak-anak mereka. Ya, Allah hancurkan pasukan Yahudi Zionis yang telah berbuat kerusakan di sana dan bangsa-bangsa lainya yang telah menyokong dan membantu mereka. Ya, Allah amankan dan selamatkan Masjidil Aqsha.
Ya Allah persatukanlah kami kaum Muslimin, untuk mengamalkan dan menegakkan Agama-Mu. Dan, karuniakanlah kepada kamu keberkahan dari langit dan bumi. Jangan biarkan kami bercerai-berai.
Laa ilaaha illa anta subhanaka innaa kunnaa minadhdhaalimiin…3X
Ya Allah, yang mendengar rintihan hamba lemah dan banyak dosa. Ya Allah, lindungi kami, masyarakat kami, dan anak-anak kami dari berbuat dosa dan godaan Syetan. Jangan segera Engkau lenyapkan hari yang suci ini. Berikanlah waktu kepada kami. Kami masih ingin bertemu dengan bulan Ramadhan lagi. Kami masih ingin shalat ‘Idul Fitrikembali. Ya Allah, jangan biarkan orang-orang yang sengaja merusak kesucian ‘Idul Fitri dengan pesta dosa dan kemaksiatan. Yang membuat masyarakat kami rusak dan anak-anak kami hancur. Ya Allah, jauhkan mereka dari kami.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang sedang dilanda kesedihan, dan musibah, para janda, anak-anak yatim, kaum lemah, dan para fakir-miskin. Sembuhkan yang sakit. Tolong dan lindungi mereka yang ditimpah musibah. Anugerahkan kebahagiaan kepada mereka. Siramilah mereka dengan rizki yang melimpah dari sisi- Mu yang penuh berkah. Kami lemah tak begitu berdaya membantu dan meyantuni mereka. Ampuni kami, ya Allah.
Ya Allah, kumpulkanlah hati-hati kami di atas dasar kecintaan kepada-Mu, pertemukanlah di jalan ketaatan kepada-Mu, satukanlah di jalan dakwah-Mu, dan ikatlah di atas janji setia demi membela syari’at-Mu. Ya Allah, padukanlah jiwa-jiwa ini sebagai hamba-hamba-Mu yang beriman dan bertaqwa.
Ya Allah, lepaskanlah dan jauhkanlah dari kami penguasa-penguasa zhalim, fasik, dan kafir. Anugerahkan kepada kami pemimpin-pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur dan amanah, yang menjadikan Kitab-Mu sebagai landasan kepemimpinannya, menerapkan Syariat-Mu, dan membawa kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhai.
Ya Allah, selamatkanlah kami, anak-anak kami, keluarga kami, daerah kami, negeri kami, dan umat kami dari badai krisis, fitnah, bencana, dan dosa yang membinasakan.
Ya Allah, janganlah Engkau goyangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk dan tetapkankan hati kami di atas agama-Mu.
Ya Allah, jadikanlah hari terbaik kami sebagai hari pertemuan kami dengan-Mu, jadikanlah amal terbaik kami sebagai pamungkasnya, dan jadikan usia terbaik kami sebagai akhir ajal kami. Ya Allah, limpahkanlah rahmat, ampunan, dan hidayah-Mu kepada kami semuanya. Aamiin..aamiin ya Rabbal ‘alamin..
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ,
وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين,
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِي
نَ

Khutbah Idul Fitri Tolak Ukur Keberhasilan Ramadhan

Assalamu'alaikum Wr.Wb.


Alhamdulillah, kiranya para hamba Allah di pagi hari ini mempunyai dua perasaan yang berbeda yang mungkin bertolak belakang. Di satu sisi gembira karena baru saja selesai malakukan ibadah puasanya selama sebulan penuh; kita puasa disiang hari untuk mendirikan shalat malam (tarawih) membaca kitab suci Al-Quran dan berbagai bentuk ibadah lainnya. Nabi Mohammad saw bersabda:

“Barang siapa melakukan puasa di siang hari pada bulan Ramadhan karena dorongan iman dan karena mengharap pahala dari Allah, maka Allah swt akan memberikan ampunan atas segala dosanya dimasa yang lalu. Barang siapa yang mendirikan shalat di malam hari di bulan Ramadhan karena dorongan iman dan mengharap pahala dariNya, Allah swt akan memberi ampunan atas segala dosanya dimasa yang lalu.”

Dilain pihak, saudara-saudara sekalian, mungkin kita pula khawatir sebab kita telah banyak melakukan banyak kegiatan ibadah selama bulan puasa, tapi kita ternyata tidak mendapat apa-apa dari bulan puasa itu. Sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda: “Banyak orang yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, tapi mereka tidak dapat apa-apa kecuali hanya lapar dan dahaga. Banyak orang yang melakukan shalat Tahajud dimalam bulan Ramadhan, tapi mereka tidak dapat apa-apa kecuali rasa mengantuk.

Saya yakin bahwa setiap orang Islam sadar bahwa semua bentuk ibadah-ibadah ritual dalam Islam memiliki dampak-dampak sosial (social impact). dalam kehidupan kita, termasuk tentunya puasa di bulan Ramadhan. Puasa sendiri mempunyai kedudukan yang khusus dalam islam. Seperti halnya Allah berfirman dalam Al-Qur'an: Allah swt secara langsung menghubungkan antara keimanan sesorang dengan ibadah puasanya, tapi tidak dengan shalat, ibadah haji, ataupun zakat. Kenapa Allah swt menempatkan kedudukan ibadah puasa mempunyai hubungan langsung dengan Iman kita, ini menunjukan bahwa ibadah puasa adalah suatu ibadah yang mempunyai hubungan pribadi antara Allah swt dengan umatNya. Sabda Nabi Muhammad saw dalam hadits Qudsi:

“Semua kegiatan amal ibadah sudah diturunkan lewat semua keturunan Nabi Adam saw kecuali puasa, sebab puasa hanyalah untukKU, dan akan saya beri pahalanya langsung nanti dihari kemudian. Inilah janji Allah swt.”

