Kamis, 25 September 2014

KHUTBAH HARI RAYA IDUL ADHA

KHUTBAH HARI RAYA IDUL ADHA


PEMBUKAAN KHUTBAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’
اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِىْجَعَلَ هَذَاالْيَوْمَ عِيْدًالِلْمُسْلِمِيْنِ. وَجَعَلَ عِبَادَةَ الْحَجِّ وَعِيْدُ اْلاَضْحَ مِنْ شَعَائِرِاللَّهِ وَاِحْيَائِهَامِنْ تَقْوَىالْقُلُوْبِ. اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ اَذَلَّ مَنْ جَحَدَ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. خَيْرَمَنْ حَجَّ وَاعْتَمَنْ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَىْ اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ مَاهَلَّلَ وَسَلَّمَ وَكَبَّرَ.
اَللَّهُ أَكْبَرْكَبِرًا’وَالْحَمْدُلِلَّهِ كَثِيْرًاوَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَة ً وَاَصِيْلاً’لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ’صَدَقَ وَعْدَهُ’ وَنَصَرَعَبْدَهُ’ وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ’لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ وَلاَنَعْبُدُاِلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الِدّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْاللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنِ.
يَاَيُّهَاالنَّاسُ اتَّقُوْارَبَّكُمُ الَّذِىْخَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍوَخَلَقَ مِنْهَازَوْجَهَاوَبَثَّ مِنْهُمَارِجَالاًكَثِيْرًاوَنِسَاءً وَاتَّقُوْااللَّهَ الَّذِىْ تَسَاءَ لُوْنَ بِهِ وَاْلاَرْحَامَ’ اِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْااتَّقُوْااللَّهَ وَقُوْلُوُقَوْلاًسَدِيْدًا’ يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْماَلَكُمْ’ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ’ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَفَوْزًاعَظِيْمًا.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِىالْقُرْآنِ الْعَظِيْمْ’وَلِتُكْمِلُوْاالْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوْا اللَّهَ عَلَىمَاهَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَسْكُرُوْنَ. عِبَادَاللَّهِ’ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ بِتَقْوَوْىاللَّهِ فَقَدْفَا زَالْمُتَّقُوْنَ.
اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.











اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Kembali kita bersyukur kepada Allah SWT., kare-na hari ini, Sabtu tanggal 10 Dzulhijjah 1422 H., bertepa-tan dengan tanggal 22 Pebruari 2002 M., kita masih dapat berkumpul kembali di tempat ini dengan tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT., menunaikan Shalat Idul Adhha, sekaligus mendengarkan khutbah se-bagai rangkaian dari shalat id, dan sesudah itu, akan kita lanjutkan dengan memotong hewan qurban, di tempat ini pula kalau mungkin dan itu lebih baik, atau di rumah-rumah sendiri. Sehingga shalat id kurang sempurna, tanpa khutbah dan tanpa berqurban. Ketiga - tiganya, adalah satu paket. Sehingga turut berjama’ah dalam shalat id, tetapi tidak mendengarkan khutbah, adalah kurang sem-purna.

Ini mengisyaratkan bahwa khutbah id dan mende-ngarkannya itu suatu keniscayaan yang selayaknya diper-hatikan oleh jama’ah shalat id. Begitu juga memotong hewan qurban bagi yang mampu, adalah sangat dianjur-kan, yang menurut Imam Hanafi dinilai sebagai “ Wajib ”, sehingga merayakan Idul Adhha tanpa qurban, adalah kurang sempurna. Karena Allah SWT. sendiri telah mengisyaratkan dalam kitab suci-Nya Al-Qur’an di Surat Al-Kautsar :

اِنَّااَعْطَيْنَكَ الْكَوْثَرَ(1) فَصَلّ ِ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) اِنَّ شَا نِئَكَ هُوَاْلاَ بْتَرْ (3).
“ (1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’ mat yang banyak. (2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. (3) Sesungguhnya orang –orang yang membenci kamu dialah yang terputus “. ( QS. Al-Kautsar (108) : 1-3 ).

DR. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsirnya “ Al-Munir “ mengatakan, bahwa kalimat “Fashalli Lirabbika” ( maka shalatlah demi mengabdi kepada tuhanmu ) itu, maksudnya, adalah Shalat Id. Dan dalam surat itu disebutkan secara kronologis :
Pertama, Allah memberi kenikmatan yang banyak, terma-suk kekayaan harta,
Kedua, kita diserukan untuk shalat, diantaranya Shalat Id, Ketiga, kita diperintahkan untuk menyembelih hewan qurban.

Kalau ketiga-tiganya itu dapat terlaksana dengan baik dan tuntas, maka Allah menjamin, bahwa para pen-cela Islam itu akan kecele ( Al-Abtar ). Ini menunjukkan bahwa orang - orang kaya itu dalam merayakan Idul Adhha tidak cukup dengan shalat, tetapi harus disertai dengan qurban juga. Ini, dipertegas dalam suatu Sabda Rasulullahi SAW. :

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَايَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا ( رَوَاهُ اَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَمَوْقُوْفًا )
“ Barangsiapa ada kemampuan, tetapi tidak berqurban, maka jangan sekali-kali mendekat tempat shalat(mushalla) kami ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah/ Mauquf kepada Abu Hurairah ) “.
Jadi, orang kaya yang tidak mau berqurban sekali – kali jangan mendekati jama’ah Kaum Muslimin. Ini me-nunjukkan betapa urgensinya qurban itu dalam Islam. Karena dengan qurban, fakir miskin dapat terangkat. Sedangkan memperhatikan fakir miskin termasuk salah satu faktor tercurahnya rezeki dan teratasinya problem. Sabda Rasulullah SAW. :

اِنَّمَاتَنْصُرُوْنَ وَتَرْزُقُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ ( أَخْرَخَهُ الْبُخَارِىْ )
“ Sesungguhnya kamu akan diberi rezeki dan diberi perto-longan oleh Allah lantaran memperhatikan kaum dhu’afa kamu “. ( HR. Bukhari ).

Untuk itu, marilah kita menjadi muslim yang baik, muslim yang terus berusaha untuk menyempurnakan pri-laku keislamannya, dalam seluruh aspek kehidupan, dalam ibadah maupun mu’amalah duniawiyah, menjadi muslim yang kaffah. Karena menjadi muslim kaffah itu termasuk bagian mempertahankan eksistensi Islam. Se-hingga sisa umur yang ada ini benar-benar bermanfa’at dengan mendapat ridha Allah, dan kita meninggalkan dunia yang fana ini dengan khusnul khatimah.

اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Ada dua peristiwa penting yang terjadi pada hari Idul Adhha :

Peristiwa Pertama :
Disebut Hari Raya Adhha atau Hari Raya Qurban, karena pada hari raya ini yang diikuti dengan tiga hari sesudahnya yang disebut hari tasyriq, Umat Islam yang mampu diperintahkan untuk mengadakan udhiyyah atau penyembelihan binatang ternak untuk qurban, sebagai bakti menunaikan tugas kewajiban melaksanakan perin-tah Allah SWT. beribadah kepada-Nya. Yang hasil pe-ngurbanannya dapat dirasakan kemanfa’atannya oleh ma-syarakat, yang memupuk jiwa berqurban, untuk kesukse-san dalam kehidupan baik individu maupun masyarakat, bangsa dan negara.

Peristiwa Kedua :

Pada tanggal 9 Dzulhijjah ( kemarin ) saudara-sau-dara kita kaum muslimin yang melakukan Ibadah Hajji, melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Dan sekarang ta-nggal 10 Dzulhijjah mereka sedang menyempurnakan Iba-dah Hajjinya melempar jumrah aqabah di Mina, dan sete- rusnya melakukan thawaf ifadhah di Baitullah dan sa’i di Makkah dan seterusnya pada hari tasyriq mereka melaku-kan lempar jumrah di Mina. Dari mulai ihram, wukuf di Arafah sampai tahallul, mereka dalam keadaan sama ber-pakaian yang sama pula, yakni pakaian ihram, yang bagi pria hanya dua lembar kain putih, satu untuk kain dan sa-tunya lagi untuk selendang. Tak ada perbedaan antara ka-ya dan miskin, antara yang berpangkat dan yang tidak berpangkat, antara segala jenis bangsa dan warna kulit, semuanya dalam suasana persaudaraan, sama-sama iba-dah kepada Allah. Semuanya merasa kecil, semuanya me-rasa rendah dirinya di hadapan Allah SWT. Hanya Allah lah Yang Maha Agung lagi Perkasa.
Demikianlah prinsip hak asasi manusia, dalam Is-lam, bahwa semua manusia, adalah sama derajatnya di sisi Allah SWT., seperti halnya dipraktekkan dalam Iba-dah Hajji dan Ibadah Shalat, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, tak pandang miskin atau kaya, berpangkat atau tidak berpangkat. Hanya satu kriteria, yaitu yang paling taqwa kepada Allah itulah yang paling mulia di sisi Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Hujurat, Ayat 13 :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَكُمْ
" Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah, adalah siapa yang paling bertaqwa ". ( QS. Al-Huju-rat ( 49 ) : 13 ).

Perbedaan kedudukan dan tingkatan, menurut Ajaran Islam pada hakikatnya, hanyalah perbedaan pem-bagian tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kemam-puannya dan kecakapan seseorang untuk melaksanakan tugas-tugas di dunia ini, yang harus dipertanggung jawab-kan di hadhirat Allah di akhirat kelak.

Karena itu, menurut Ajaran Islam, supaya menem-patkan seseorang itu sesuai dengan keahlian, kecakapan dan kemampuannya. sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.,

اِذَاوُسِّدَّاْلاَ مْرُ اِلَى غَيْرِ اَهْلِهِ فَانْتَظِرِالسَّاعَةَ.

“ Apabila urusan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka nantikanlah kehancurannya “.
Dari dua peristiwa penting tersebut, Islam mempu-nyai ajaran yang penuh dinamika dan persaudaraan yang mesra, yang didasari dengan iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Dengan ajaran qurban, Allah SWT. tidak memerin-tahkan kita untuk berqurban seperti Nabi Ibrahim terha-dap putranya Ismail. Kita Umat Islam dituntut harus sanggup berqurban untuk melaksanakan perintah-perin-tah Allah, meninggikan Kalimah Tauhid dan beramal sha-hih, meninggalkan larangan-larangan Allah SWT., men-jauhi kemusyrikan dan kemakshiyatan. Sebab pada hake-katnya semua perintah Allah SWT. apabila dilaksanakan akan membawa manusia kepada kebahagiaan, baik yang bersifat individu maupun untuk masyarakat, bangsa dan negara dan larangan-larangan Allah SWT. itu kalau tidak ditinggalkan akan menghambat tercapainya cita-cita se-tiap hati nurani manusia mencapai kesejahteraan atau ke-makmuran jasmani dan rohani, masa kini dan masa nanti.

Sesudah mengetahui kedua peristiwa tersebut, sam-pai sa’atnya untuk membicarakan kepatuhan 3 ( tiga ) orang Hamba Allah, terhadap Rabbanya. Dimana ketiga Hamba Allah tersebut, mewakili generasi masing-masing. yakni Generasi Ayah, Generasi Ibu dan Generasi Anak. Dan keteladanan ketiga generasi tersebut, akan kami uraikan satu-persatu :

I. Kepatuhan Ibrahim, AS.

Ibrahim AS., adalah seorang ayah yang sangat patuh kepada Rabnya dan bijaksana. Kepatuhannya itu dibuktikan dengan menta’ati segala perintah Allah SWT., walaupun perintah itu menyangkut hal yang sangat berat, yakni harus menyembelih anak kandungnya sendiri. Na-mun dengan penuh bijaksana hal itu tetap dilaksanakan-nya dengan tidak melupakan prinsip musyawarah, dengan putranya Ismail. Hal ini dilakukan, untuk mengetahui pendapat dari Ismail terhadap perintah Allah SWT. ter-sebut. Dialog antara ayah dan anak, dikisahkan kembali oleh Allah SWT. dalam Al-Qur’an, Surat Ash-Shaffat, Ayat 102 :

فَلَمَّابَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَبُنَيَّ اِنِيّْ اَرَىْ فِىالْمَنَامِ اَنِّيْ اَذْ بَحُكَ فَانْظُرْمَاذَاتَرَى, قَالَ يَاَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ, سَتَخِدُ نِيْ اِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّبِرِيْنَ.
“ Maka tatkala anak itu sampai pada umur berusaha ber-sama-sama, lalu Ibrahim berkata kepadanya : “ Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana penda-patmu “. Ismail menjawab : “ Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatkan aku termasuk orang-orang yang sabar “. ( QS. Ash-Shaffat (37) : 102 ).

Ibrahin AS. dan Ismail AS. menerima perintah Allah itu dengan penuh ketulusan dan kesabaran, demi iman dan cintanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Pe-ngasih lagi Maha Penyayang. Di dalam bathinnya terjadi pergumulan antara iman dan cinta kepada Allah dengan cinta dan sayang kepada anaknya. Iman dan cinta kepada Allah berada diatas segala-galanya bagi Ibrahim.

Ibrahim dan Ismail lulus ujian. keduanya menda-pat pujian dan balasan kesejahteraan dari Allah SWT., sebagaimana Firman-Nya :

قَدْصَدَّ قْتَ الرُّءْ ياَ’ اِنَّاكذَلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ. اِنَّ هَذَا لَهُوَالْبَلَؤُاالْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنَهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَاعَلَيْهِ فِى اْلاَ خِرِيْنَ. سَلَمٌ عَلَىاِبْرَهِيْمَ.

“ Dan Kami panggilkan dia : “ Wahai Ibrahim, sesungguh-nya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan kam-bing sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian, yaitu kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim “. ( QS. Ashn-Shaffat (37) : 105-109 ).

Dengan keta’atan Ibrahim itulah, maka Allah SWT. memuji dan mengangkatnya menjadi Imam bagi seluruh umat manusia. Namun Ibrahim sebagai seorang ayah, yang mencintai anak keturunannya, juga tidak lupa berdo’a kepada Allah, agar anak keturunannya nantinya dijadikan imam bagi umat manusia. Permohonan Ibrahim dijawab Allah : “ Janji-Ku ini tidak berlaku bagi orang-orang yang aniaya ( Dzalim ) “.

Firman Allah :

وَاِذِابْتَلَى اِبْرَهِمَ رَبُّحُ بِكَلِمَتٍ فَاَتَمَّهُنَّ’ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا’ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ’ قَالَ لاَيَنَالُ عَهْدِى الظَّلِمِيْنَ.

“ Dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat ( perintah dan larangan ), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : “ Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia “.Ibrahim berkata : “ Dan saya mohon juga dari keturunanku “. Allah berfirman : “ Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang dzalim “. ( QS. Al-Baqarah (2) : 124 ).

Hampir semua Nabi dan Rasul Allah, adalah ketu-runan Nabi Ibrahim, AS., termasuk Nabi Muhammad SAW. keturunan Nabi Ismail, anak pertama Nabi Ibrahim.

II. Kepatuhan Hajar
Hajar, karena telah jadi istri Ibrahim yang membe-rinya seorang anak yang sangat dicita - citakan, merasa dirinya sudah setaraf dengan Sarah, malah lebih penting. Hal ini menjadikan Sarah bersedih hati, akhirnya untuk ketenangannya, Sarah perintahkan Ibrahim, Ismail dan Hajar meninggalkannya sendiri.