Itulah sebabnya saudara-saudara sekalian, tujuan utama dari puasa adalah untuk meningkatkan rasa taqwa yang lebih tinggi kepada Allah swt. Dan taqwa adalah level yang tertinggi dari karakter manusia, sebagai sarana menuju kepada kemuliaan yang tertinggi didalam masyarakat. Sebagaimana Allah swt katakan dalam Al-Qur'an: "Yang termulia di antara kalian disisi Allah swt adalah yang paling bertaqwa. Nabi Muhammad saw juga bersabda: Tiada kelebihan suku/bangsa Arab di atas suku/bangsa yang bukan suku bangsa Arab, dan tiada superioritas non Arab di atas Arab kecuali dengan ketaqwaan semata. Kalau hal ini kita tarik dalam kenyataan hidup kita saat ini, maka tiadalah superioritas orang perorang atau bangsa tertentu kecuali dengan ketakwaan semata.

Ada beberapa indikasi keberhasilan puasa yang telah kita lakukan:

Pertama: Meningkatkan keikhlasan.

Sebagaimana saya katakan tadi bahwa ibadah puasa adalah suatu ibadah yang sangat personal sifatnya antara seorang hamba dengan Allah swt. Untuk itu, puasa sudah seharusnya melahirkan prilaku iklhlas yang tinggi dalam diri seorang hamba. Bahwa sungguh hidupnya, ibadahnya, segala pengorbanannya dan bahkan matinya hanya untuk Allah semata. Prilaku ikhlas ini akan menghindarkan seseorang dari "kesyirikan" halus, termasuk kesyirikan kejiwaan, di mana seseorang terkadang mencita, membenci bukan lagi karena Allah tapi demi seseorang. Padahal, Rasulullah menggariskan bahwa prasyarat untuk mendapatkan cinta Allah adalah karena mencintai dan atau membenci karena Allah semata. Jadi dengan melakukan ibadah puasa itu keikhlasan kepada Allah swt akan semakin bermutu.

Kedua: Tumbuhnya Rasa Muraqabatullah

Kita yakin bahwa Allah swt mengetahui dan melihat segala hal yang kita lakukan. Sesungguhnya tiada yang tersembunyi dari Allah SWT. Allah swt mempunyai kemampuan segala-galanya, Allah swt mengawasi tindak tanduk kita. Mungkin contoh Umar dapat menjadi tauladan bagi kita, bahwa suatu ketika beliau sedang melakukan inspeksi di saat beliau menjabat sebagai khalifah, menemukan seorang ibu yang seolah sedang memasak dengan kobaran api yang besar. Sementara anak-anaknya di sekelilingnya pada menangis. Beliau mendekat dan menanyakan, apa gerangan yang terjadi. Maka serta merta, sang perempuan yang tidak sadar kalau yang hadir disampingnya adalah Khalifah, mencaci dan mengutuk Khalifah Umar. Khalifah, menurut perempuan itu, tidak bertanggung jawab, tidak punya perhatian sehingga kami kelaparan. Kami tidak memiliki apa-apa untuk di masak. Umar bertanya: "Lalu masak apakah kamu?" Perempuan itu menjawab:

"Saya merebus batu-batu dengan api ini agar anak-anak saya terhibur". Mendengar jawaban itu, segera Umar kembali ke "baitul maal" mengambil sekarung gandum dan beberapa lauk pauk. Karung itu digendong sendiri, sehingga beberapa sahabat yang menemuinya di jalan berkeinginan agar karung itu diambil dari sang Kahlifah. Namun dengan tegas Umar menjawab: "Tidak, di hari kiamat nanti, anda tidak mungkin mengambil dariku dan memikul tanggung jawab ini".

Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan oleh Allah SWT

Umar membawa gandum tersebut ke perempuan, lalu dimasakkannya, dan kemudian disuapinya anak-anaknya. Setelah semua itu dilakukan, segera perempuan itu dengan rasa malu bertanya: "Siapa gerangan engkau?". Umar menjawab: "Saya adalah orang yang engkau katakan tidak bertanggung jawab tadi. Saya melakukan ini karena mungkin apa yang engkau katakan tadi adalah betul. Untuk itu, mohon maaf dan semoga Allah mengampuniku karena kelalaianku".

Itulah kiranya prilaku seorang pemimpin yang punya "sense of Muraqabatullah". Dia akan merasa bertanggung jawab, tidak saja kepada rakyatnya tapi lebih penting adalah kepada Allah SWT diakhirat nanti. Bahkan sejak itu, Umar mengeluarkan pernyataan yang dicatat oleh sejarah: "Seandainya ada seekor keledai mati karena kelaparan di daerah Palesitina, maka aku akan bertanggung jawab di akherat nanti".

Kisah lain tentang Umar adalah suatu ketika beliau pernah melakukan perjalanan dari Madinah ke Makkah. Di tengah jalan beliau bertemu dengan seorang pemuda yang miskin, penggembala kambing. Umar mencoba ke-amanahan pemuda yang miskin, tidak terdidik, dan bahkan hidup di tengah kampung tiada jauh dari kebisingan kota. Umar berkata kepadanya: "Maukah anda menjual satu dari kambingmu yang banyak itu?". Pemuda dengan tegas menjawab: "Saya bukan pemilik kambing-kambing itu. Saya hanya penggembala". Oleh Umar dicoba: "Katakan saja kepada tuanmu kalau seeokor srigala telah datang memakannya". Tapi dengan sangat tegas pemuda itu menjawab: "Faenallah" (lalu di mana Allah). Umar menangis dengan ketegasan pemuda itu, dan keesokan harinya beliau menemui tuannya dan dibelinya kambing itu sehingga pemuda itu bisa dibebaskan dari perbudakan. Inilah seorang pemuda yang memiliki "sense of Muraqabatullah", yaitu rasa perasaan yang senanatiasa diawasi oleh Allah Yang maha Tahu dan Melihat.

Khutbah Idul Fitri Terbaru Tolak Ukur Keberhasilan Ramadhan

Saudara-sudara sekalian, kisah Umar r.a ini dapat kita jadikan barometer dari sukses tidaknya kita meraih makna puasa di masa-masa mendatang. Kalau semangat untuk untuk jujur semakin meningkat, semangat untuk takut karena ada "Being" yang selalu mengawasi walau tanpa inspektor dari manusia, maka puasa telah membawa makna positif dalam kehidupan kita. Jika tidak, maka berarti kita telah gagal untuk meraih buah moral dari puasa Ramadhan lalu.