Nabi Ibrahim bersama Hajar dan Ismail, berangkat menuju ke selatan. Akhirnya sampai di satu daerah padang pasir tandus, gunung batu, dimana tidak ada air, tidak ada tumbuhan, tidak ada manusia dan binatang. Ke-mudian Ibrahim dipanggil Allah kembali ke Palestina. Se-bab istrinya Sarah sudah sangat rindu. Alangkah kaget-nya Hajar mendengar bahwa Ibrahim akan meninggal-kannya di daerah tidak berpenghuni itu, apa yang akan terjadi bila semua air dan makanan persediaannya sudah habis. Namun Ibrahim hanya menjawab bahwa ini, adalah perintah Allah. Setelah mendengar dari mulut Ibrahim sendiri, bahwa itu, adalah perintah Allah, maka Hajar menjadi tenang karena ia yakin tentu Allah, yang men-jamin keselamatan hidupnya bersama anaknya. Sebelum berangkat Ibrahim berdo’a.

Firman Allah SWT.

رَبَّنَااِنِّيْ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍغَيْرِزَرْعٍ عِنْدَبَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَالِيُقِيْمُوْاالصَّلَوةَ فَجْعَلْ اَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرَتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ.

“ Yaa Tuhan kami, aku menempatkan sebagian keturunan-ku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat Rumah Suci-Mu ( Baitullah ) yang dihormati, Yaa Tuhan kami (yang demikian itu), agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur “. ( QS. Ibrahim (14) : 37 ).

Siti Hajar patuh ditinggalkan Ibrahim di daerah padang pasir, tanpa air, tanpa manusia dan tumbuhan. Sesudah semua air dan bekalan habis, Hajar lapar dan haus, begitu juga anaknya ismail. Berulang-ulang Hajar bolak-balik antara bukit Safa dan Marwa mencari air dan minta pertolongan dari musafir yang mungkin ada. Tetapi tidak seorang musafirpun yang berani melalui daerah tan-pa air dan tanpa manusia itu. Karena tidak kuat lagi, Hajar mencium anaknya sambil berdo’a : “Ya Allah karena mematuhi perintah-Mu jualah aku sanggup ditinggalkan di sini. Yaa Allah berilah kami air dan buah untuk kami makan. Allah kabulkan do’a itu dengan me-munculkan telaga zamzam yang mengeluarkan air. Selain dapat minum, maka karena zamzam itu, tempat itu sela-lu didatangi semua musafir untuk minta air. Akhirnya ra-mai menjadi kota Mekkah yang sekarang ini. Hajar dan Ismail dianggap pemilik telaga itu. Hajar mendapat imba-lan dari siapa saja yang mengambil air zamzam itu. Imbalan berupakan buah-buahan dan barang-barang ber-harga. Sampai ia menjadi kaya.

Dalam keadaan seperti ini, maka dibutuhkan seo-rang ibu atau istri yang memiliki keta’atan kepada Allah SWT. dan kepatuhan kepada suami. Tanpa keta’atan dan kepatuhan, maka semua cobaan akan terasa berat dan su-lit. Hajar sebagai seorang ibu atau istri dengan penuh ke-yakinan kepada Allah menjalani semua cobaan itu dengan ikhlash, sehingga terasa ringan.

8 tahun kemudian Nabi Ibrahim, datang mencari istri dan anaknya, bertemu di Arafah dalam keadaan sehat wal afiat dan kaya, karena memiliki telaga zamzam.




III. Kepatuhan Ismail

Nabi Ismail, merupakan suri teladan yang baik ba-gi kita semua, bagaimana seorang anak yang ta’at kepada Allah SWT, patuh dan berbakti kepada kedua orang. Bagaimana rindu dan mesranya bertemu dengan istri dan anak yang ditinggalkan 8 tahun itu, tiba-tiba Allah perin-tahkan, agar Nabi Ibrahim menyembelih leher anaknya sendiri dengan pedangnya sendiri pula. Mimpi seorang Nabi, adalah wahyu dari Allah SWT. yang harus dipatuhi. Ibrahim panggil anaknya Nabi Ismail yang masih beru-mur 8 tahun itu : “ Hai Ismail, aku diperintah dalam mim-pi untuk menyembelih lehermu, bagaimana pendapatmu sendiri ? “, Ismail menjawab dengan tegas : “ Jalankanlah perintah itu hai Bapakku, insya Allah aku sabar “.

Kedua hamba Allah itu menuju tempat untuk me-nyembelih leher Ismail. Bertemu dengan seorang yang melarang Ibrahim untuk melakukan perintah itu. Orang itu dilempar Ibrahim dengan batu. Kemudian ada lagi yang melarangnya, juga dilempar. Dan begitu juga untuk ketiga kalinya.

Akhirnya sampailah pada titik klimaksnya kepatu-han itu. Nabi Ibrahim dengan pedang terhunus sudah bersiap untuk menyembelih leher Ismail. Disa’at itu terdengar suara dari atas gunung (Mina) : “ Hai Ibrahim, jangan engkau sembelih leher anakmu, ini adalah ujian. Gerak-gerikmu berdua menunjukkan kamu berdua mema-tuhi perintah Allah SWT . Allah mengirim kibasy. Sembelih-lah kibasy ini sebagai ganti anakmu Ismail “. Ibrahim lalu memotong kibasy itu dan mendendeng dagingnya dan
membagikan sisanya kepada kaum fakir miskin.
Kepatuhan tiga orang hamba Allah itu, luar biasa. Tidak ragu-ragu menjalankan apa saja yang diperintah-kan Allah SWT., sebab yakin akan besar akibat dan man-fa’atnya. Ketiga peristiwa kepatuhan luar biasa itu sangat disayangkan kalau kita dilupakan begitu saja. Untuk menghidupkan ingatan kepada ketiga peristiwa itulah Allah SWT. menurunkan Nabi Muhammad SAW. 4.000 tahun kemudian. Dengan wahyu Allah berupa Al-Qur’an ( Agama Islam ), semua manusia beriman diperintahkan Allah merayakan Hari Raya Idul Adhha dan menunaikan Ibadah Haji setiap tahun.

Idul Adhha, Ibadah Haji dan Ibadah Qurban, me-motong kibasy, kambing atau sapi, adalah satu cara yang ditetapkan Allah SWT. untuk mengingatkan semua orang beriman kepada ketiga manusia patuh dan ketiga kepatu-han yang dilakukannya.

Jagat raya ini dipertahankan dan dilestarikan Allah adalah karena kepatuhan manusia terhadap Allah. Selama di dunia ini masih ada manusia yang patuh memenuhi perintah Allah, selama itu pula jagat atau alam ini dipertahankan Allah akan adanya. Sebaliknya bila se-luruh umat manusia sudah lupa kepada Allah, nama Allah tidak ada lagi yang menyebutnya, maka alam atau jagat ini akan dimusnahkan oleh Allah SWT. Demikian Sabda Rasulullah SAW. menerangkan wahyu Allah :

“ Kiamat tidak akan terjadi selama di dunia ini masih ada manusia yang menyebut nama Allah, Allah “.

Kelestarian jagat ini bukan bergantung kepada ilmu pengetahuan, bahkan kemajuan ilmu pengetahuan tanpa iman dan taqwa itulah yang mempercepat hancur-nya jagat ini. Kelestarian jagat ini, adalah semata-mata karena kepatuhan manusia terhadap Allah SWT. Manusia yang patuh itulah yang menyebabkan Allah masih menu-runkan hujan, memberi rejeki dan menumbuhkan tum-buh-tumbuhan. Sungguh penting iman, taqwa dan mema-tuhi perintah Allah SWT. dalam hidup ini. Bagaimana ju-ga bodoh dan melaratnya orang beriman dan bertaqwa itu, namun merekalah yang menjadikan jagat ini masih utuh. Kalau bukan karena keberadaan mereka di jagat ini, dunia ini sudah lama dimusnahkan Allah SWT.

Kesimpulan :

1. Ibadah Haji dan Idul Adha, seluruhnya membim-bing dan menjuruskan umat manusia penduduk bumi ini, untuk mengenang kembali keteladanan 3 (tiga) orang Hamba Allah SWT., yaitu Ibrahim, Hajar dan Ismail.
2. Dengan keteladanan Nabi Ibrahim AS. dapat kita jadikan suri teladan yang baik, oleh para bapak dan pemimpin bangsa ini, agar dapat melakukan kewajiban-nya dengan penuh tanggung jawab.
3. Keta’atan Hajar kepada Allah SWT. dan kepatu-hannya kepada suami, menjadikan dia dapat mengatasi segala masalah yang dihadapinya dengan baik.
4. Nabi Ismail, contoh seorang anak yang berbakti pada orang tua, dan selalu menurut kehendak orang tua, se-kalipun harus mengorbankan diri sendiri.
5. Di jaman sekarang ini, dibutuhkan manusia-manusia yang beriman dan bertaqwa, sebagai jaminan lestari-nya alam semesta ini.
6. Marilah kita berlomba - lomba dalam kebajikan sehingga terbentuk masyarakat, bangsa yang diridhoi Allah.

Untuk itu, marilah kita berdo’a kepada Allah SWT. semoga mengampuni semua dosa kita dan mengabulkan semua do’a kita, Amien Yaa Rabbal ‘Alamin.























DO’A PENUTUP KHUTBAH

آلْحَمْدُلِلَّهِ حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِىْ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُكَمَايَنْبَغِىْ لِجَلآلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىْمُحَمَّدٍوَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتْ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَلْمُؤْمِنَاتْ
اَْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتْ.
اَللَّهُمَّ اَرِنَاالْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَاْ اّتِبَاعَهُ. وَاَرِنَاالْبَاطِلَ بَاطِلً وَارْزُقْنَااجْتِنَابَهُ.

“ Yaa Allah, berilah senantiasa kami petunjuk, bahwa se-suatu yang benar itu benar, dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya.
Dan berilah senantiasa kami petunjuk, bahwa sesuatu yang tidak benar itu bathil, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

اَللَّهُمَّ مَااَصْبَحَ بِىْمِنْ نِعْمَتِهِ اَوْبِاَحَدٍمِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ ,فَلَكَ الْحَمْدُوَلَكَ الشُّكْرُ.
“ Yaa Allah, sesungguhnya segala nikmat yang saya rasa-kan pada pagi hari ini dan yang dirasakan oleh siapa saja diantara makhluk-Mu, adalah berasal dari Engkau Yaa Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, maka bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu saya bersyukur.

رَبَّنَااغْفِرْلَنَاوَلِإِخْوَانِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَابِاْلإيْمَانِ وَلاَتَجْعَل ْفِيْ قُلُوْبِنَاغِلًّالِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَاإِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ.(اَلْحَسَرْ:10)
“ Wahai Tuhan kami !, ampuni dosa-dosa kami, dan dosa-dosa saudara - saudara kami yang telah mendahului kami ( meninggal dengan membawa iman, islam, ikhsan ). Dan jangan Engkau jadikan kedengkian dihati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesung-guhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang “.
رَبَّنَااغْفِرْلَنَاذُنُوْبَنَاوَاِسْرَافَنَاْ فِيْ اَمْرِنَاوَثَبِّتْ اَقْدَامَنَاوَنْصُرْنَا عَلَىالْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.( اَلِ عِمْرَانْ :147 )
“ Yaa Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan tinda-kan - tindakan kami yang berlebih - lebihan dalam urusan kami, dan tetapkan pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir “.
رَبَّنَالاَتُؤَاخِذْناَاِنْ نَّسِيْنَااَوْاَخْطَأْنَا’رَبَّنَاوَلاَتَحْمِلْ عَلَيْنَآاِصْرًا كَمَاحَمَلْتَه’عَلَىالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا’رَبَّنَاوَلاَتُحَمّلْنَامَالاَطَاقَةَلَنَا بِهِ’وَعْفُ عَنَّا’وَغْفِرْلَنَا’وَرْحَمْنَا’اَنْتَ مَوْلَنَافَانْصُرْنَاعَلَىالْقَوْ مِ الْكَفِرِيْنَ.( اَلْبَقَرَةْ : 286 )
“ Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Yaa Tuhan kami, jangan Engkau bebankan kepada kami beban yang berat, sebagai-mana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Yaa Tuhan kami janganlah Engkau pikul-kan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikul-nya. Beri ma’aflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terha-dap kaum yang kafir “.

رَبَّنَآآتِناَفِىْالدُّنْياَحَسَنَةًوَّفِىْاْلآخِرَةِحَسَنَةًوَّقِنَاعَذَابَ النَّارِ.
آمِيْنَ يَآرَبَّ الْعَلَمِيْنَ.سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ‘وَصَلَّىْاللَّهُ عَلَىْمُحَمَّدٍوَعَلَىْآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَىْالْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.







KHUTBAH IDUL ADHA
TAHUN 1425 H./2005 M.



Makna qurban dan pengorbanan
Nabi IBRAHIM, HAJAR DAN ISMAIL
DALAM KEPATUHAN & PENYERAHAN DIRI KEPADA ALLAH SWT.



O
L
E
H



DRS. MASHUR DULMANG ENCHO



DI SMU. DOROWATI SURABAYA
JALAN MANUKAN LOR NO. 43-45,
TELEPON (031) 7405664
S U R A B A Y A.

KHUTBAH IDUL ADHA 1422 H./2002 M.

RINGKASAN

Menurut Imam Hanafi dinilai sebagai “ Wajib ”, sehingga merayakan Idul Adhha tanpa qurban, adalah kurang sempurna. Karena Allah SWT. sendiri telah mengisyaratkan dalam kitab suci-Nya Al-Qur’an di Surat Al-Kautsar :

اِنَّااَعْطَيْنَكَ الْكَوْثَرَ(1) فَصَلّ ِ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) اِنَّ شَا نِئَكَ هُوَاْلاَ بْتَرْ (3).
“ (1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’ mat yang banyak. (2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. (3) Sesungguhnya orang –orang yang membenci kamu dialah yang terputus “. ( QS. Al-Kautsar (108) : 1-3 ).

DR. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsirnya “ Al-Munir “ mengatakan, bahwa kalimat “Fashalli Lirabbika” ( maka shalatlah demi mengabdi kepada tuhanmu ) itu, maksudnya, adalah Shalat Id. Dan dalam surat itu disebutkan secara kronologis :
Pertama, Allah memberi kenikmatan yang banyak, terma-suk kekayaan harta,
Kedua, kita diserukan untuk shalat, diantaranya Shalat Id, Ketiga, kita diperintahkan menyembelih hewan qurban.

Kalau ketiga-tiganya itu dapat terlaksana dengan baik dan tuntas, maka Allah menjamin, bahwa para pen-cela Islam itu akan kecele ( Al-Abtar ). Ini menunjukkan bahwa orang - orang kaya itu dalam merayakan Idul Adhha tidak cukup dengan shalat, tetapi harus disertai dengan qurban juga. Ini, dipertegas dalam suatu Sabda Rasulullahi SAW. :

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَايَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا ( رَوَاهُ اَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَمَوْقُوْفًا )
“ Barangsiapa ada kemampuan, tetapi tidak berqurban, maka jangan sekali-kali mendekat tempat shalat(mushalla) kami ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah/ Mauquf kepada Abu Hurairah ) “.

Jadi, orang kaya yang tidak mau berqurban sekali – kali jangan mendekati jama’ah Kaum Muslimin. Ini me-nunjukkan betapa urgensinya qurban itu dalam Islam. Karena dengan qurban, fakir miskin dapat terangkat. Sedangkan memperhatikan fakir miskin termasuk salah satu faktor tercurahnya rezeki dan teratasinya problem. Sabda Rasulullah SAW. :

اِنَّمَاتَنْصُرُوْنَ وَتَرْزُقُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ ( أَخْرَخَهُ الْبُخَارِىْ )
“ Sesungguhnya kamu akan diberi rezeki dan diberi perto-longan oleh Allah lantaran memperhatikan kaum dhu’afa kamu “. ( HR. Bukhari ).

Untuk itu, marilah kita menjadi muslim yang baik, muslim yang terus berusaha untuk menyempurnakan pri-laku keislamannya, dalam seluruh aspek kehidupan, dalam ibadah maupun mu’amalah duniawiyah, menjadi muslim yang kaffah. Karena menjadi muslim kaffah itu
termasuk bagian mempertahankan eksistensi Islam.

اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Ada dua peristiwa penting yang terjadi pada hari Idul Adhha :

Peristiwa Pertama :

Disebut Hari Raya Adhha atau Hari Raya Qurban, karena pada hari raya ini yang diikuti dengan tiga hari sesudahnya yang disebut hari tasyriq, Umat Islam yang mampu diperintahkan untuk mengadakan udhiyyah atau penyembelihan binatang ternak untuk qurban, sebagai bakti menunaikan tugas kewajiban melaksanakan perin-tah Allah SWT. beribadah kepada-Nya. Yang hasil pe-ngurbanannya dapat dirasakan kemanfa’atannya oleh ma-syarakat, yang memupuk jiwa berqurban, untuk kesukse-san dalam kehidupan baik individu maupun masyarakat, bangsa dan negara.

Peristiwa Kedua :

Pada tanggal 9 Dzulhijjah ( kemarin ) saudara-sau-dara kita kaum muslimin yang melakukan Ibadah Hajji, melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Dan sekarang ta-nggal 10 Dzulhijjah mereka sedang menyempurnakan Iba-dah Hajjinya melempar jumrah aqabah di Mina, dan sete- rusnya melakukan thawaf ifadhah di Baitullah dan sa’i di Makkah dan seterusnya pada hari tasyriq mereka melaku-kan lempar jumrah di Mina. Dari mulai ihram, wukuf di Arafah sampai tahallul, mereka dalam keadaan sama ber-pakaian yang sama pula, yakni pakaian ihram, yang bagi pria hanya dua lembar kain putih, satu untuk kain dan sa-tunya lagi untuk selendang. Tak ada perbedaan antara ka-ya dan miskin, antara yang berpangkat dan yang tidak berpangkat, antara segala jenis bangsa dan warna kulit, semuanya dalam suasana persaudaraan, sama-sama iba-dah kepada Allah. Semuanya merasa kecil, semuanya me-rasa rendah dirinya di hadapan Allah SWT. Hanya Allah lah Yang Maha Agung lagi Perkasa.

Demikianlah prinsip hak asasi manusia, dalam Is-lam, bahwa semua manusia, adalah sama derajatnya di sisi Allah SWT., seperti halnya dipraktekkan dalam Iba-dah Hajji dan Ibadah Shalat, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, tak pandang miskin atau kaya, berpangkat atau tidak berpangkat. Hanya satu kriteria, yaitu yang paling taqwa kepada Allah itulah yang paling mulia di sisi Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Hujurat, Ayat 13 :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَكُمْ
" Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah, adalah siapa yang paling bertaqwa ". ( QS. Al-Huju-rat ( 49 ) : 13 ).

Perbedaan kedudukan dan tingkatan, menurut Ajaran Islam pada hakikatnya, hanyalah perbedaan pem-bagian tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kemam-puannya dan kecakapan seseorang untuk melaksanakan tugas-tugas di dunia ini, yang harus dipertanggung jawab-kan di hadhirat Allah di akhirat kelak.

Karena itu, menurut Ajaran Islam, supaya menem-patkan seseorang itu sesuai dengan keahlian, kecakapan dan kemampuannya. sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.,

اِذَاوُسِّدَّاْلاَ مْرُ اِلَى غَيْرِ اَهْلِهِ فَانْتَظِرِالسَّاعَةَ.
“ Apabila urusan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka nantikanlah kehancurannya “.

Dari dua peristiwa penting tersebut, Islam mempu-nyai ajaran yang penuh dinamika dan persaudaraan yang mesra, yang didasari dengan iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Dengan ajaran qurban, Allah SWT. tidak memerin-tahkan kita untuk berqurban seperti Nabi Ibrahim terha-dap putranya Ismail. Kita Umat Islam dituntut harus sanggup berqurban untuk melaksanakan perintah-perin-tah Allah, meninggikan Kalimah Tauhid dan beramal sha-hih, meninggalkan larangan-larangan Allah SWT., men-jauhi kemusyrikan dan kemakshiyatan.
Sesudah mengetahui kedua peristiwa tersebut, sam-pai sa’atnya untuk membicarakan kepatuhan 3 ( tiga ) orang Hamba Allah, terhadap Rabbanya. Dimana ketiga Hamba Allah tersebut, mewakili generasi masing-masing. yakni Generasi Ayah, Generasi Ibu dan Generasi Anak. Dan keteladanan ketiga generasi tersebut, akan kami uraikan satu-persatu :
I. Kepatuhan Ibrahim, AS.

Ibrahim AS., adalah seorang ayah yang sangat patuh kepada Rabnya dan bijaksana. Kepatuhannya itu dibuktikan dengan menta’ati segala perintah Allah SWT., walaupun perintah itu menyangkut hal yang sangat berat, yakni harus menyembelih anak kandungnya sendiri. Na-mun dengan penuh bijaksana hal itu tetap dilaksanakan-nya dengan tidak melupakan prinsip musyawarah, dengan putranya Ismail. Hal ini dilakukan, untuk mengetahui pendapat dari Ismail terhadap perintah Allah SWT. ter-sebut. Dialog antara ayah dan anak, dikisahkan kembali oleh Allah SWT. dalam Al-Qur’an, Surat Ash-Shaffat, Ayat 102 :

فَلَمَّابَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَبُنَيَّ اِنِيّْ اَرَىْ فِىالْمَنَامِ اَنِّيْ اَذْ بَحُكَ فَانْظُرْمَاذَاتَرَى, قَالَ يَاَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ, سَتَخِدُ نِيْ اِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّبِرِيْنَ.
“ Maka tatkala anak itu sampai pada umur berusaha ber-sama-sama, lalu Ibrahim berkata kepadanya : “ Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana penda-patmu “. Ismail menjawab : “ Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatkan aku termasuk orang-orang yang sabar “. ( QS. Ash-Shaffat (37) : 102 ).

Ibrahin AS. dan Ismail AS. menerima perintah Allah itu dengan penuh ketulusan dan kesabaran, demi iman dan cintanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Pe-ngasih lagi Maha Penyayang. Di dalam bathinnya terjadi pergumulan antara iman dan cinta kepada Allah dengan cinta dan sayang kepada anaknya. Iman dan cinta kepada Allah berada diatas segala-galanya bagi Ibrahim.

Ibrahim dan Ismail lulus ujian. keduanya menda-pat pujian dan balasan kesejahteraan dari Allah SWT., sebagaimana Firman-Nya :

قَدْصَدَّ قْتَ الرُّءْ ياَ’ اِنَّاكَذَلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ. اِنَّ هَذَا لَهُوَالْبَلَؤُاالْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنَهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَاعَلَيْهِ فِى اْلاَ خِرِيْنَ. سَلَمٌ عَلَىاِبْرَهِيْمَ.

“ Dan Kami panggilkan dia : “ Wahai Ibrahim, sesungguh-nya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan kam-bing sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian, yaitu kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim “. ( QS. Ashn-Shaffat (37) : 105-109 ).

Dengan keta’atan Ibrahim itulah, maka Allah SWT. memuji dan mengangkatnya menjadi Imam bagi seluruh umat manusia. Namun Ibrahim sebagai seorang ayah, yang mencintai anak keturunannya, juga tidak lupa berdo’a kepada Allah, agar anak keturunannya nantinya dijadikan imam bagi umat manusia. Permohonan Ibrahim dijawab Allah : “ Janji-Ku ini tidak berlaku bagi orang-orang yang aniaya ( Dzalim ) “.

Firman Allah :

وَاِذِابْتَلَى اِبْرَهِمَ رَبُّحُ بِكَلِمَتٍ فَاَتَمَّهُنَّ’ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا’ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ’ قَالَ لاَيَنَالُ عَهْدِى الظَّلِمِيْنَ.
“ Dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat ( perintah dan larangan ), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : “ Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia “.Ibrahim berkata : “ Dan saya mohon juga dari keturunanku “. Allah berfirman : “ Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang dzalim “. ( QS. Al-Baqarah (2) : 124 ).

Hampir semua Nabi dan Rasul Allah, adalah ketu-runan Nabi Ibrahim, AS., termasuk Nabi Muhammad SAW. keturunan Nabi Ismail, anak pertama Nabi Ibrahim.

II. Kepatuhan Hajar
Hajar, karena telah jadi istri Ibrahim yang membe-rinya seorang anak yang sangat dicita - citakan, merasa dirinya sudah setaraf dengan Sarah, malah lebih penting. Hal ini menjadikan Sarah bersedih hati, akhirnya untuk ketenangannya, Sarah perintahkan Ibrahim, Ismail dan Hajar meninggalkannya sendiri.
Nabi Ibrahim bersama Hajar dan Ismail, berangkat menuju ke selatan. Akhirnya sampai di satu daerah padang pasir tandus, gunung batu, dimana tidak ada air, tidak ada tumbuhan, tidak ada manusia dan binatang. Ke-mudian Ibrahim dipanggil Allah kembali ke Palestina. Se-bab istrinya Sarah sudah sangat rindu. Alangkah kaget-nya Hajar mendengar bahwa Ibrahim akan meninggal-kannya di daerah tidak berpenghuni itu, apa yang akan terjadi bila semua air dan makanan persediaannya sudah habis. Namun Ibrahim hanya menjawab bahwa ini, adalah perintah Allah. Setelah mendengar dari mulut Ibrahim sendiri, bahwa itu, adalah perintah Allah, maka Hajar menjadi tenang karena ia yakin tentu Allah, yang men-jamin keselamatan hidupnya bersama anaknya. Sebelum berangkat Ibrahim berdo’a.

Firman Allah SWT.

رَبَّنَااِنِّيْ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍغَيْرِزَرْعٍ عِنْدَبَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَالِيُقِيْمُوْاالصَّلَوةَ فَجْعَلْ اَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرَتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ.

“ Yaa Tuhan kami, aku menempatkan sebagian keturunan-ku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat Rumah Suci-Mu ( Baitullah ) yang dihormati, Yaa Tuhan kami (yang demikian itu), agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur “. ( QS. Ibrahim (14) : 37 ).
Siti Hajar patuh ditinggalkan Ibrahim di daerah padang pasir, tanpa air, tanpa manusia dan tumbuhan. Sesudah semua air dan bekalan habis, Hajar lapar dan haus, begitu juga anaknya ismail. Berulang-ulang Hajar bolak-balik antara bukit Safa dan Marwa mencari air dan minta pertolongan dari musafir yang mungkin ada. Tetapi tidak seorang musafirpun yang berani melalui daerah tan-pa air dan tanpa manusia itu. Karena tidak kuat lagi, Hajar mencium anaknya sambil berdo’a : “Ya Allah karena mematuhi perintah-Mu jualah aku sanggup diting-galkan di sini. Yaa Allah berilah kami air dan buah untuk kami makan “. Allah kabulkan do’a itu dengan me-munculkan telaga zamzam yang mengeluarkan air. Selain dapat minum, maka karena zamzam itu, tempat itu sela-lu didatangi semua musafir untuk minta air. Akhirnya ra-mai menjadi kota Mekkah yang sekarang ini. Hajar dan Ismail dianggap pemilik telaga itu. Hajar mendapat imba-lan dari siapa saja yang mengambil air zamzam itu. Imbalan berupakan buah-buahan dan barang-barang ber-harga. Sampai ia menjadi kaya.

Dalam keadaan seperti ini, maka dibutuhkan seo-rang ibu atau istri yang memiliki keta’atan kepada Allah SWT. dan kepatuhan kepada suami. Tanpa keta’atan dan kepatuhan, maka semua cobaan akan terasa berat dan su-lit. Hajar sebagai seorang ibu atau istri dengan penuh ke-yakinan kepada Allah menjalani semua cobaan itu dengan ikhlash, sehingga terasa ringan.

8 tahun kemudian Nabi Ibrahim, datang mencari istri dan anaknya, bertemu di Arafah dalam keadaan sehat wal afiat dan kaya, karena memiliki telaga zamzam.

III. Kepatuhan Ismail

Nabi Ismail, merupakan suri teladan yang baik ba-gi kita semua, bagaimana seorang anak yang ta’at kepada Allah SWT, patuh dan berbakti kepada kedua orang. Bagaimana rindu dan mesranya bertemu dengan istri dan anak yang ditinggalkan 8 tahun itu, tiba-tiba Allah perin-tahkan, agar Nabi Ibrahim menyembelih leher anaknya sendiri dengan pedangnya sendiri pula. Mimpi seorang Nabi, adalah wahyu dari Allah SWT. yang harus dipatuhi. Ibrahim panggil anaknya Nabi Ismail yang masih beru-mur 8 tahun itu : “ Hai Ismail, aku diperintah dalam mimpi untuk menyembelih lehermu, bagaimana pendapatmu sendiri ? “, Ismail menjawab dengan tegas : “ Jalankanlah perintah itu hai Bapakku, insya Allah aku sabar “.

Kedua hamba Allah itu menuju tempat untuk me-nyembelih leher Ismail. Bertemu dengan seorang yang melarang Ibrahim untuk melakukan perintah itu. Orang itu dilempar Ibrahim dengan batu. Kemudian ada lagi yang melarangnya, juga dilempar. Dan begitu juga untuk ketiga kalinya.

Akhirnya sampailah pada titik klimaksnya kepatu-han itu. Nabi Ibrahim dengan pedang terhunus sudah bersiap untuk menyembelih leher Ismail. Disa’at itu terdengar suara dari atas gunung (Mina) : “ Hai Ibrahim, jangan engkau sembelih leher anakmu, ini adalah ujian. Gerak-gerikmu berdua menunjukkan kamu berdua mema-tuhi perintah Allah SWT . Allah mengirim kibasy. Sembelih-lah kibasy ini sebagai ganti anakmu Ismail “. Ibrahim lalu memotong kibasy itu dan mendendeng dagingnya dan
membagikan sisanya kepada kaum fakir miskin.

Kepatuhan tiga orang hamba Allah itu, luar biasa. Tidak ragu-ragu menjalankan apa saja yang diperintah-kan Allah SWT., sebab yakin akan besar akibat dan man-fa’atnya. Dan dengan kepatuhan itulah jagat raya ini dipertahankan dan dilestarikan Allah. Selama di dunia ini masih ada manusia yang patuh memenuhi perintah Allah, selama itu pula jagat atau alam ini dipertahankan Allah akan adanya. Sebaliknya bila seluruh umat manusia sudah lupa kepada Allah, nama Allah tidak ada lagi yang menye-butnya, maka alam atau jagat ini akan dimusnahkan oleh Allah SWT. Demikian Sabda Rasulullah SAW. menerang-kan wahyu Allah :

“ Kiamat tidak akan terjadi selama di dunia ini masih ada manusia yang menyebut nama Allah, Allah “.