Ketiga: Tumbuhnya Kepedulian Sosial

Puasa adalah "riyadhah mubasyarah" (latihan langsung) untuk merasakan kepedihan dan rintihan mereka yang kurang beruntung. Kita lapar, kita dahaga, dan bahkan kita kurang tidur, semua itu melatih kita untuk menumbuhkan rasa kepedualian terhadap berbagai ketidak beruntungan hidup yang ada di sekitar kita. Islam menghendaki setiap seorang muslim untuk mengembangkan keimananya secara pribadi, kita dituntut untuk menjadi manusia yang sholeh secara individu. Tapi pada saat yang sama, Allah tidak menghendaki kita menjadi seorang muslim yang egois. Kesalehan individu tidak pernah cukup untuk dianggap menjadi kesalehan yang sempurna dalam Islam. Oleh sebab itulah maka didalam Al-Qur'an Allah memberikan contoh bagaimana Askhabul Kahfi ketika mereka berada dalam gua. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya kami menyembah hanya Tuhan yang satu, yang meng indikasikan bahwa setiap individu diantara mereka mengembangkan keimanan yang kuat, personal righteousness. Tapi pada saat yang sama mereka juga mengatakan: "Mereka itu kaumku, telah menjadikan sembahan-sembahan selain Allah".

Artinya, seorang Muslim selain dituntut untuk menjadi hamba yang saleh secara individu, juga dituntut untuk selalu "resah" (peduli) dengan berbagai ketidak salehan yang ada di sekitarnya. Dan dalam persepsi saya, ketidak salehan yang cukup meresahkan umat saat ini adalah "kebodohan dan kemiskinan". Untuk itu, puasa seharusnya mempertajam jiwa kita yang harus resah dengan penderitaan sesama Muslim di sekeliling kita. Rasulullah saw mengatakan dalam haditsnya: "Tidak beriman diantara kalian, pada saat kalian tidur nenyak karena kenyang , sementara tetangganya tidak bisa tidur karena kelaparan". Seandainya kita menengok sekali lagi, dengan semangat salaam atau keinginan untuk menebarkan "kesejahteraan" kepada siapa saja di sekeliling kita (terutama di Indonesia), kita dapatkan betapa banyak tetangga kita yang kelaparan. Puasa yang kita lakukan ini seharusnya melahirkan suatu "Sense of Ulfah", suatu perasaan trenyuh/iba hati terhadap kemiskinan yang diderita oleh saudara-saudara kita.

Sebagaimana saya katakan tadi, ada dua beban berat yang dialami oleh saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia saat ini; Ignorence (Al-jahal) dan Poverty (al Faqr). Dalam ini, Rasulullah saw sejak 15 abad yang lalu telah mengingatkan: "Hampir saja kefakiran itu membawa kepada kekufuran". Akibatnya, betapa di bulan Ramadhan sekalipun masih ada Saudari-Saudari seiman kita ada yang melacurkan diri hanya karena tuntutan sesuap nasi. Oleh sebab itulah saudara saudara sekalian, kita dapati bahwa betapa ada orang-orang Islam yang murtad karena dua ini; miskin dan bodoh. Sementara di di negara-negara majud seperti AS ini, orang masuk Islam karena makmur dan pintar. Mereka belajar Islam dan alhamdulilah mereka confinced dengan kebenaran Al Islam. Kejadian di negara-negara Islam inilah adalah pembuktian bahwa betapa kemiskinan sudah menjadi alat kekafiran di berbagai negara Islam, termasuk negara kita tercinta.

Anehnya, umat islam seringkali lalai dari situasi ini. Bahkan terkadang in the name of islam, in the name of obedience, justeru kita melanggar ajaran mendasar dari ajaran agama kita. Kita masih sering mendengar kalau wanita Islam tidak perlu ke masjid mendengar ceramah atau belajar agama karena nanti menjadi fitnah? Memang betul, perlu aturan-aturan dan adab-adab di masjid kita, tapi melarang perempuan ke masjid karena alasan fitnah justeru semakin menjadi fitnah. Pertama, karena orang lain akan melihat justifikasi tuduhan bahwa Islam diskriminatif terhadap kaum wanita. Kedua, mereka adalah the first hands to handle our generation. Kalau mereka tidak tahu, apa yang akan mereka ajarkan kepada anak-anak kita? Untuk itu, kita harus benar jeli dalam melihat, mana ajaran Islam yang sesungguhnya dan mana kultur setempat yang terkadang dianggap ajaran mendasar dari adama kita. Sebab jika tidak, kita akan terperangkap dalam sikap yang justeru merugikan ajaran Islam tapi kita merasa memperjuangkannya. Saudara-saudara sekalian, dalam S. Al A'raf Allah mengaskan bahwa Rasul yang "ummy" (Rasulullah SAW) punya tugas utama dalam tiga hal yang menjadi kewajiban kita mengikutinya:

Amar ma'ruf-nahi mungkar (ya'muruhum bil ma'ruuf wa yanhahum 'anil munkar)

Untuk tugas pertama ini, al-hamdulillah, telah banyak yang berupaya untuk mengikutinya. Di genara kita tercinta, banyak bintang film sekalipun yang kemudian menjadi da'i. Saya rasa patut disyukuri karena semakin banyak berda'wah tentu akan semakin baik. Toh togas da'wah itu bukan hanya tugas para kyai dan ustadz.

Halal-Haram (Yharrimu 'alaehil Khabaaits)

Menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang tidak baik. Artinya, sudah pasti apa yang dilarang oleh Allah itu tidak baik, walau kita diberikan hak untuk mencari tahu kenapa dilarang. Tapi kalau keinginan untuk tahu itu justeru menjadikan kita ragu, maka sungguh sudah snagat tidak masuk akal. Tugas kedua Rasul ini harus kita ikuti dalam upaya menjadi Muslim yang bersih. Makanan, minuman, atau apa saja, seharusnya jelas mana yang halal dan haram. Jangan sampai main hantam kiri kanan, sehingga aturan halal dan haram terabaikan.