Kelestarian jagat ini bukan bergantung kepada ilmu pengetahuan, bahkan kemajuan ilmu pengetahuan tanpa iman dan taqwa itulah yang mempercepat hancur-nya jagat ini. Kelestarian jagat ini, adalah semata-mata karena kepatuhan manusia terhadap Allah SWT. Manusia yang patuh itulah yang menyebabkan Allah masih menu-runkan hujan, memberi rejeki dan menumbuhkan tum-buh-tumbuhan. Sungguh penting iman, taqwa dan mema-tuhi perintah Allah SWT. dalam hidup ini. Bagaimana ju-ga bodoh dan melaratnya orang beriman dan bertaqwa itu, namun merekalah yang menjadikan jagat ini masih utuh. Kalau bukan karena keberadaan mereka di jagat ini, dunia ini sudah lama dimusnahkan Allah SWT.



Kesimpulan :

1. Ibadah Haji dan Idul Adha, seluruhnya membimbing dan menjuruskan umat manusia penduduk bumi ini, untuk mengenang kembali keteladanan 3 (tiga) orang Hamba Allah SWT., yaitu Ibrahim, Hajar dan Ismail.
2. Dengan keteladanan Nabi Ibrahim AS. dapat kita jadi-kan suri teladan yang baik, oleh para bapak dan pe-mimpin bangsa ini, agar dapat melakukan kewajiban-nya dengan penuh tanggung jawab.
3. keta’atan Hajar kepada Allah SWT. dan Kepatuhan-nya kepada suami, menjadikan dia dapat mengatasi se-gala masalah yang dihadapinya dengan baik.
4. Nabi Ismail, contoh seorang anak yang berbakti pada orang tua, dan selalu menurut kehendak orang tua, se-kalipun harus mengorbankan diri sendiri.
5. Di jaman sekarang ini, dibutuhkan manusia-manusia yang beriman dan bertaqwa, sebagai jaminan lestari-nya alam semesta ini.
6. Marilah kita berlomba-lomba dalam kebajikan sehing-ga terbentuk masyarakat, bangsa yang diridhoi Allah.














DIPERLUKAN MANUSIA YANG BERTAQWA
KEPADA ALLAH SEBAGAI JAMINAN
LESTARINYA ALAM SEMESTA INI.

Dalam Kitab Suci Al-Qur’an di Surat Al-Kautsar :

اِنَّااَعْطَيْنَكَ الْكَوْثَرَ(1) فَصَلّ ِ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) اِنَّ شَا نِئَكَ هُوَاْلاَ بْتَرْ (3).
“ (1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’ mat yang banyak. (2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. (3) Sesungguhnya orang –orang yang membenci kamu dialah yang terputus “. ( QS. Al-Kautsar (108) : 1-3 ).

DR. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsirnya “ Al-Munir “ mengatakan, bahwa kalimat “Fashalli Lirabbika” ( maka shalatlah demi mengabdi kepada tuhanmu ) itu, maksudnya, adalah Shalat Id. Dan dalam surat itu disebutkan secara kronologis :
Pertama, Allah memberi kenikmatan yang banyak, terma-suk kekayaan harta,
Kedua, kita diserukan untuk shalat, diantaranya Shalat Id, Ketiga, kita diperintahkan menyembelih hewan qurban.

Dengan qurban juga. Ini, dipertegas dalam suatu Sabda Rasulullahi SAW. :
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَايَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا ( رَوَاهُ اَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَمَوْقُوْفًا )
“ Barangsiapa ada kemampuan, tetapi tidak berqurban, maka jangan sekali-kali mendekat tempat shalat(mushalla) kami ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah/ Mauquf kepada Abu Hurairah ) “.

Sedangkan memperhatikan fakir miskin termasuk salah satu faktor tercurahnya rezeki dan teratasinya problem. Sabda Rasulullah SAW. :

اِنَّمَاتَنْصُرُوْنَ وَتَرْزُقُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ ( أَخْرَخَهُ الْبُخَارِىْ )
“ Sesungguhnya kamu akan diberi rezeki dan diberi perto-longan oleh Allah lantaran memperhatikan kaum dhu’afa kamu “. ( HR. Bukhari ).

Ada dua peristiwa penting yang terjadi pada hari Idul Adhha :

Peristiwa Pertama :

Disebut Hari Raya Adhha atau Hari Raya Qurban, karena pada hari raya ini yang diikuti dengan tiga hari tasyrik.

Peristiwa Kedua :

Pada tanggal 9 Dzulhijjah ( kemarin ) saudara-sau-dara kita kaum muslimin yang melakukan Ibadah Hajji, melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Dan sekarang ta-nggal 10 Dzulhijjah mereka sedang menyempurnakan Iba-dah Hajjinya melempar jumrah aqabah di Mina, dan sete- rusnya melakukan thawaf ifadhah di Baitullah dan sa’i di Makkah dan seterusnya pada hari tasyriq mereka melaku-kan lempar jumrah di Mina. Dari mulai ihram, wukuf di atau tidak berpangkat. Hanya satu kriteria, yaitu yang paling taqwa kepada Allah itulah yang paling mulia di sisi Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Hujurat, Ayat 13 :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَكُمْ
" Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah, adalah siapa yang paling bertaqwa ". ( QS. Al-Huju-rat ( 49 ) : 13 ).

Karena itu, menurut Ajaran Islam, supaya menem-patkan seseorang itu sesuai dengan keahlian, kecakapan dan kemampuannya. sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.,

اِذَاوُسِّدَّاْلاَ مْرُ اِلَى غَيْرِ اَهْلِهِ فَانْتَظِرِالسَّاعَةَ.
“ Apabila urusan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka nantikanlah kehancurannya “.

Kepatuhan 3 ( tiga ) orang Hamba Allah, terhadap Rabbanya. Dimana ketiga Hamba Allah tersebut, mewakili generasi masing-masing. yakni Generasi Ayah, Generasi Ibu dan Generasi Anak. Dan keteladanan ketiga generasi tersebut, akan kami uraikan satu-persatu :

I. Kepatuhan Ibrahim, AS.

Ibrahim AS., adalah seorang ayah yang sangat patuh kepada Rabnya dan bijaksana. Kepatuhannya itu dibuktikan dengan menta’ati segala perintah Allah SWT. Dialog antara ayah dan anak, dikisahkan kembali oleh Allah SWT. dalam Al-Qur’an, Surat Ash-Shaffat, Ayat 102 :

فَلَمَّابَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَبُنَيَّ اِنِيّْ اَرَىْ فِىالْمَنَامِ اَنِّيْ اَذْ بَحُكَ فَانْظُرْمَاذَاتَرَى, قَالَ يَاَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ, سَتَخِدُ نِيْ اِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّبِرِيْنَ.
“ Maka tatkala anak itu sampai pada umur berusaha ber-sama-sama, lalu Ibrahim berkata kepadanya : “ Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana penda-patmu “. Ismail menjawab : “ Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatkan aku termasuk orang-orang yang sabar “. ( QS. Ash-Shaffat (37) : 102 ).

Ibrahim dan Ismail lulus ujian. keduanya menda-pat pujian dan balasan kesejahteraan dari Allah SWT., sebagaimana Firman-Nya :

قَدْصَدَّ قْتَ الرُّءْ ياَ’ اِنَّاكَذَلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ. اِنَّ هَذَا لَهُوَالْبَلَؤُاالْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنَهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَاعَلَيْهِ فِى اْلاَ خِرِيْنَ. سَلَمٌ عَلَىاِبْرَهِيْمَ.

“ Dan Kami panggilkan dia : “ Wahai Ibrahim, sesungguh-nya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan kam-bing sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian, yaitu kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim “. ( QS. Ashn-Shaffat (37) : 105-109 ).

Dengan keta’atan Ibrahim itulah, maka Allah SWT. memuji dan mengangkatnya menjadi Imam bagi seluruh umat manusia.

Firman Allah :

وَاِذِابْتَلَى اِبْرَهِمَ رَبُّحُ بِكَلِمَتٍ فَاَتَمَّهُنَّ’ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا’ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ’ قَالَ لاَيَنَالُ عَهْدِى الظَّلِمِيْنَ.
“ Dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat ( perintah dan larangan ), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : “ Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia “.Ibrahim berkata : “ Dan saya mohon juga dari keturunanku “. Allah berfirman : “ Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang dzalim “. ( QS. Al-Baqarah (2) : 124 ).

Hampir semua Nabi dan Rasul Allah, adalah ketu-runan Nabi Ibrahim, AS., termasuk Nabi Muhammad SAW. keturunan Nabi Ismail, anak pertama Nabi Ibrahim.

II. Kepatuhan Hajar
Hajar, karena telah jadi istri Ibrahim yang membe-rinya seorang anak yang sangat dicita - citakan, merasa dirinya sudah setaraf dengan Sarah, malah lebih penting. Hal ini menjadikan Sarah bersedih hati, akhirnya untuk ketenangannya, Sarah perintahkan Ibrahim, Ismail dan Hajar meninggalkannya sendiri. Sebelum berangkat Ibrahim berdo’a.

Firman Allah SWT.

رَبَّنَااِنِّيْ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍغَيْرِزَرْعٍ عِنْدَبَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَالِيُقِيْمُوْاالصَّلَوةَ فَجْعَلْ اَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرَتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ.

“ Yaa Tuhan kami, aku menempatkan sebagian keturunan-ku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat Rumah Suci-Mu ( Baitullah ) yang dihormati, Yaa Tuhan kami (yang demikian itu), agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur “. ( QS. Ibrahim (14) : 37 ).

Hajar mencium anaknya sambil berdo’a : “Ya Allah karena mematuhi perintah-Mu jualah aku sanggup diting-galkan di sini. Yaa Allah berilah kami air dan buah untuk kami makan “. Allah kabulkan do’a itu dengan me-munculkan telaga zamzam yang mengeluarkan air. Selain dapat minum, maka karena zamzam itu, tempat itu sela-lu didatangi semua musafir untuk minta air.

III. Kepatuhan Ismail

Nabi Ismail, merupakan suri teladan yang baik ba-gi kita semua, bagaimana seorang anak yang ta’at kepada Allah SWT, patuh dan berbakti kepada kedua orang. Nabi Ibrahim berkata :
“ Hai Ismail, aku diperintah dalam mimpi untuk menyembe-lih lehermu, bagaimana pendapatmu sendiri ? “, Ismail menjawab dengan tegas : “ Jalankanlah perintah itu hai Bapakku, insya Allah aku sabar “.

Terdengar suara dari atas gunung (Mina) : “ Hai Ibrahim, jangan engkau sembelih leher anakmu, ini adalah ujian. Gerak-gerikmu berdua menunjukkan kamu berdua mema-tuhi perintah Allah SWT . Allah mengirim kibasy. Sembelih-lah kibasy ini sebagai ganti anakmu Ismail “.

“ Kiamat tidak akan terjadi selama di dunia ini masih ada manusia yang menyebut nama Allah, Allah “.

Kelestarian jagat ini bukan bergantung kepada ilmu pengetahuan, bahkan kemajuan ilmu pengetahuan tanpa iman dan taqwa itulah yang mempercepat hancur-nya jagat ini. Kelestarian jagat ini, adalah semata-mata karena kepatuhan manusia terhadap Allah SWT. Manusia yang patuh itulah yang menyebabkan Allah masih menu-runkan hujan, memberi rejeki dan menumbuhkan tum-buh-tumbuhan. Sungguh penting iman, taqwa dan mema-tuhi perintah Allah SWT. dalam hidup ini. Bagaimana ju-ga bodoh dan melaratnya orang beriman dan bertaqwa itu, namun merekalah yang menjadikan jagat ini masih utuh. Kalau bukan karena keberadaan mereka di jagat ini, dunia ini sudah lama dimusnahkan Allah SWT.

Kesimpulan :

1. Ibadah Haji dan Idul Adha, seluruhnya membimbing dan menjuruskan umat manusia penduduk bumi ini, untuk mengenang kembali keteladanan 3 (tiga) orang Hamba Allah SWT., yaitu Ibrahim, Hajar dan Ismail.
2. Dengan keteladanan Nabi Ibrahim AS. dapat kita jadi-kan suri teladan yang baik, oleh para bapak dan pe-mimpin bangsa ini, agar dapat melakukan kewajiban-nya dengan penuh tanggung jawab.
3. keta’atan Hajar kepada Allah SWT. dan Kepatuhan-nya kepada suami, menjadikan dia dapat mengatasi se-gala masalah yang dihadapinya dengan baik.
4. Nabi Ismail, contoh seorang anak yang berbakti pada orang tua, dan selalu menurut kehendak orang tua, se-kalipun harus mengorbankan diri sendiri.
5. Di jaman sekarang ini, dibutuhkan manusia-manusia yang beriman dan bertaqwa, sebagai jaminan lestari-nya alam semesta ini.
6. Marilah kita berlomba-lomba dalam kebajikan sehing-ga terbentuk masyarakat, bangsa yang diridhoi Allah.








IDUL ADHA 1425 H, / 2005 M.

Kembali kita bersyukur kepada Allah SWT., karena hari ini, Jum’at tanggal 10 Dzulhijjah 1425 H., bertepatan dengan tanggal 21 Januari 2005 M.

I. Pengertian :

Kurban (Arab, Qurb, Qurban = Dekat atau mendekati). Yaitu acara penyembelihan binatang ternak yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. (disebut juga Udhiyah = Dahwah, Duha, Dahiyah = menyembelih binatang di waktu matahari sedang naik dipagi hari).

Korban = Orang, binatang, yang menjadi menderita akibat suatu kejadian, perbuatan jahat.











MENUMBUHKAN SEMANGAT BERKORBAN
IDUL ADHA 1426 H. / 2006 M.

OLEH : DRS. MASHUR DULMANG ENCHO

Kembali kita bersyukur kepada Allah SWT., karena hari ini, Selasa tanggal 10 Dzulhijjah 1426 H., bertepatan dengan tanggal 10 Januari 2006 M.

I. Pengertian :
A. Kurban ( Arab, Qurb, Qurban = Dekat atau mende-
kati ). Yaitu acara penyembelihan binatang ternak yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. (disebut juga Udhiyah = Dahwah, Duha, Dahiyah =menyembelih binatang di waktu matahari sedang naik dipagi hari).

2:a. Korban = Orang, binatang, yang menjadi menderita akibat suatu kejadian, perbuatan jahat.

mengisyaratkan dalam kitab suci-Nya Al-Qur’an di Surat Al-Kautsar :

اِنَّااَعْطَيْنَكَ الْكَوْثَرَ(1) فَصَلّ ِ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) اِنَّ شَا نِئَكَ هُوَاْلاَ بْتَرْ (3).
“ (1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’ mat yang banyak. (2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. (3) Sesungguhnya orang –orang yang membenci kamu dialah yang terputus “. ( QS. Al-Kautsar (108) : 1-3 ).

DR. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsirnya “ Al-Munir “ mengatakan, bahwa kalimat “Fashalli Lirabbika” ( maka shalatlah demi mengabdi kepada tuhanmu ) itu, maksudnya, adalah Shalat Id. Dan dalam surat itu disebutkan secara kronologis :
Pertama, Allah memberi kenikmatan yang banyak, terma-suk kekayaan harta,
Kedua, kita diserukan untuk shalat, diantaranya Shalat Id, Ketiga, kita diperintahkan untuk menyembelih hewan qurban.

Kalau ketiga-tiganya itu dapat terlaksana dengan baik dan tuntas, maka Allah menjamin, bahwa para pen-cela Islam itu akan kecele ( Al-Abtar ). Ini menunjukkan bahwa orang - orang kaya itu dalam merayakan Idul Adhha tidak cukup dengan shalat, tetapi harus disertai dengan qurban juga.


اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Setiap kita merayakan Idul Adha, ada peristiwa yang tidak bisa dipisahkan dari hari raya Idul Adha itu, yaitu mengenang profil manusia agung yang sangat patut untuk kita teladani, yaitu Nabi Ibrahim AS., Siti Hajar dan Nabi Ismail AS. Allah SWT. sendiri telah mengemukakan hal ini dalam firman-Nya Surat Al-Mumtahanah (60) : 4.




“ Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia.

Karena keteladanan yang luar biasa, maka profil keluarga Nabi Ibrahim ini, semakin kita pelajari, semakin kita dapati kedalaman pribadinya yang agung, semakin kita temukan kebaikan-kebaikan untuk kita aktualisasikan dalam kehidupan kita sekarang dan masa-masa yang akan datang. Salah satu pelajaran penting yang akan kita peroleh adalah betapa besar semangat pengorbanan yang telah ditunjukkannya dalam hidup ini dan inilah yang harus kita teladani.

اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Meskipun semangat pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim harus kita teladani, tapi dalam hidup ini, kita dapati betapa banyak orang yang tidak mau berkorban, padahal berkorban itu merupakan suatu keharusan dan kemestian dalam kehidupan sebagai muslim. Agar kita mau berkorban di jalan yang benar, maka semangat berkorban harus kita tumbuhkan terlebih dahulu dan untuk menumbuhkannya, kita harus mengetahui apa saja kita yang harus kita lakukan untuk menumbuhkan dan memantapkan semangat berkorban itu. Dalam khutbah Idul Adha kali ini akan kita bahas LIMA (5) kiat atau cara yang harus kita lakukan untuk menumbuhkan dan mengokohkan semangat berkorban.

I. Pertama, menyadari besarnya nilai pengor-banan.

Seseorang akan tumbuh dan semakin kokoh sema-ngatnya untuk berkorban manakala menyadari betapa besar nilai atau pahala dan keutamaan dari pengorbanan yang dilakukannya, meskipun yang dikorbankan itu nilai-nya kecil, tapi bila hal itu dilakukan memang berdasarkan kemampuannya, maka nilai pahalanya tetap menjadi besar. Seorang muslim bisa saja berkorban dengan apa saja yang dimilikinya bagi kepentingan dan perjuangan menegakkan kebenaran. Kalau kita bisa berkorban dengan tenaga, korbankanlah tenaga kita itu untuk menegakkan kebena-ran, begitu juga bila kita punya waktu, ilmu, keterampilan, harta, kekuasaan dan apapun yang kita miliki, maka kita harus mengorbankannya dengan penuh keikhlasan, sehingga akan kita peroleh nilai pahala yang besar.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT. memberikan perumpa-maan tentang orang yang mengorbankan hartanya di jalan Allah dengan gambaran pahala yang amat besar.






“ Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap butir : seratus biji. Allah melipat gan-dakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui “
( QS. Al-Baqarah (2) : 261.
Sedangkan apabila kita punya ilmu tentang kebaikan, lalu kita berkorban dengan mengajarkan ilmu itu lalu orang yang kita ajari menjadi baik dan benar sikap dan prilaku hidupnya, maka apabila itu dilandasi keikhlasan kita akan memperoleh pahala yang sangat besar. Rasulullah SAW. Bersabda :



“ Barangsiapa menyeru kepada kebaikan, maka baginya pahala kebaikan sebanyak pahala orang yang mengerja-kannya “ ( HR. Muslim ).

Dengan menyadari betapa besar pahala atau keutamaan yang akan kita peroleh dari pengorbanan yang kita lakukan, insya Allah akan tumbuh semangat kita untuk melakukan pengorbanan dengan apapun yang kita miliki dalam rangka menegakkan kebenaran Islam.


اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

II. Kedua, menyadari bahwa kemajuan yang kita capai, adalah karena adanya pengorba-nan orang lain.
Semangat berkorban juga bisa kita tumbuhkan pada diri kita masing-masing kalau kita menyadari, bahwa kita menjadi seperti sekarang ini salah satunya, adalah karena adanya pengorbanan orang lain. kita menjadi besar secara jasmani, karena pengorbanan Ayah dan Ibu kita, kita bisa membaca, karena pengorbanan guru yang mengajarkan kita, kita memperoleh rizki juga dengan sebab pengorba-nan orang lain dan begitulah seterusnya.

Ini berarti, setiap kemajuan yang kita raih ; baik berupa kekuatan rohani, kesehatan jasmani, kecerdasan akal dengan ilmu yang banyak, kedudukan yang kita peroleh, popularitas yang kita capai dan segala kemajuan lainnya, semua itu tidak bisa dilepaskan dari andil pengor-banan orang lain, sekecil apapun pengorbanan mereka, baik langsung maupun tidak langsung.

Maka dengan menyadari hal itu, kalau orang lain sudah berkorban dengan apa yang mereka miliki lalu kita memperoleh manfaat dari pengorbanan mereka, mengapa kita tidak mau berkorban ?. Itulah yang kita maksud dengan menyadari, bahwa kemajuan kita, adalah karena pengorbanan orang lain. Sehingga sebagai salah satu wu-jud rasa terima kasih kita kepada mereka, adalah dengan berkorban dalam hidup ini pada hal-hal yang dibenarkan Allah dan Rasul-Nya.

Oleh karena itu sebagai manusia, kita tidak boleh menyombongkan diri dengan menyatakan, bahwa kema-juan yang kita capai, adalah semata-mata dari hasil usaha sendiri, sama sekali tidak ada campur tangan orang lain, itu namanya tidak menghargai pengorbanan yang telah dilakukan orang lain terhadap kita. Sebab jangankan kita, Allah SWT. saja menghargai para pihak lain yang telah ikut andil dalam mencapai sesuatu, misalnya dalam proses menurunkan wahyu, Allah SWT. melibatkan Malaikat, sehingga Allah SWT. tidak menggunakan kata Ana atau “Aku “, tetapi menggunakan kata Nahnu “ Kami “, sebagaimana dalam Firman-Nya, Surat Al-Hijr (15) : 9.




“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya “.

اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

III. Ketiga, menyadari bahwa betapa besar tun- tutan berkorban terhadap kita

Hal ini karena sekecil apapun potensi yang kita miliki atau sedikit apapun harta yang kita miliki sebenar-nya masih bisa kita korbankan dalam menghadapi dan mengatasi persoalan umat sekarang ini yang sedemikian besar. Kondisi umat yang begitu besar problematikanya amat menuntut perhatian setiap Muslim untuk mencurah-kan segala potensi yang dimilikinya bagi upaya perbaikan atau peningkatan kualitas dan kuantitas umat.

Perjuangan menegakkan kebenaran, semakin lama kita rasakan semakin berat, meskipun dukungan sumber daya manusia, dana dan fasilitas yang semakin baik. Tetapi memang demikianlah hakikat perjuangan menegak-kan nilai-nilai Islam. Hal ini karena bidang garap perjua-ngan semakin lama, harus semakin banyak, seiring dengan sumber daya manusia yang dimiliki, begitu juga dengan wilayah sentuhan dan garapan perjuangan yang harus semakin luas. Menyadari hal ini membuat kita akan berke-simpulan, bahwa perjuangan menegakkan Islam tidak akan rampung atau belum tentu terlihat hasilnya bila di-bandingkan dengan pendeknya usia kita.


اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

IV. Keempat, dengan mengenal profil orang yang telah berkorban.
Sejarah mencatat begitu banyak tokoh-tokoh yang telah berkorban dengan waktu, tenaga, fikiran, harta dan segala yang dimilikinya hingga nyawa sekalipun bagi tegak nya kebenaran Islam. Kalau kita telah mengenal tokoh-tokoh pejuang dengan pengorbanan yang luar biasa itu, lalu membandingkannya dengan diri kita, maka akan tera-sa betapa kita ini belum apa-apa dalam soal pengorbanan meskipun mungkin kita merasa sudah besar dalam berkor-ban.

Sederet sahabat Nabi yang telah berkorban memerlu-kan berjilid-jilid buku kalau harus diceritakan secara dettail, begitu juga dengan generasi berikutnya hingga hari ini, belum lagi generasi terdahulu sebelum Rasulullah SAW Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, telah berkorban dengan hartanya, bahkan hingga hartanya habis dalam perjuangan, itupun masih dilakukan pengorbanan dengan tenaga, waktu, fikiran hingga beliau menggerakkan anak-anaknya, termasuk yang perempuan untuk mendukung perjuangan. Sahabat Hanzholah, meninggalkan isterinya yang baru dinikahinya di malam pertama menjelang fajar meskipun dia belum mandi junub guna memenuhi panggilan jihad, lalu dia bertempur dan Mati Syahid, sehingga Rasulullah SAW. melihat jenazahnya sedang dimandikan oleh Malai-kat, begitulah seterusnya pada banyak kisah tokoh-tokoh pejuang yang berkorban di Jalan Allah.


اَللَّهُ أَكْبَرْ’ اَللَّهُ أَكْبَرْ’ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

V. Kelima, dengan menyadari jeleknya sifat kikir.

Kita hendaknya menyadari, bahwa sifat kikir sangat jelek, baik kikir dalam soal ilmu, harta maupun dalam masalah lainnya yang membuat kita tidak mau berkorban. Jeleknya sifat kikir nampak dari siksa yang disediakan Allah di Akhirat kelak, sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa (4) : 37.





“ Orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghi-nakan “.

Berkenan dengan berkorban pada Idul Adha, Rasulullah SAW. bersabda :

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَايَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا ( رَوَاهُ اَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَمَوْقُوْفًا )
“ Barangsiapa ada kemampuan, tetapi tidak berqurban, maka jangan sekali-kali mendekat tempat shalat(mushalla) kami ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah/ Mauquf kepada Abu Hurairah ) “.

Akhirnya, semakin jelas bagi kita, bahwa keharusan berkorban di Jalan Allah membuat kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk memiliki semangat berkorban. Perjuangan apapun selalu menuntut adanya pengorbanan, apalagi perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam di muka bumi ini. Demikian Khutbah Idul Adha yang singkat ini, semoga Allah SWT. memberikan manfaat kepada kita semua. Amin ya Rabbal Alamin.











5 KIAT UNTUK MENUMBUHKAN DAN MEMPERKOKOH SEMANGAT BERKORBAN

A. Pertama, menyadari besarnya nilai pengor-banan.

II. Kedua, menyadari bahwa kemajuan yang kita capai, adalah karena adanya pengorba-nan orang lain.

III. Ketiga, menyadari bahwa betapa besar tun- tutan berkorban terhadap kita

IV. Keempat, dengan mengenal profil orang yang telah berkorban.

V. Kelima, dengan menyadari jeleknya sifat kikir.

Terjemahan Kitab Safinah

Terjemahan Kitab Safinah

بسم الله الرحمن الرحيم
(Muqoddimah)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji hanya kepada Allah Tuhan semesta alam, dan kepadaNya jualah kita memohon pertolongan atas segala perkara dunia dan akhirat. Dan shalawat serta salamNya semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW Penutup para nabi, juga terhadap keluarga, sahabat sekalian. Dan tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.