Meringankan beban dan kesulitan (yadha'u anhum Ishrahum wal Aghlaal)

Jelas bahwa beban utama umat ini adalah "kebodohan dan kemiskinan". Seharusnya telah menjadi kewjiban kita untuk meringankan beban ini. Tidak saja dalam bentuk jangka pendek, berupa sadaqah, infaq, dll. Tapi perlu upaya sistimatis untuk membangunkan perekonomian umat yang kuat. Sayang bahwa sebagian ulama masih sibuk berkelahi dengan masalah-masalah khilafiyah, sementara umat menderita siang malam dan hampir saja dimurtadkan oleh keadaan menyedihkan itu. Saya jusetru yakin bahwa di Akhirat nanti, jika ditanya tentang keadaan umat kita saat ini, kita tidak mungkin menjawab bahwa kami ya Allah sibuk melakukan dzikir dan tasbih. Atau karena kesibukan kita membaca wirid dan bahkan kesibukan kita shalat malam. Apakah kita bisa merasakan tanggung jawab ini? Ataukah setelah keluar Ramadhan justeru kita semakin merasa terjamin masuk syurga, sementara saudara-saudara kita strugling untuk bisa hidup?

Keempat: Keseimbangan Hidup

Saudara-saudara sekalian, puasa seharusnya melahirkan prilaku hidup yang bertawazun (balance of life). Kehidupan yang tidak imbang akan melahirkan beberapa bahaya:

Betapa tidak, banyak orang lalai akan mati hanya karena terlalu cinta dalam kehidupan ini.
Menjadikan kezaliman-kezaliman dalam hidup, termasuk zalim pada diri sendiri.
Terjadi pengingkaran terhadap Allah swt.

Kelima: Sukses dengan Laelatul Qadr

Indikasi terakhir berhasil tidaknya puasa kita Ramadhan ini adalah, mampukah kita keluar dari Ramadhan ini dengan "laelatul Qadr?". Mampukah kita keluar dengan kekuatan malam itu? Tapi apakah kekuatan malam itu? Apakah shalat sunnah kita? Apakah dzikir kita? Sebenarnya jawaban yang paling tepat adalah kita keluar dengan sebuah "means of power" yang didatangkan pada malam itu, dan itulah dia Al-Qur'an. Maka seharusnya umat Islam, setelah berakhirnya Ramadhan ini kembali melakukan "empowering" dengan kekuatan Al Qur'an. Kita maju, kuat dengan Al Qur'an. Umat ini hanya bisa maju, sukses, bahagia dengan petunjuk Allah SWT. Sebaliknya, umat ini tidak akan pernah maju, sukses, bahagia dengan mengabaikan Al Qur'an.

Sayang terkadang kita memahami laelatul Qadr dengan hanya shalat tahajjud sebanyak-banyaknya, dzuikir sepanjang-panjangnya, shalat tasbih, dan berbagai bentuk ibadah lainnya. Sementara konten dari Laelatul Qadr berupa Al Qur'an kita abaikan. Semoga laelatul Qadr kali ini, tidak saja telah menyibukkan kita dengan berbagai ritual tadi, tapi juga telah memotivasi kita untuk mendalami Al Qur'an, elemen yang seusungguhnya menjadikan malam itu mulia.

Saudara-Saudara sekalian, demikian lima poin indikator keberhasilan puasa kita. Kalau satupun dari lima ini belum ada pada diri kita di masa mendatang, tentu kita patut menyesal sekaligus berharap semoga kita masih hidup di masa depan, sehingga kita bisa semakin meningkatkan kwalitas ibadah kita. Semoga puasa kita diterima dan semoga dosa-dosa kita telah diampuni olehNya. Amin!

“Selamat hari Raya saudara-saudar sekalian, Minal 'Idin wal faidzin.”
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.


Penulis: M. Syamsi Ali adalah seorang muslim anggota ISNET yang tinggal di New York

Khutbah Idul Fitri Terbaru 2015 M / 1436 H

PESAN DAN KESAN RAMADHAN YANG HARUS DIPEGANGTEGUH BERSAMA

KHUTBAH PERTAMA

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ اللهُ اَكْبَرْكُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْوَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ. اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اللهُ اَكْبَرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jama'ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Sejak tadi malam telah berkumandang alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Rasulullah SAW bersabda:
زَيِّنُوْا اَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيْر

Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”

Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT sedangkan selain Allah semuanya kecil semata. Kalimat tasbih dan tahmid, kita tujukan untuk mensucikan Tuhan dan segenap yang berhubungan dengan-Nya.

Tidak lupa puji syukur juga kita tujukan untuk Rahman dan Rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hambanya. Sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita bahwa Dia lah Dzat yang maha Esa dan maha kuasa. Seluruh alam semesta ini tunduk dan patuh kepada perintah-Nya.

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah 

Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan atas karunia-Nya pada hari ini kita dapat berhari raya bersama, maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfiroh-Nya sebagaimana yang tersurat dalam sebuah hadis Qudsi:

اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلىَ عِيْدِكُمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالىَ: يَا مَلاَئِكَتِى كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ اُجْرَهُ اَنِّى قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَيُنَادِى مُنَادٌ: يَا اُمَّةَ مُحَمَّدٍ اِرْجِعُوْااِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِى صُمْتُمْ لِى وَاَفْطَرْتُمْ لِى فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ
Artinya: “Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya kamu sekalian maka Allah pun berkata: 'Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajian dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka'. Sesorang kemudian berseru: 'Wahai ummat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan'. Kemudian Allah pun berkata: 'Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbuka untukku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.” 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ
Jama`ah Idul Fithri yang berbahagia

Seiring dengan berlalunya Bulan suci Ramadhan. Banyak pelajaran hukum dan hikmah, faidah dan fadhilah yang dapat kita petik untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang akan datang. Jika bisa diibaratkan, Ramadhan adalah sebuah madrasah. Sebab 12 jam x 30 hari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, semula sesuatu yang halal menjadi haram. Makan dan minum yang semula halal bagi manusia di sepanjang hari, maka di bulan Ramadhan menjadi haram. 

Tapi setelah semua cobaan yg kita lewati pernahka kita memperhatikan aspek social Ramadhan, semua orang pernah merasa kenyang tapi tidak semuanya pernah merasakan lapar.

Lihatlah diri kita, bukankah seringkali kita merasa paling besar, gumedhe, jumawa seolah-olah semua manusia kecil dan harus takluk dihadapan kita. Kita berlagak seolah kita adalah Tuhan yang kuasa atas segala keadaan. Tidakkah kita sadar, bahwa kita sesungguhnya tidak lain adalah makhluk yang sangat-sangat lemah, maka kepada siapa lagi kita berharap selain kepada Allah swt yang telah menciptakan kita dan dengan kasih saying Allahlah kita diberi kesempatan menikmati hidup di dunia milik Allah ini.

Maka apa sesungguhnya yang menahan kaki kita tidak mau melangkah ke masjid ?
Apakah yang menahan kepala kita sehingga tidak mau menunduk ke tanah bersujud di hadapan Allah ?
Apakah yang menahan lidah kita sehingga kaku dan kelu mengucapkan dzikir dan takbir ??
Apakah yang menahan hati kita sehingga sulit merindukan Allah ?
Apakah yang menahan pikirankita sehingga tidak mendambakan surga ?
Apakah yang mendorong jiwa kita sehingga cenderung ke neraka ?

Apakah yang menahan diri kita sehingga mengabaikan hak-hak Allah dan cenderung memperturutkan hawa nafsu padahal hawa nafsu itu mendorong kepada kejelekan

Apakah kesombongan kita sudah demikian memuncak, sehingga sedemikan lantang kita durhaka kepada Allah. Na’udzu billah min dzalik…

Ma’syiral muslimin rahimakumullah…

Berbahagialah kita karena hingga saat ini kita dimudahkan oleh Allah untuk bersujud, rukuk, dihadapan Allah. Janganlah karena perilaku kita yang menetang Allah menjadikan Allah semakin murka kepada kita. Janganlah karena kesombongan dan kebodohan kita menjadi sebab terhalangnya kita dari jalan surga dan menghalangi kita mendekati Allah swt. Maka bersyukur kepada Allah atas segala karunia ini. Karunia iman dan islam. Apalah artinya kesenangan sesaat di dunia tapi membawa penyesalan berkepanjangan di akherat kelak.

Apakah selepas ramadhan semakin dekat dengan Islam ataukah justru semakin jauh ?? hanya diri kita sendiri yang nanti akan membuktikan.
Oleh karena itu, ada tiga pesan dan kesan Ramadhan yang sudah semestinya kita pegang teguh bersama susudah Ramadhan yang mulia ini. 

Pesan pertama Ramadhan adalah Pesan moral atau Tahdzibun Nafsi

Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Rasulullah SAW bersabda: Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri. Di dalam kitab Madzahib fît Tarbiyah diterangkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat nafsu/naluri sejak ia dilahirkan. Yakni naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit untuk dikendalikan dan dibersihkan adsalah naluri Syahwat.

Hujjatul Islam, Abû Hâmid al-Ghazâlî berkata: bahwa pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan. Pertama, sifat kebinatangan (بَهِيْمَةْ); tanda-tandanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu. Kedua, sifat buas (سَبُعِيَّةْ) ; tanda-tandanya banyaknya kezhaliman dan sedikit keadilan. Yang kuat selalu menang sedangkan yang lemah selalu kalah meskipun benar. ketiga sifat syaithaniyah; tanda-tandanya mempertahankan hawa nafsu yang menjatuhkan martabat manusia.

Khutbah Idul Fitri Terbaru setelah ramadhan

Jika ketiga tiga sifat ini lebih dominan atau lebih mewarnai sebuah masyarakat atau bangsa niscaya akan terjadi sebuah perubahan tatanan social (keadaan masyarakat) yang sangat mengkhawatirkan. Dimana keadilan akan tergusur oleh kezhaliman, hukum bisa dibeli dengan rupiah, undang-undang bisa dipesan dengan Dollar, sulit membedakan mana yang hibah mana yang suap, penguasa lupa akan tanggungjawabnya, rakyat tidak sadar akan kewajibannya, seluruh tempat akan dipenuhi oleh keburukan dan kebaikan menjadi sesuatu yang terasing, ketaatan akhirnya dikalahkan oleh kemaksiatan dan seterusnya dan seterusnya.

Sedangkan satu-satunya sifat yang membahagiakan adalah sifat rububiyah (رُبُوْبِيَّةْ); ditandai dengan keimanan, ketakwaan dan kesabaran yang telah kita bina bersama-sama sepanjang bulan Ramadhan. Orang yang dapat mengoptimalkan dengan baik sifat rububiyah di dalam jiwanya niscaya jalan hidupnya disinari oleh cahaya Al-Qur'an, prilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah). Selanjutnya, ia akan menjadi insan muttaqin, insan pasca Ramadhan, yang menjadi harapan setiap orang. Insan yang dalam hari raya ini menampakkan tiga hal sebagai pakaiannya: menahan diri dari hawa nafsu, memberi ma`af dan berbuat baik pada sesama manusia sebagaimana firman Allah:

وَاْلكَاظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَاْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِيْنَ

"…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali Imran: 134)

Jama`ah Idul Fithri yang berbahagia

Pesan kedua adalah pesan social

Pesan sosial Ramadhan ini terlukiskan dengan indah. Indah disini justru terlihat pada detik-detik akhir Ramadhan dan gerbang menuju bulan Syawwal. Dimana, ketika umat muslim mengeluarkan zakat fithrah kepada Ashnafuts Tsamaniyah (delapan kategori kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat), terutama kaum fakir miskin tampak bagaimana tali silaturrahmi serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi dan tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan. Semangat zakat fitrah ini melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta`awun) antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan, sejalan hatinya sebab كُلُّكُمْ عِيَالُ اللهِ , kalian semua adalah ummat Allah. 