(BAB I)
“Aqidah”
(Fasal Satu)
Rukun Islam ada lima perkara, yaitu:
1. Bersaksi bahwa tiada ada tuhan yang haq kecuali Alloh Subhaanahu wa Ta'aala dan Nabi Muhammad Sholalloohu 'Alayhi wa Sallam adalah utusanNya.
2. Mendirikan sholat (lima waktu).
3. Menunaikan zakat.
4. Puasa Romadhan.
5. Ibadah haji ke baitullah bagi yang telah mampu melaksanakannya.
(Fasal Dua)
Rukun iman ada enam, yaitu:
1. Beriman kepada Alloh Subhaanahu wa Ta'aala.
2. Beriman kepada sekalian Mala’ikat
3. Beriman dengan segala kitab-kitab suci.
4. Beriman dengan sekalian Rosul-rosul.
5. Beriman dengan hari kiamat.
6. Beriman dengan ketentuan baik dan buruknya dari Alloh Subhaanahu wa Ta'aala.
(Fasal Tiga)
Adapun arti “La ilaha illah”, yaitu: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dalam kenyataan selain Alloh.
(BAB II)
“Thoharoh”
(Fasal Satu)
Adapun tanda-tanda balig (mencapai usia remaja) seseorang ada tiga, yaitu:
1. Berumur seorang laki-laki atau perempuan lima belas tahun.
2. Bermimpi (junub) terhadap laki-laki dan perempuan ketika melewati sembilan tahun.
3. Keluar darah haidh sesudah berumur sembilan tahun .
(Fasal Dua)
Syarat boleh menggunakan batu untuk beristinja ada delapan, yaitu:
1. Menggunakan tiga batu.
2. Mensucikan tempat keluar najis dengan batu tersebut.
3. Najis tersebut tidak kering.
4. Najis tersebut tidak berpindah.
5. Tempat istinja tersebut tidak terkena benda yang lain sekalipun tidak najis.
6. Najis tersebut tidak berpindah tempat istinja (lubang kemaluan belakang dan kepala kemaluan depan) .
7. Najis tersebut tidak terkena air .
8. Batu tersebut suci.
(Fasal Tiga)
Rukun wudhu ada enam, yaitu:
1. Niat.
2. Membasuh muka
3. Membasuh kedua tangan serta siku.
4. Menyapu sebagian kepala.
5. Membasuh kedua kaki serta buku lali.
6. Tertib.
(Fasal Empat)
Niat adalah menyengaja suatu (perbuatan) berbarengan (bersamaan) dengan perbuatannya didalam hati. Adapun mengucapkan niat tersebut maka hukumnya sunnah, dan waktunya ketika pertama membasuh sebagian muka.
Adapun tertib yang dimaksud adalah tidak mendahulukan satu anggota terhadap anggota yag lain (sebagaimana yang telah tersebut).
(Fasal Lima)
Air terbagi kepada dua macam; Air yang sedikit. Dan air yang banyak.
Adapun air yang sedikit adalah air yang kurang dari dua qullah . Dan air yang banyak itu adalah yang sampai dua qullah atau lebih.
Air yang sedikit akan menjadi najis dengan sebab tertimpa najis kedalamnya, sekalipun tidak berubah. Adapun air yang banyak maka tdak akan menjadi najis kecuali air tersebut telah berubah warna, rasa atau baunya.
(Fasal Enam)
Yang mewajibkan mandi ada enam perkara, yaitu:
1- Memasukkan kemaluan (kepala dzakar) ke dalam farji (kemaluan) perempuan.
2- Keluar air mani.
3- Mati.
4- Keluar darah haidh [datang bulan].
5- Keluar darah nifas [darah yang keluar setelah melahirkan].
6- Melahirkan.
(Fasal Tujuh)
Fardhu–fardhu (rukun) mandi yang diwajibkan ada dua perkara, yaitu:
1- Niat mandi wajib.
2- Menyampaikan air ke seluruh tubuh dengan sempurna.
(Fasal Delapan)
Syarat– Syarat Wudhu` ada sepuluh, yaitu:
1- Islam.
2- Tamyiz (cukup umur dan ber’akal).
3- Suci dari haidh dan nifas.
4- Lepas dari segala hal dan sesuatu yang bisa menghalang sampai air ke kulit.
5- Tidak ada sesuatu disalah satu anggota wudhu` yang merubah keaslian air.
6- Mengetahui bahwa hukum wudhu` tersebut adalah wajib.
7- Tidak boleh beri`tiqad (berkeyakinan) bahwa salah satu dari fardhu–fardhu wudhu` hukumnya sunnah (tidak wajib).
8- Kesucian air wudhu` tersebut.
9- Masuk waktu sholat yang dikerjakan.
10- Muwalat .
Dua syarat terakhir ini khusus untuk da`im al-hadats .
(Fasal Sembilan)
Yang membatalkan wudhu` ada empat, yaitu:
1- Apa bila keluar sesuatu dari salahsatu kemaluan seperti angin dan lainnya, kecuali air mani.
2- Hilang akal seperti tidur dan lain lain, kecuali tidur dalam keadaan duduk rapat bagian punggung dan pantatnya dengan tempat duduknya, sehingga yakin tidak keluar angin sewaktu tidur tersebut
3- Bersentuhan antara kulit laki–laki dengan kulit perempuan yang bukan muhrim baginya dan tidak ada penghalang antara dua kulit tersebut seperti kain dll.
”Mahram”: (orang yang haram dinikahi seperti saudara kandung).
4- Menyentuh kemaluan orang lain atau dirinya sendiri atau menyentuh tempat pelipis dubur (kerucut sekeliling) dengan telapak tangan atau telapak jarinya.
(Fasal Sepuluh)
Larangan bagi orang yang berhadats kecil ada tiga, yaitu:
1- Shalat, fardhu maupun sunnah.
2- Thowaaf (keliling ka`bah tujuh kali).
3- Menyentuh kitab suci Al-Qur`an atau mengangkatnya.
Larangan bagi orang yang berhadats besar (junub) ada lima, yaitu:
1- Sholat.
2- Thowaaf.
3- Menyentuh Al-Qur`an.
4- Membaca Al-Qur`an.
5- I`tikaf (berdiam di masjid).
Larangan bagi perempuan yang sedang haidh ada sepuluh, yaitu:
1- Sholat.
2- Thowaaf.
3- Menyentuh Al-Qur`an.
4- Membaca Al-Qur`an.
5- Puasa
6- I’tikaf di masjid.
7- Masuk ke dalam masjid sekalipun hanya untuk sekedar lewat jika ia takut akan mengotori masjid tersebut.
8- Cerai, karena itu, di larang suami menceraikan isterinya dalam keadaan haidh.
9- Jima`.
10- Bersenang – senang dengan isteri di antara pusar dan lutut.
(Fasal Sebelas)
Sebab – Sebab yang membolehkan tayammum ada tiga hal, yaitu:
1- Tidak ada air untuk berwudhu`.
2- Ada penyakit yang mengakibatkan tidak boleh memakai air.
3- Ada air hanya sekedar mencukupi kebutuhan minum manusia atau binatang yang Muhtaram .
Adapun selain Muhtaram ada enam macam, yaitu:
1- Orang yang meninggalkan sholat wajib.
2- kafir Harbiy (yang boleh di bunuh).
3- Murtad.
4- Penzina dalam keadaan Ihshan (orang yang sudah ber’aqad nikah yang sah).
5- Anjing yang menyalak (tidak menta`ati pemiliknya atau tidak boleh dipelihara).
6- Babi.
(Fasal Dua Belas)
Syarat–Syarat mengerjakan tayammum ada sepuluh, yaitu:
1- Bertayammum dengan tanah.
2- Menggunakan tanah yang suci tidak terkena najis.
3- Tidak pernah di pakai sebelumnya (untuk tayammaum yang fardhu).
4- Murni dari campuran yang lain seperti tepung dan seumpamanya.
5- Mengqoshod atau menghendaki (berniat) bahwa sapuan dengan tanah tersebut untuk di jadikan tayammum.
6- Masuk waktu shalat fardhu tersebut, sebelum tayammum.
7- Bertayammum tiap kali sholat fardhu tiba.
8- Berhati – hati dan bersungguh – sungguh dalam mencari arah qiblat sebelum memulai tayammum.
9- Menyapu muka dan dua tangannya dengan dua kali mengusap tanah tayammum secara masing – masing (terpisah).
10- Menghilangkan segala najis di badan terlebih dahulu.
(Fasal Tiga Belas)
Rukun-rukun tayammum ada lima, yaitu:
1. Memindah debu.
2. Niat.
3. Mengusap wajah.
4. Mengusap kedua belah tangan sampai siku.
5. Tertib antara dua usapan.
(Fasal Empat Belas)
Perkara yang membatalkan tayammum ada tiga, yaitu:
1. Semua yang membatalkan wudhu’.
2. Murtad.
3. Ragu-ragu terdapatnya air, apabila dia bertayammum karena tidak ada air.
(Fasal Lima Belas)
Perkara yang menjadi suci dari yang asalnya najis ada tiga, yaitu:
1. Khamar (air yang diperah dari anggur) apabila telah menjadi cuka.
2. Kulit binatang yang disamak.
3. Semua najis yang telah berubah menjadi binatang.
(Fasal Enam Belas)
Macam macam najis ada tiga, yaitu:
1. Najis besar (Mughallazoh), yaitu Anjing, Babi atau yang lahir dari salah satunya.
2. Najis ringan (Mukhaffafah), yaitu air kencing bayi yang tidak makan, selain susu dari ibunya, dan umurnya belum sampai dua tahun.
3. Najis sedang (Mutawassithoh), yaitu semua najis selain dua yang diatas.
(Fasal Tujuh Belas)
Cara menyucikan najis-najis:
Najis besar (Mughallazoh), menyucikannya dengan membasuh sebanyak tujuh kali, salah satunya menggunakan debu, setelah hilang ‘ayin (benda) yang najis.
Najis ringan (Mukhaffafah), menyucikannya dengan memercikkan air secara menyeluruh dan menghilangkan ‘ayin yang najis.
Najis sedang (Mutawassithoh) terbagi dua bagian, yaitu:
1. 'Ainiyyah yaitu najis yang masih nampak warna, bau, atau rasanya, maka cara menyucikan najis ini dengan menghilangkan sifat najis yang masih ada.
2. Hukmiyyah, yaitu najis yang tidak nampak warna, bau dan rasanya, maka cara menyucikan najis ini cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis tersebut.
(Fasal Delapan Belas)
Darah haid yang keluar paling sedikit sehari semalam, namun pada umumnya selama enam atau tujuh hari, dan tidak akan lebih dari 15 hari. Paling sedikit masa suci antara dua haid adalah 15 hari, namun pada umumnya 24 atau 23 hari, dan tidak terbatas untuk masa sucinya. Paling sedikit masa nifas adalah sekejap, pada umumnya 40 hari, dan tidak akan melebihi dari 60 hari.
(BAB III)
“SHALAT”
(Fasal Satu)
Udzur( ) sholat:
1. Tidur .
2. Lupa.
(Fasal Dua)
Syarat sah shalat ada delapan, yaitu:
1. Suci dari hadats besar dan kecil.
2. Suci pakaian, badan dan tempat dari najis.
3. Menutup aurat.
4. Menghadap kiblat.
2. Masuk waktu sholat.
3. Mengetahui rukun-rukan sholat.
4. Tidak meyakini bahwa diantara rukun-rukun sholat adalah sunnahnya
5. Menjauhi semua yang membatalkan sholat.
Macam-macam hadats: Hadats ada dua macam, yaitu: Kecil dan Besar.
Hadats kecil adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk berwudhu’, sedangkan hadats besar adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk mandi.
Macam macam aurat: Aurat ada empat macam, yaitu:
1. Aurat semua laki-laki (merdeka atau budak) dan budak perempuan ketika sholat, yaitu antara pusar dan lutut.
2. Aurat perempuan merdeka ketika sholat, yaitu seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.
3. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki yang ajnabi (bukan muhrim), yaitu seluruh badan.
4. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki muhrimya dan perempuan, yaitu antara pusar dan lutut.
(Fasal Tiga)
Rukun sholat ada tujuh belas, yaitu:
1. Niat.
2. Takbirotul ihrom (mengucapkan “Allahuakbar).
3. Berdiri bagi yang mampu.
4. Membaca fatihah.
5. Ruku’ (membungkukkan badan).
6. Thuma’ninah (diam sebentar) waktu ruku’.
7. I’tidal (berdiri setelah ruku’).
8. Thuma’ninah (diam sebentar waktu i’tidal).
9. Sujud dua kali.
10. Thuma’ninah (diam sebentar waktu sujud).
11. Duduk diantara dua sujud.
12. Thuma’ninah (diam sebentar ketika duduk).
13. Tasyahud akhir (membaca kalimat-kalimat yang tertentu).
14. Duduk diwaktu tasyahud.
15. Sholawat (kepada nabi).
16. Salam (kepada nabi).
17. Tertib (berurutan sesuai urutannya).
(Fasal Empat)
Niat itu ada tiga derajat, yaitu:
3. Jika sholat yang dikerjakan fardhu, diwajibkanlah niat qasdul fi’li (mengerjakan shalat tersebut), ta’yin (nama sholat yang dikerjakan) dan fardhiyah (kefardhuannya).
4. Jika sholat yang dikerjakan sunnah yang mempunyai waktu atau mempunyai sebab, diwajibkanlah niat mengerjakan sholat tersebut dan nama sholat yang dikerjakan seperti sunah Rowatib (sebelum dan sesudah fardhu-fardhu).
5. Jika sholat yang dikerjakan sunnah Mutlaq (tanpa sebab), diwajibkanlah niat mengerjakan sholat tersebut saja.
Yang dimaksud dengan qasdul fi’li adalah aku beniat sembahyang (menyenghajanya), dan yang dimaksud ta’yin adalah seperti dzuhur atau asar, adapun fardhiyah adalah niat fardhu.
(Fasal Lima)
Syarat takbirotul ihrom ada enam belas, yaitu:
1. Mengucapkan takbirotul ihrom tersebut ketika berdiri (jika sholat tersebut fardhu).
2. Mengucapkannya dengan bahasa Arab.
3. Menggunakan lafal “Allah”.
4. Menggunakan lafal “Akbar”.
5. Berurutan antara dua lafal tersebut.
6. Tidak memanjangkan huruf “Hamzah” dari lafal “Allah”.
7. Tidak memanjangkan huruf “Ba” dari lafal “Akbar”.
8. Tidak mentaysdidkan (mendobelkan/mengulang) huruf “Ba” tersebut.
9. Tidak menambah huruf “Waw” berbaris atau tidak antara dua kalimat tersebut.
10. Tidak menambah huruf “Waw” sebelum lafal “Allah”.
11. Tidak berhenti antara dua kalimat sekalipun sebentar.
12. Mendengarkan dua kalimat tersebut.
13. Masuk waktu sholat tersebut jika mempuyai waktu.
14. Mengucapkan takbirotul ihrom tersebut ketika menghadap qiblat.
15. Tidak tersalah dalam mengucapkan salah satu dari huruf kalimat tersebut.
16. Takbirotul ihrom ma’mum sesudah takbiratul ihrom dari imam.
(Fasal Enam)
Syarat-syarat sah membaca surat al-Fatihah ada sepuluh, yaitu:
1. Tertib (yaitu membaca surat al-Fatihah sesuai urutan ayatnya).
2. Muwalat (yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus).
3. Memperhatikan makhroj huruf (tempat keluar huruf) serta tempat-tempat tasydid.
4. Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.
5. Membaca semua ayat al-Fatihah.
6. Basmalah termasuk ayat dari al-fatihah.
7. Tidak menggunakan lahan (lagu) yang dapat merubah makna.
8. Memabaca surat al-Fatihah dalam keaadaan berdiri ketika sholat fardhu.
9. Mendengar surat al-Fatihah yang dibaca.
10. Tidak terhalang oleh dzikir yang lain.
(Fasal Tujuh)
Tempat-tempat tasydid dalam surah al-fatihah ada empat belas, yaitu:
1. Tasydid huruf “Lam” jalalah pada lafal (الله ).
2. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal (( الرّحمن .
3. Tasydid huruf “Ra’” pada lapal ( الرّحيم).
4. Tasydid “Lam” jalalah pada lafal ( الحمد لله).
5. Tasydid huruf “Ba’” pada kalimat (ربّ العالمين ).
6. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal (الرّحمن ).
7. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal ( الرّحيم).
8. Tasydid huruf “Dal” pada lafal (الدّين ).
9. Tasydid huruf “Ya’” pada kalimat إيّاك نعبد) ).
10. Tasydid huruf “Ya” pada kalimat (وإيّاك نستعين ).
11. Tasydid huruf “Shad” pada kalimat ( اهدنا الصّراط المستقيم).
12. Tasydid huruf “Lam” pada kalimat (صراط الّذين ).
13. Tasydid “Dhad” pada kalimat (ولا الضالين).
14. Tasydid huruf “Lam” pada kalimat (ولا الضالين).