Dalam kesempatan ini orang yang menerima zakat akan merasa terbantu beban hidupnya sedangkan yang memberi zakat mendapatkan jaminan dari Allah SWT; sebagaimana yang terkandung dalam hadis Qurthubi:


اِنّىِ رَأَيْتُ اْلبَارِحَةَ عَجَاً رَأَيْتُ مِنْ اُمَّتِى يَتَّقِى وَهَجَ النَّارَ وَشِرَرَهَا بِيَدِهِ عَنْ وَجْهِهِ فَجَائَتْ صَدَقَتُهُ فَصَارَتْ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

Artinya: "Aku semalam bermimpi melihat kejadian yang menakjubkan. Aku melihat sebagian dari ummatku sedang melindungi wajahnya dari sengatan nyala api neraka. Kemudian datanglah shadaqah-nya menjadi pelindung dirinya dari api neraka."

Jama'ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Pesan ketiga adalah pesan jihad

Jihad yang dimaksud di sini, bukan jihad dalam pengertiannya yang sempit; yakni berperang di jalan Allah akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang utuh, yaitu: 

بَذْلُ مَاعِنْدَهُ وَمَا فِى وُسْعِهِ لِنَيْلِ مَا عِنْدَ رَبِّهِ مِنْ جَزِيْلِ ثَوَابِ وَالنَّجَاةِ مِنْ اَلِيْمِ عِقَابِهِ

"Mengecilkan arti segala sesuatu yang dimilikinya demi mendapatkan keridhaannya, mendapatkan pahala serta keselamatan dari Siksa-Nya."

Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri kita sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang paling besar. Dengan demikian, jihad akan terus hidup di dalam jiwa ummat Islam baik dalam kondisi peperangan maupun dalam kondisi damai. Jihad tetap dijalankan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera serta bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah. 

Mengingat adanya aliran Islam yang mengkampanyekan jihad dengan senjata di negara damai Indonesia ini, maka perlu untuk ditekankan lebih dalam bahwa jihad seharusnya dilandasi niat yang baik dan dipimpin oleh kepala pemerintahan, bukan oleh kelompok atau aliran tertentu. Jangan sampai mengatasnamakan kesucian agama, akan tetapi tidak bisa memberikan garansi bagi kemaslahatan umat Islam. Islam haruslah didesain dan bergerak pada kemaslahatan masyarakat demi mencapai keridhaan Allah dan kemajuan ummat. Pengalaman pahit salah mengartikan jihad menjadikan Islam dipandang sebagai agama teroris. Padahal Islam sebenarnya adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin), agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kedamaian.

Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan adalah upaya mendukung terbangunnya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sehatera yang bersendikan pada ketaatan kepada Allah. Jihad untuk mengendalikan hawa nafsu dari seluruh hal yang dapat
merugikan diri kita sendiri, terlebih lagi merugikan orang lain. 

Jama`ah Sholat Idul Fitri rahimakumullah

رُوِىَ اَنَّ بَعْضَ الصَّحَابَةِ قَالُوْا يَا نَبِيَّ اللهِ لَوَدَدْنَا اَنْ نَعْلَمَ اَيَّ التِّجَارَةِ اَحَبُّ اِلَى اللهِ فَنَتَجَرُّ فِيْهَا فَنُزِلَتْ (يآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلىَ تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ. تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُجَاهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ اْلفَوْزُ اْلعَظِيْمُ)

"Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat mendatangi Rasulullah. Ketika berjumpa, salah seorang dari mereka berkata: "Wahai Nabi Allah, kami ingin sekali mengetahui bisnis apa yang paling dicintai oleh Allah agar kami bisa menjadikannya sebagai bisnis kami". Kemudian diturunkan ayat:

يآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلىَ تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ. تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُجَاهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ اْلفَوْزُ اْلعَظِيْمُ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar." (QS Ash-Shaff:10-12)

Dalam konteks sosial masyarakat kita saat ini, dimana masih banyak sektor sosial yang perlu pembenahan lebih lanjut. Maka makna jihad harus mengacu pada pengentasan masalah-masalah sosial. Oleh sebab itu, sudah selayaknya pada momentum lebaran saat ini, bukan hanya pakaian yang baru akan tetapi gagasan-gagasan baru juga harus dikedepankan untuk mengentaskan masalah-masalah sosial yang selama ini membelenggu kemajuan umat Islam Indonesia pada khususnya dan bangsa dan negara Indonesia pada umumnya.
اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama'ah Sholat Idul Fithri rahimakumullah

Demikianlah tiga pesan yang disampaikan oleh Ramadhan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini ke dalam bingkai kehidupan nyata. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturrahim serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى. جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَالللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ. اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

Allahu akbar 3x Laa Ilaha illallah Allahu Akbar Walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Akhirnya marilah kita berdoa, menundukkan kepala, memohon kepada Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim untuk kebaikan kita dan umat Islam dimana saja berada:

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ وَنَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ وَنَعُوْذُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ نَشْكُرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ.

Ya Allah, sesungguhnya kami memuji-Mu, meminta tolong kepada-Mu, dan memohon petunjuk dari-Mu, kami berlindung dan bertawakal kepada-Mu, kami memuji-Mu dengan segala kebaikan, kami bersyukur atas semua nikmat-Mu, kami tidak mengingkari-Mu, kami berlepas diri dari siapa pun yang durhaka kepada-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya untuk-Mu shalat dan sujud kami, dan hanya kepada-Mu kami berusaha dan bergegas, kami sangat mengharapkan rahmat-Mu dan takut akan siksa-Mu, sesungguhnya azab-Mu benar-benar ditimpakan kepada orang-orang kafir.

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ بِالإِسْلاَمِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالإِيْمِانِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالْقُرْآنِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِشَهْرِ رَمَضَانَ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْمُعَافَاةِ لَكَ الْحَمْدُ بِكُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيْنَا.

Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu atas nikmat Islam, nikmat Iman, nikmat Al-Qur’an, nikmat bulan Ramadhan, nikmat keluarga, harta dan kesehatan. Segala puji bagi-Mu atas semua nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami.

سُبْحَانَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ الْحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى وَلَكَ الْحَمْدُ إِذَا رَضِيْتَ.