(Fasal Delapan)
Tempat disunatkan mengangkat tangan ketika shalat ada empat, yaitu:
1. Ketika takbiratul ihram.
2. Ketika Ruku’.
3. Ketika bangkit dari Ruku’ (I’tidal).
4. Ketika bangkit dari tashahud awal.
(Fasal Sembilan)
Syarat sah sujud ada tujuh, yaitu:
1. Sujud dengan tujuh anggota.
2. Dahi terbuka (jangan ada yang menutupi dahi).
3. Menekan sekedar berat kepala.
4. Tidak ada maksud lain kecuali sujud.
5. Tidak sujud ketempat yang bergerak jika ia bergerak.
6. Meninggikan bagian punggung dan merendahkan bagian kepala.
7. Thuma’ninah pada sujud.
Penutup:
Ketika seseorang sujud anggota tubuh yang wajib di letakkan di tempat sujud ada tujuh, yaitu:
1. Dahi.
2. Bagian dalam dari telapak tangan kanan.
3. Bagian dalam dari telapak tangan kiri.
4. Lutut kaki yang kanan.
5. Lutut kaki yang kiri.
6. Bagian dalam jari-jari kanan.
7. Bagian dalam jari-jari kiri.
(Fasal Sepuluh)
Dalam kalimat tasyahud terdapat dua puluh satu harakah (baris) tasydid, enam belas di antaranya terletak di kalimat tasyahud yang wajib di baca, dan lima yang tersisa dalam kalimat yang menyempurnakan tasyahud (yang sunah dibaca), yaitu:
1. “Attahiyyat”: harakah tasydid terletak di huruf “Ta’”.
2. “Attahiyyat”: harakah tasydid terletak di huruf “Ya’”.
3. “Almubarakatusshalawat”: harakah tasydid di huruf “Shad”.
4. “Atthayyibaat”: harakah tasydid di huruf “Tha’”.
5. “Atthayyibaat”: harakah tasydid di huruf “ya’”.
6. “Lillaah”: harakah tasydid di “Lam” jalalah.
7. “Assalaam”: di huruf “Sin”.
8. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Ya’”.
9. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Nun”.
10. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Ya’”.
11. “Warohmatullaah”: di “Lam” jalalah.
12. “Wabarakatuh, assalaam”: di huruf “Sin”.
13. “Alainaa wa’alaa I’baadillah”: di “Lam” jalalah.
14. “Asshalihiin”: di huruf shad.
15. “Asyhaduallaa”: di “Lam alif”.
16. “Ilaha Illallaah”: di “Lam alif”.
17. “Illallaah”: di “Lam” jalalah.
18. “Waasyhaduanna”: di huruf “Nun”.
19. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Mim”.
20. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Ra’”.
21. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Lam” jalalah.
(Fasal Sebelas)
Sekurang-kurang kalimat shalawat nabi yang memenuhi standar kewajiban di tasyahud akhir adalah Alloohumma sholliy ’alaa Muhammad.
(Adapun).harakat tasydid yang ada di kalimat shalawat nabi tersebut ada di huruf “Lam” dan “Mim” di lafal “Allahumma”. Dan di huruf “Lam” di lafal “Shalli”. Dan di huruf “Mim” di Muhammad.
(Fasal Dua Belas)
Sekurang-kurang salam yang memenuhi standar kewajiban di tasyahud akhir adalah Assalaamu’alaikum. Adpun Harakat tasydid yang ada di kalimat tersebut terletak di huruf “Sin”.
(Fasal Tiga Belas)
Waktu waktu shalat.
1. Waktu shalat dzuhur:
Dimulai dari tergelincirnya matahari dari tengah-tengah langit kearah barat dan berakhir ketika bayangan suatu benda menyamai ukuran panjangnya dengan benda tersebut.
2. Waktu salat Ashar:
Dimulai ketika bayangan dari suatu benda melebihi ukuran panjang dari benda tersebut dan berakhir ketika matahari terbenam.
3. Waktu shalat Magrib:
Berawal ketika matahari terbenam dan berakhir dengan hilangnya sinar merah yang muncul setelah matahari terbenam.
4. Waktu shalat Isya
Diawali dengan hilangnya sinar merah yang muncul setelah matahari terbenam dan berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Yang di maksud dengan Fajar shadiq adalah sinar yang membentang dari arah timur membentuk garis horizontal dari selatan ke utara.
5 Waktu shalat Shubuh:
Di mulai dari timbulnya fajar shadiq dan berakhir dengan terbitnya matahari.
Warna sinar matahari yang muncul setelah matahari terbenam ada tiga, yaitu:
Sinar merah, kuning dan putih. Sinar merah muncul ketika magrib sedangkan sinar kuning dan putih muncul di waktu Isya.
Disunnahkan untuk menunda atau mangakhirkan shalat Isya sampai hilangnya sinar kuning dan putih.
(Fasal Empat Belas)
Shalat itu haram manakala tidak ada mempunyai sebab terdahulu atau sebab yang bersamaan (maksudnya tanpa ada sebab sama sekaliseperti sunat mutlaq) dalam beberapa waktu, yaitu:
1. Ketika terbit matahari sampai naik sekira-kira sama dengan ukuran tongkat atau tombak.
2. Ketika matahari berada tepat ditengah tengah langit sampai bergeser kecuali hari Jum’at.
3. Ketika matahari kemerah-merahan sampai tenggelam.
4. Sesudah shalat Shubuh sampai terbit matahari.
5. Sesudah shalat Asar sampai matahari terbenam.
(Fasal Lima Belas)
Tempat saktah (berhenti dari membaca) pada waktu shalat ada enam tempat, yaitu:
1. Antara takbiratul ihram dan do’a iftitah (doa pembuka sesudah takbiratul ihram).
2. Antara doa iftitah dan ta’awudz (mengucapkan perlindungan dengan Allah SWT dari setan yang terkutuk).
3. Antara ta’awudz dan membaca fatihah.
4. Antara akhir fatihah dan ta’min (mengucapkan amin).
5. Antara ta’min dan membaca surat (qur’an).
6. Antara membaca surat dan ruku’.
Semua tersebut dengan kadar tasbih (bacaan subhanallah), kecuali antara ta’min dan membaca surat, disunahkan bagi imam memanjangkan saktah dengan kadar membaca fatihah.
(Fasal Enam Belas)
Rukun-rukun yang diwajibkan didalamnya tuma’ninah ada empat, yaitu:
1. Ketika ruku’.
2. Ketika i’tidal.
3. Ketika sujud.
4. Ketika duduk antara dua sujud.
Tuma’ninah adalah diam sesudah gerakan sebelumnya, sekira-kira semua anggota badan tetap (tidak bergerak) dengan kadar tasbih (membaca subhanallah).
(Fasal Tujuh Belas)
Sebab sujud sahwi ada empat, yaitu:
1. Meninggalkan sebagian dari ab’adhus shalat (pekerjaan sunnah dalam shalat yang buruk jika seseorang meniggalkannya).
2. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan (padahal ia lupa), jika dikerjakan dengan sengaja dan tidak membatalkan jika ia lupa.
3. Memindahkan rukun qauli (yang diucapkan) kebukan tempatnya.
4. Mengerjakan rukun Fi’li (yang diperbuat) dengan kemungkinan kelebihan.
(Fasal Delapan Belas)
Ab’adusshalah ada enam, yaitu:
1. Tasyahud awal
2. Duduk tasyahud awal.
3. Shalawat untuk nabi Muhammad SAW ketika tasyahud awal.
4. Shalawat untuk keluarga nabi ketika tasyahud akhir.
5. Do’a qunut.
6. Berdiri untuk do’a qunut.
7. Shalawat dan Salam untuk nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat ketika do’a qunut.
(Fasal Sembilan Belas)
Perkara yang membatalkan shalat ada empat belas, yaitu:
1. Berhadats (seperti kencing dan buang air besar).
2. Terkena najis, jika tidak dihilangkan seketika, tanpa dipegang atau diangkat (dengan tangan atau selainnya).
3. Terbuka aurat, jika tidak dihilangkan seketikas.
4. Mengucapkan dua huruf atau satu huruf yang dapat difaham.
5. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa dengn sengaja.
6. Makan yang banyak sekalipun lupa.
7. Bergerak dengan tiga gerakan berturut-turut sekalipun lupa.
8. Melompat yang luas.
9. Memukul yang keras.
10. Menambah rukun fi’li dengan sengaja.
11. Mendahului imam dengan dua rukun fi’li dengan sengaja.
12. Terlambat denga dua rukun fi’li tanpa udzur.
13. Niat yang membatalkan shalat.
14. Mensyaratkan berhenti shalat dengan sesuatu dan ragu dalam memberhentikannya.
(Fasal Dua Puluh)
Diwajibkan bagi seorang imam berniat menjadi imam terdapat dalam empat shalat, yaitu:
1- Menjadi Imam juma`t
2- Menjadi imam dalam shalat i`aadah (mengulangi shalat).
3- Menjadi imam shalat nazar berjama`ah
4- Menjadi imam shalat jamak taqdim sebab hujan

(Fasal Dua Puluh Satu)
Syarat – Syarat ma`mum mengikut imam ada sebelas perkara, yaitu:
1- Tidak mengetahui batal nya shalat imam dengan sebab hadats atau yang lain nya.
2- Tidak meyakinkan bahwa imam wajib mengqadha` shalat tersebut.
3- Seorang imam tidak menjadi ma`mum .
4- Seorang imam tidak ummi (harus baik bacaanya).
5- Ma`mum tidak melebihi tempat berdiri imam.
6- Harus mengetahui gerak gerik perpindahan perbuatan shalat imam.
7- Berada dalam satu masjid (tempat) atau berada dalam jarak kurang lebih tiga ratus hasta.
8- Ma`mum berniat mengikut imam atau niat jama`ah.
9- Shalat imam dan ma`mum harus sama cara dan kaifiyatnya
10- Ma`mum tidak menyelahi imam dalam perbuata sunnah yang sangat berlainan atau berbeda sekali.
11- Ma`mum harus mengikuti perbuatan imam.

(Fasal Dua Puluh Dua)
Ada lima golongan orang–orang yang sah dalam berjamaah, yaitu:
1- Laki –laki mengikut laki – laki.
2- Perempuan mengikut laki – laki.
3- Banci mengikut laki – laki.
4- Perempuan mengikut banci.
5- Perempuan mengikut perempuan.

(Fasal Dua Puluh Tiga)
Ada empat golongan orang – orang yang tidak sah dalam berjamaah, yaitu:
1- Laki – laki mengikut perempuan.
2- Laki – laki mengikut banci.
3- Banci mengikut perempuan.
4- Banci mengikut banci.

(Fasal Dua Puluh Empat)
Ada empat, syarat sah jamak taqdim (mengabung dua shalat diwaktu yang pertama), yaitu:
1- Di mulai dari shalat yang pertama.
2- Niat jamak (mengumpulkan dua shalat sekali gus).
3- Berturut – turut.
4- Udzurnya terus menerus.

(Fasal Dua Puluh Lima)
Ada dua syarat jamak takhir, yaitu:
1- Niat ta’khir (pada waktu shalat pertama walaupun masih tersisa waktunya sekedar lamanya waktu mengerjakan shalat tersebut).
2- Udzurnya terus menerus sampai selesai waktu shalat kedua.

(Fasal Dua Puluh Enam)
Ada tujuh syarat qasar, yaitu:
1- Jauh perjalanan dengan dua marhalah atau lebih (80,640 km atau perjalanan sehari semalam).
2- Perjalanan yang di lakukan adalah safar mubah (bukan perlayaran yang didasari niat mengerja maksiat ).
3- Mengetahui hukum kebolehan qasar.
4- Niat qasar ketika takbiratul `ihram.
5- Shalat yang di qasar adalah shalat ruba`iyah (tidak kurang dari empat rak`aat).
6- Perjalanan terus menerus sampai selesai shalat tersebut.
7- Tidak mengikuti dengan orang yang itmam (shalat yang tidak di qasar) dalam sebagian shalat nya.

(Fasal Dua Puluh Tujuh)
Syarat sah shalat Jum’at ada enam, yaitu:
1. Khutbah dan shalat Jum’at dilaksanakan pada waktu Dzuhur.
2. Kegiatan Jum’at tersebut dilakukan dalam batas desa.
3. Dilaksanakan secara berjamaah.
4. Jamaah Jum’at minimal berjumlah empat puluh (40) laki-laki merdeka, baligh dan penduduk asli daerah tersebut.
5. Dilaksanakan secara tertib, yaitu dengan khutbah terlebih dahulu, disusul dengan shalat Jum’at.
(Fasal Dua Puluh Delapan)
Rukun khutbah Jum’at ada lima, yaitu:
1. Mengucapkan “الحمد لله” dalam dua khutbah tersebut.
2. Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam dua khutbah tersebut.
3. Berwasiat ketaqwaan kepada jamaah Jum’at dalam dua khutbah Jum’at tersebut.
4. Membaca ayat al-qur’an dalam salah satu khutbah.
5. Mendo’akan seluruh umat muslim pada akhir khutbah.
(Fasal Dua Puluh Sembilan)
Syarat sah khutbah jum’at ada sepuluh, yaitu:
1. Bersih dari hadats kecil (seperti kencing) dan besar seperti junub.
2. Pakaian, badan dan tempat bersih dari segala najis.
3. Menutup aurat.
4. Khutbah disampaikan dengan berdiri bagi yang mampu.
5. Kedua khutbah dipisahkan dengan duduk ringan seperti tuma’ninah dalam shalat ditambah beberapa detik.
6. Kedua khutbah dilaksanakan dengan berurutan (tidak diselangi dengan kegiatan yang lain, kecuali duduk).
7. Khutbah dan sholat Jum’at dilaksanakan secara berurutan.
8. Kedua khutbah disampaikan dengan bahasa Arab.
9. Khutbah Jum’at didengarkan oleh 40 laki-laki merdeka, balig serta penduduk asli daerah tersebut.
10. Khutbah Jum’at dilaksanakan dalam waktu Dzuhur.
(BAB IV)
“Jenazah”
(Fasal Satu)
pertama: Kewajiban muslim terhadap saudaranya yang meninggal dunia ada empat perkara, yaitu:
1. Memandikan.
2. Mengkafani.
3. Menshalatkan (sholat jenazah).
4. Memakamkan .

(Fasal Kedua)
Cara memandikan seorang muslim yang meninggal dunia:
Minimal (paling sedikit): membasahi seluruh badannya dengan air dan bisa disempurnakan dengan membasuh qubul dan duburnya, membersihkan hidungnya dari kotoran, mewudhukannya, memandikannya sambil diurut/digosok dengan air daun sidr dan menyiramnya tiga (3) kali.
(Fasal Ketiga)
Cara mengkafan:
Minimal: dengan sehelai kain yang menutupi seluruh badan. Adapun cara yang sempurna bagi laki-laki: menutup seluruh badannya dengan tiga helai kain, sedangkan untuk wanita yaitu dengan baju, khimar (penutup kepala), sarung dan 2 helai kain.
(Fasal Keempat)
Rukun shalat jenazah ada tujuh (7), yaitu:
1. Niat.
2. Empat kali takbir.
3. Berdiri bagi orang yang mampu.
4. Membaca Surat Al-Fatihah.
5. Membaca shalawat atas Nabi SAW sesudah takbir yang kedua.
6. Do’a untuk si mayat sesudah takbir yang ketiga.
7. Salam.
(Fasal Kelima)
Sekurang-kurang menanam (mengubur) mayat adalah dalam lubang yang menutup bau mayat dan menjaganya dari binatang buas. Yang lebih sempurna adalah setinggi orang dan luasnya, serta diletakkan pipinya di atas tanah. Dan wajib menghadapkannya ke arah qiblat.
(Fasal Keenam)
Mayat boleh digali kembali, karena ada salah satu dari empat perkara, yaitu:
1. Untuk dimandikan apabila belum berubah bentuk.
2. Untuk menghadapkannya ke arah qiblat.
3. Untuk mengambil harta yang tertanam bersama mayat.
4. Wanita yang janinnya tertanam bersamanya dan ada kemungkinan janin tersebut masih hidup.
(Fasal Ketujuh)
Hukum isti’anah (minta bantuan orang lain dalam bersuci) ada empat (4) perkara, yaitu:
1. Boleh.
2. Khilaf Aula.
3. Makruh
4. Wajib.
Boleh (mubah) meminta untuk mendekatkan air.
Khilaf aula meminta menuangkan air atas orang yang berwudlu.
Makruh meminta menuangkan air bagi orang yang membasuh anggota-anggota (wudhu) nya.
Wajib meminta menuangkan air bagi orang yang sakit ketika ia lemah (tidak mampu untuk melakukannya sendiri).

(BAB V)
“Zakat”
(Fasal Satu)
Harta yang wajib di keluarkan zakatnya ada enam macam, yaitu:
1. Binatang ternak.
2. Emas dan perak.
3. Biji-bijian (yang menjadi makanan pokok).
4. Harta perniagaan. Zakatnya yang wajib di keluarkan adalah 4/10 dari harta tersebut.
5. Harta yang tertkubur.
6. Hasil tambang.

(BAB VI)
“Puasa”
(Fasal Satu)
Puasa Ramadhan diwajibkan dengan salah satu ketentuan-ketentuan berikut ini:
1. Dengan mencukupkan bulan sya’ban 30 hari.
2. Dengan melihat bulan, bagi yang melihatnya sendiri.
3. Dengan melihat bulan yang disaksikan oleh seorang yang adil di muka hakim.
4. Dengan Kabar dari seseorang yang adil riwayatnya juga dipercaya kebenarannya, baik yang mendengar kabar tersebut membenarkan ataupun tidak, atau tidak dipercaya akan tetapi orang yang mendengar membenarkannya.
5. Dengan beijtihad masuknya bulan Ramadhan bagi orang yang meragukan dengan hal tersebut.

(Fasal Kedua)
Syarat sah puasa ramadhan ada empat (4) perkara, yaitu:
1. Islam.
2. Berakal.
3. Suci dari seumpama darah haidh.
4. Dalam waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa.