Maha Suci Engkau, kami tidak akan sanggup menghitung dan membatasi pujian bagi-Mu. Keagungan-Mu hanya dapat diungkapkan dengan pujian-Mu kepada diri-Mu sendiri, segala puji hanya bagi-Mu (dari kami) sampai Engkau ridha (kepada kami) dan segala puji bagi-Mu setelah keridhaan-Mu.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ ونَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ya Allah, sampaikanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada hamba, nabi dan rasul-Mu Muhammad saw beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

Ya Allah, ampunilah kami dan ampuni pula kedua orang tua kami dan sayangilah mereka seperti kasih sayang mereka saat mendidik kami di waktu kecil.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri sendiri, jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan di hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman, ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِجَمِيْعِ مَوْتَى الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ شَهِدُوْا لَكَ بِالْوَحْدَانِيَّةِ وَلِنَبِيِّكَ بِالرِّسَالَةِ وَمَاتُوْا عَلَى ذَلِكَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُمْ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُمْ وَاغْسِلْهُمْ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِمْ مِنَ الذٌّنُوْبِ وَالْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَجَازِهمْ بِالْحَسَنَاتِ إِحْسَانًا وَبِالسَّيِّئَاتِ عَفْوًا وَغُفْرَانًا.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kaum mukminin yang telah wafat dan telah bersaksi atas keesaan-Mu dan kerasulan nabi-Mu (Muhammad saw) dan mereka meninggal dalam keadaan demikian. Ya Allah, ampuni dan rahmatilah mereka, maafkan semua kesalahan mereka, muliakan tempat tinggalnya, luaskan kediamannya, sucikan mereka dengan air, salju, dan embun, bersihkan mereka dari berbagai dosa dan kesalahan sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Dan balaslah amal kebaikan mereka dengan kebaikan pula, dan amal buruk mereka dengan maaf dan pengampunan.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

Ya Allah, bantulah kami dalam berdzikir dan bersyukur serta beribadah kepada-Mu dengan baik, wahai Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.


اَللَّهُمَّ نَحْنُ عَبِيْدُكَ بَنُوْ عَبِيْدِكَ بَنُوْ إِمَائِكَ نَوَاصِيْنَا بِيَدِكَ مَاضٍ فِيْنَا حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيْنَا قَضَاؤُكَ نَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا 
وَجَلاَءَ أَحْزَانِنَا وَذَهَابَ هُمُوْمِنِا وَغُمُوْمِنَا وَسَائِقَنَا وَقَائِدَنَا إِلَى جَنَّاتِكَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ.

Ya Allah, kami adalah hamba-hamba-Mu, anak dari hamba-hamba-Mu laki-laki dan perempuan, ubun-ubun kami berada dalam tangan-Mu, telah berlaku atas kami hukum-Mu, adil pasti atas kami keputusan-Mu, kami memohon kepada-Mu dengan menggunakan semua nama yang menjadi milik-Mu dan Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau nama yang Engkau turunkan dalam kitab suci-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu di antara hamba-Mu, atau dengan nama yang Engkau simpan dalam rahasia ghaib di sisi-Mu, jadikanlah Al-Qur’an yang agung ini taman bunga sepanjang musim di hati kami, jadikan ia cahaya di dada-dada kami, pelipur lara dan penghapus gulana, jadikan pula ia pembimbing kami menuju surga-Mu yang penuh kenikmatan.

اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا بِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ اَللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوْسَنَا  بِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ.

Ya Allah, bersihkan dan sucikan hati dan jiwa kami dengan Al-Qur’an yang mulia.

اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِيْنَا وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ حُجَّةً لَنَا لاَ حُجَّةً عَلَيْنَا.

Ya Allah, ingatkan kami ayat Al-Qur’an yang terlupa, ajarkan kami darinya apa yang  tidak kami ketahui, berikan rezki kepada kami berupa kenikmatan membacanya malam dan siang, jadikan ia hujjah bagi kami jangan jadikan ia hujjah atas kami.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ القُرْآنِ الَّذِيْنَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk ahli Al-Qur’an yang menjadi keluarga-Mu dan hamba-hamba istimewa di sisi-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُقِيْمُ حُرُوْفَهُ وَحُدُوْدَهُ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يُقِيْمُ حُرُوْفَهُ وَيُضَيِّعُ حُدُوْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menegakkan huruf-huruf Al-Qur’an dan hukum-hukumnya, dan jangan Engkau jadikan kami golongan orang yang menegakkan huruf-hurufnya namun mengabaikan hukum-hukumnya, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا

Ya Allah, berikan kepada jiwa-jiwa kami ketakwaan kepadamu, dan sucikan dia, Engkaulah sebaik-baik Zat Yang Menyucikan jiwa, Engkaulah Pelindung dan Penolongnya.

اَللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّ إِذَا دَعَاكَ نَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَالْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ.

Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan, Yang Maha Mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan, kami memohon kepada-Mu berbagai penyebab turunnya rahmat-Mu, tekad dan kekuatan untuk meniti jalan yang lurus, limpahan segala kebajikan, keselamatan dari segala dosa, kemenangan meraih surga dan keselamatan dari azab neraka.

اَللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan, kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kekayaan.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu segala kebaikan di dunia dan akhirat yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui, dan kami berlindung kepada-Mu dari semua keburukan di dunia dan akhirat yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ.

Ya Allah, kami memohon kepadamu segala kebaikan yang telah diminta hamba dan rasul-Mu Muhammad saw dan hamba-hamba-Mu yang shalih, dan kami berlindung kepadamu dari segala keburukan yang mereka telah berlindung darinya kepada-Mu.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إَلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami, perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat hidup kami, dan perbaikilah akhirat kami karena dialah tempat kembali kami.  Jadikan kehidupan ini sebagai penambah segala kebaikan bagi kami, dan jadikan kematian sebagai kebebasan kami dari segala keburukan.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari sulitnya bencana, beratnya penderitaan, buruknya takdir, dan tepuk tangan musuh.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari siksa Jahanam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari fitnah Dajjal.

اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ.

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya, lisan kami dari dusta, dan bersihkan mata kami dari khianat, sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada.

اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

Ya Allah, cukupkan diri kami dengan yang halal dari yang haram, dengan ketaatan kepada-Mu dari maksiat kepada-Mu,  dan dengan karunia-Mu dari selain-Mu, wahai Yang Maha Hidup lagi Berdiri 
Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.

اَللَّهُمَّ أَعْتِقْ رِقَابَنَا مِنَ النَّارِ وَأَوْسِعْ لَنَا مِنَ الرِّزْقِ الْحَلاَلِ وَاصْرِفْ عَنَّا فَسَقَةَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

Ya Allah, bebaskan diri kami dari api neraka, lapangkan untuk kami rezki yang halal, dan jauhkan kami dari jin dan manusia yang fasik, wahai Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا آخِرَهَا وَخَيْرَ أَعْمَارِنَا خَوَاتِمَهَا وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ لِقَائِكَ.

Ya Allah, jadikanlah amal kami yang terbaik adalah akhirnya, dan umur kami yang terbaik adalah penghujungnya, dan hari terbaik kami adalah hari bertemu Engkau.

اَللَّهُمَّ آنِسْ وَحْشَتَنَا فِي الْقُبُوْرِ وَآمِنْ خَوْفَنَا يَوْمَ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ وَيَسِّرْ لَنَا يَا إِلهَنَا الأُمُوْرَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

Ya Allah, hiburlah kami ketika sendirian dalam kubur, hilangkan ketakutan kami ketika dibangkitkan dari kubur, dan mudahkan semua urusan kami, Ya Tuhan kami, wahai Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ فِيْ رَعَايَاهُمْ وَالرِّفْقِ بِهِمْ وَالاِعْتِنَاءِ بِمَصَالِحِهِمْ وَحَبِّبْهُمْ إِلَى الرَّعِيَّةِ وَحَبِّبِ الرَّعِيَّةَ إِلَيْهِمْ.

Ya Allah, perbaikilah (akhlaq) para pemimpin kaum muslimin, bimbinglah mereka dalam menegakkan keadilan, menyayangi, dan memperhatikan kepentingan rakyat. Tumbuhkan kecintaan rakyat kepada mereka dan kecintaan mereka kepada rakyat.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِصِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَالْعَمَلِ بِوَظَائِفِ دِيْنِكَ الْقَوِيْمِ وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, bimbinglah mereka ke jalan-Mu yang lurus, agar bekerja demi agama-Mu yang benar, jadikan mereka teladan yang mendapat petunjuk-Mu, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ وَالْحُكْمِ بِشَرِيْعَتِكَ وَإقَامَةِ حُدُوْدِكَ.

Ya Allah, bimbinglah mereka agar bekerja sesuai kitab-Mu, sunnah Nabi-Mu, memutuskan dengan syariat-Mu, dan menegakkan hukum-hukum-Mu.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لإِزَالَةِ الْمُنْكَرَاتِ وَإِظْهَارِ الْمَحَاسِنِ وَأَنْوَاعِ الْخَيْرَاتِ.

Ya Allah, tuntunlah mereka untuk memberantas kemunkaran dan menampilkan segala bentuk kebaikan.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ آمِرِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِ فَاعِلِيْنَ لَهُ نَاهِيْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ تَارِكِيْنَ لَهُ.

Ya Allah, jadikanlah mereka para penyeru kebaikan yang melaksanakannya, penghalang kemunkaran yang meninggalkannya.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin, murahkanlah harga-harga kebutuhan hidup mereka, dan jadikanlah mereka aman sentosa di tanah air mereka.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ وَحَبِّبْ إِلَيْهِمُ الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِهِمْ وَكَرِّهْ إِلَيْهِمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الرَّاشِدِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemuda kaum muslimin, jadikan mereka para pencinta keimanan dan jadikan iman itu indah dalam hati mereka, bencikan mereka terhadap kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, dan jadikan mereka orang-orang yang lurus, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

اَللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّ إِذَا دَعَاكَ نَسْأَلُكَ أَنْ تُعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِميْنَ وَأَنْ تُذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَنْ تُدَمِّرَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَنْ تَجْعَلَ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.

Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan, Yang Maha Mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan, kami memohon kepadamu agar Engkau memuliakan Islam dan kaum muslimin, menghinakan kemusyrikan dan orang-orang musyrik, menghancurkan musuh-musuh agama, dan menjadikan negeri ini dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya aman dan tenteram.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُحَرِّرَ الْمَسْجِدَ الأَقْصَى وَأَرْضَ فِلِسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ مِنْ جُنُوْدِ حَمَاس. اَللَّهُمَّ انْصُرَْإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي أَفْغَانِسْتَان، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي كَشْمِيْرَ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي الْعِرَاقِ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي الشِّيْشَانِ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَائِرِ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

Ya Allah, tolonglah dan menangkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin di jalan-Mu di mana pun mereka berada. Tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin Palestina, bebaskan Masjid Aqsha dan tanah Palestina dari perampok Yahudi, tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin para pejuang Hamas. Ya Allah, bantulah pula saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin di Afghanistan, Kasymir, Irak, Chechnya, dan negeri-negeri kaum muslimin yang lain, wahai Penguasa alam semesta.

اَللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْهِمْ صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ.

Ya Allah, berikan kesabaran kepada mereka, teguhkan pendirian mereka, dan tolonglah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka.

اَللَّهُمَّ اكْتُبِ الشَّهَادَةَ عَلَى مَوْتَاهُمْ وَاكْتُبِ السَّلاَمَةَ عَلَى أَحْيَائِهِمْ.

Ya Allah, tetapkan kesyahidan bagi yang gugur di antara mereka, dan berikan keselamatan kepada yang masih hidup.
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا.

Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.

رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau lah Maha Pemberi (karunia).

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا.

Ya Tuhan kami, berikan rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakan bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قُلُوْبٍ لاَ تَخْشَعُ وَمِنْ نُفُوْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا.

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri sendiri, jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan peliharalah kami dari api neraka.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amal dan doa kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Semoga shalawat senantiasa tercurah kepada pemimpin kami Muhammad saw, keluarga dan sahabatnya semua. Maha suci Tuhanmu Pemilik kemuliaan dari apa yang mereka persekutukan. Semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada para rasul dan segala puji hanya bagi Tuhan semesta alam.