(Fasal Ketiga)
Syarat wajib puasa ramadhan ada lima perkara, yaitu:
1. Islam.
2. Taklif (dibebankan untuk berpuasa).
3. Kuat berpuasa.
4. Sehat.
5. Iqamah (tidak bepergian).
(Fasal Keempat)
Rukun puasa ramadhan ada tiga perkara, yaitu:
1. Niat pada malamnya, yaitu setiap malam selama bulan Ramadhan.
2. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa ketika masih dalam keadaan ingat, bisa memilih (tidak ada paksaan) dan tidak bodoh yang ma’zur (dima’afkan).
3. Orang yang berpuasa.
(Fasal Kelima)
Diwajibkan: mengqhadha puasa, kafarat besar dan teguran terhadap orang yang membatalkan puasanya di bulan Ramadhan satu hari penuh dengan sebab menjima’ lagi berdosa sebabnya .
Dan wajib serta qhadha: menahan makan dan minum ketika batal puasanya pada enam tempat:
1. Dalam bulan Ramadhan bukan selainnya, terhadap orang yang sengaja membatalkannya.
2. Terhadap orang yang meninggalkan niat pada malam hari untuk puasa yang Fardhu.
3. Terhadap orang yang bersahur karena menyangka masih malam, kemudian diketahui bahwa Fajar telah terbit.
4. Terhadap orang yang berbuka karena menduga Matahari sudah tenggelam, kemudian diketahui bahwa Matahari belum tenggelam.
5. Terhadap orang yang meyakini bahwa hari tersebut akhir Sya’ban tanggal tigapuluh, kemudian diketahui bahwa awal Ramadhan telah tiba.
6. Terhadap orang yang terlanjur meminum air dari kumur-kumur atau dari air yang dimasukkan ke hidung.
(Fasal Keenam)
Batal puasa seseorang dengan beberapa macam, yaitu:
- Sebab-sebab murtad.
- Haidh.
- Nifas.
- Melahirkan.
- Gila sekalipun sebentar.
- Pingsan dan mabuk yang sengaja jika terjadi yang tersebut di siang hari pada umumnya.
(Fasal Ketujuh)
Membatalkan puasa di siang Ramadhan terbagi empat macam, yaitu:
1. Diwajibkan, sebagaimana terhadap wanita yang haid atau nifas.
2. Diharuskan, sebagaimana orang yang berlayar dan orang yang sakit.
3. Tidak diwajibkan, tidak diharuskan, sebagaimana orang yang gila.
4. Diharamkan (ditegah), sebagaimana orang yang menunda qhadha Ramadhan, padahal mungkin dikerjakan sampai waktu qhadha tersebut tidak mencukupi.
Kemudian terbagi orang-orang yang telah batal puasanya kepada empat bagian, yaitu:
1. Orang yang diwajibkan qhadha dan fidyah, seperti perempuan yang membatalkan puasanya karena takut terhadap orang lain saperti bayinya. Dan seperti orang yang menunda qhadha puasanya sampai tiba Ramadhan berikutnya.
2. Orang yang diwajibkan mengqhadha tanpa membayar fidyah, seperti orang yang pingsan.
3. Orang yang diwajibkan terhadapnya fidyah tanpa mengqhadha, seperti orang yang sangat tua yang tidak kuasa.
4. Orang yang tidak diwajibkan mengqhadha dan membayar fidyah, seperti orang gila yang tidak disengaja.
(Fasal Kedelapan)
Perkara-perkara yang tidak membatalkan puasa sesudah sampai ke rongga mulut ada tujuh macam, yaitu:
1. Ketika kemasukan sesuatu seperti makanan ke rongga mulut denga lupa
2. Atau tidak tahu hukumnya .
3. Atau dipaksa orang lain.
4. Ketika kemasukan sesuatu ke dalam rongga mulut, sebab air liur yang mengalir diantara gigi-giginya, sedangkan ia tidak mungkin mengeluarkannya.
5. Ketika kemasukan debu jalanan ke dalam rongga mulut.
6. Ketika kemasukan sesuatu dari ayakan tepung ke dalam rongga mulut.
7. Ketika kemasukan lalat yang sedang terbang ke dalam rongga mulut.

Tamat…
Wallaohu a’lam bishshowaab

Kemudian kami akhiri dengan meminta kepada Tuhan Yang Karim , dengan berkah beginda kita Nabi Muhammad Shollalloohu 'Alayhi wa Sallam yang wasim , supaya mengakhiri hidupku dengan memeluk agama Islam, juga orang tuaku, orang yang aku sayangi dan semua keturunanku. Dan mudah-mudahan ia mengampuniku serta mereka segala kesalahan dan dosa.
Semoga rahmat Tuhan selalu tercurah keharibaan junjungan kita Nabi Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul Mutholib bin Abdi Manaf bin Hasyim yang menjadi utusan Alloh kepada sekalian makhluk Rosulul malahim, kekasih Alloh yang membuka pintu rahmat, menutup pintu kenabian, serta keluarga dan sahabat sekalian. Walhamdu lillaahi Robbil ’Aalamin...



catatan....
Kitab Safinah Annajah kitab karya Sheikh Abdullah bin Saad bin Sumair al-Hadhrami, yang membahas mengenai asas-asas fiqh dalam mazhab Shafi'i yang turut meliputi aspek tauhid dan tasawuf. Beliau adalah seorang ahli fiqh dan tasawwuf yang bermadzhab Syafi'i. Selain itu, beliau adalah seorang pendidik yang dikenal sangat ikhlas dan penyabar, seorang qodhi yang adil dan zuhud kepada dunia, bahkan beliau juga seorang politikus dan pengamat militer negara negara Islam. Beliau dilahirkan di desa Dziasbuh, yaitu sebuah desa di daerah Hadramaut Yaman, yang dikenal sebagai pusat lahirnya para ulama besar dalam berbagai bidang ilmu keagamaan.


Kitab Safinah memiliki nama lengkap "Safinatun Najah Fiima Yajibu `ala Abdi Ii Maulah" (perahu keselamatan di dalam mempelajari kewajiban seorang hamba kepada Tuhannya). Kitab ini walaupun kecil bentuknya akan tetapi sangatlah besar manfaatnya. Di setiap Pondok Pesantren atau pengajian di kampung-kampung kitab ini selalu ada untuk di pelajari, bahkan di hafalkan. Dulu di pesantren saya juga ada sistem ngaji yang namanya ngaji sorogan, yaitu kyai memberi arti/makna dan santri besoknya harus menghafalkan yang kyai artikan/maknain dan di setorkan dalam bentuk hafalan. Kitab ini salah satu yang pertama di hafal dalam sistem sorogan di pesantren saya.

Kitab ini di jadikan kitab fiqih dasar yang pertama di pelajari karena Kitab ini mencakup pokok-pokok agama secara terpadu, lengkap dan utuh, dimulai dengan bab dasardasar syari'at, kemudian bab bersuci, bab shalat, bab zakat, bab puasa dan bab haji yang ditambahkan oleh para ulama lainnya. Kitab ini disajikan dengan bahasa yang mudah, susunan yang ringan dan redaksi yang gampang untuk dipahami serta dihafal. Seseorang yang serius dan memiliki kemauan tinggi akan mampu menghafalkan seluruh isinya hanya dalam masa dua atau tiga bulan atau mungkin lebih cepat.

Karena sangat pentingnya kitab ini para ulama sampai membuat syarah/penjelasan lebih lanjut dari kitab ini. Ada berbagai kita syarah syafinah Annajah di antaranya:
1. Kitab Kasyifatus Saja ala Safinatin Najah
2. Kitab Durrotu Tsaminah Hasyiyah ala Safinah
3. Kitab Nailur Raja Syarah Safinah Najah
4. Kitab Na.siimul Hayah Syarah Safinatun Najah
5. Kitab Innarotut tDuja Bitanlwiril Hija Syarah Safinah Najah

Rabu, 24 September 2014

NADZOM TIJAN AD-DARORI VERSI BAHASA SUNDA


MUQODDIMAH

1. Puji opat kasanggakeun

Ka Alloh Robbul ‘Alamin

Rohmat jeung kasalametan

Ka Rosul Alloh panutan

2. Waba’du nu dina angen

Ngadawuh nu fakir pisan

Kana rohmatna pangeran

Nu waspada uningaan

3. Ibrohim Bajuri lemburna

Mesir eta nagarana

Anu ngaku lalaworana

Dina to’at ka alloh na

4. Sasakala anjeun na nyusun

Nyaruhunkeun Ba’dul Ikhwan

Mugi alloh ngaluluskeun

Kana tingkah jeung kalakuan

5. Yen mugi kuring nuliskeun

Kana kitab leutik pisan

Eusina kapangeranan

Uluhiyah dingaranan

6. Dua puluh nu wajibna

Dua puluh nu mohalna

Hiji sifat nu wenangna

Jumlah opat puluh hijina

7. Kitu deui di rosulna

Opat sifat nu wajibna

Opat sifat nu muhal na

Hiji sifat nu wenangna

8. Jumlah na salapan sifat

Dingaranan nabawiyyat

Jumlah lima pulus sifat

Nu disebut Mu’taqidat



SIFAT NU WAJIB DI ALLOH


Wujud Qidam Baqo Mukholafatullil hawaditsi

Qiyamuhu binafsihi wahdaniyat qudrot irodat

Ilmu hayat sama’ bashor kalam qodiron muridan

‘aliman hayyan sami’an bashiron mutakalliman

Aya heubeul langgeng beda jeung kabeh nu anyar

Jumeneng kalawan dzatna hiji alloh dina dzat na

Hiji na sifatna hiji padamelannana

Kawasa kersa uninga hirupna

Ngadangu ningali sasauran bukti kawasa

Bukti alloh kersa nu uninga nu hirupna

Bukti nu ngadangu nu ningali nu ngadawuh

Jadi sadayana anu wajib dua puluh

SIFAT NU MUHAL DI ALLOH

Adam hudus fana mumatsalalil hawadits

Ihtiyaj ta’addud ‘ajzu karohah

Jahlu maot shomma a’ma abkam ‘ajizan karihan

Jahilan mayyitan ashomma a’ma abkama

Euweuh anyar ruksak sarupa reujeung nu anyar

Butuh kana tempat sareng butuh kanu ngayakeun

Bingbilangan dzatna sifatna sareng damelna

Apes kapaksa bodo maot torek lolongna

Pireu bukti alloh anu apes anu kapaksa

Anu bodo maot torek lolong anu pireuna

SIFAT NU WENANG DI ALLOH


Wenang di Allohna midamel barang nu mumkin

Taya anu wajib midamel barang nu mumkin

SIFAT NU WAJIB, MUHAL, WENANG DI ROSUL

Sidiq amanah tabligh fathonah

Kidzib khianat kitman biladah

Bener kapercaya ngadugikeun sareng pinter

Bohong cidra nyumputkeun tur belet

Wenang di rosulna sifat manusia biasa

Kaya tuang leueut angkat kulem sajabina

Maka kuring nyubadanan

Pamentana ba’dul ikhwan

Kana kitab risalahan

Ku alloh wungkul pitulung

Wajib ka sakur mukallaf

Nu poko wajib ma’rifat

Alloh anu kapersifat

Wajib mustahil ja-izat


PEMBAGIAN SIFAT NU WAJIB DI ALLOH

Sifat nu wajib di alloh

Kabagi opat bagian

Nafsiah jeung salabiyah

Ma’ani jeung ma’nawiyah

Sifat Wujud


Wajib aqli hak allohna
Wujud aya alloh hartina

Kecap wujud kabagina

Kana tilu kahijina

Wujud aridi hartina
Ayana teh euweuh heula

Bumi langit ieu contona

Wujud idopi kaduana

Wujud idofi hartina
Aya anu nyarande na

Aya bapak aya anakna

Ari anu katiluna

Wujud hakeki hartina
Aya teu aya kawitna

Aya henteu nyarande na

Nyaeta aya alloh na

Lalawanan sifat wujud na
Al ‘adam euweuh hartina

Ari dalil ceuk aqlina

Ayana ieu makhluk na

Ari dalil ceuk naqlina
Ro’du ayat genep belasna

قل من رب السمــــــــــــــــــوات

والارض قــــل اللـــــــــــــه

Sifat Qidam


Wajib aqli hak allohna
Qidam heubeul alloh hartina

Kecap qidam kabagina

Kana tilu kahijina

Qidam zamani hartina
Heubeul hiji perkarana

Nu kakurung ku zamanna

Langit bumi heubeul zamanna

Ari anu kaduana
Qidam idofi hartina

Heubeul pedah dibandingna

Bapa banding ka anakna

Ari anu katiluna
Qidam hakeki allohna

Heubeulna lain zamanna

Heubeul lain nyarandena

Lalawanan sifat qidam
Nyaeta huduts anyarna

Moal pibuktieunnana

Da mustahil di allohna

Ari dalil ceuk aqli na
Lamun alloh eta anyarna

Butuh kunu nganyarkeunnana

Sedeng eta mustahilna

Ari dalil anu naqlu
Ayat qur’an anu tangtu

Al-hadid na ayat tilu

هــــــــوالاول والاخـــــــــر





Sifat Baqo


Wajib aqli hak allohna
Baqo langgeng eta hartina

Kecap baqo kabagina

Kana tilu kahijina

Baqo zamani hartina
Nu kakurung ku zamanna

Surga reujeung narakana

Ari anu kaduana

Baqo nisbi teh hartina
Langgeng nisbat kanu sejenna

Waja nisbat kana kai na

Ari anu katiluna

Baqo hakeki alloh na
Lain pedah lila zaman na

Lain nisbat kanu sejenna

Langgeng teu aya tungtungna

Lalawanan sifat baqo
Al-fana ruksak hartina

Nu mustahil di allohna

Wajib iman mustahilna

Ari dalil ceuk aqlina
Lamun alloh eta ruksakna

Tangtu alloh teh anyarna

Sedeng eta mustahilna

Dalil naqli Arrohmanna
Ayat dua puluh tujuhna

ويبقى وجه kawit na

Pek ku anjeunna


Sifat Mukholafah Lilhawadis


Wajib aqli mukholafah
Lil hawadisi hak alloh

Beda alloh jeung sakabeh

Nu alanyar henteu salah

Teu aya pikeun allohna
Panangan soca cepilna

Atawa anu sejenna

Tina sifat hawadits na

Lamun aya na qur’an na
Yadullohi ceuk salafna

Angger dina Yad Alloh na

Kawasaan ceuk kholafna

Lalawanan mukholafah
Eta teh al-mumatsalah

Silih sarupa dzat alloh

Eta mustahil di alloh

Ari dalil ceuk aqli na
Lamun alloh sarupana

Jeung nu anyar pasti anyarna

Sedeng eta mustahilna

Ari dalil ceuk naqli na
Surat Asy-syuro kawitna

Sabelas anu kawitna

ليــــــــــس كمثلــــــــــه na


Sifat Alqiyamu Binnafsi


Wajib aqli hak alloh na
Alqiyamu binnafsi na

Jumeneng eta hartina

Kalayanna dina dzatna

Qiyam binnafsi hartina
Teu butuh kana tempatna

Teu butuh nu ngayakeunna

Teu sah naros dimana na

Lawan Qiyam binnafsina
Ihtiyaj butuh tempatna

Jeung kunu ngayakeunnana

Eta anu mustahil na

Ari dalil ceuk Aqli na
Lamun alloh mika butuh na

Kana tempat eta tangtuna

Alloh teh eta sifat na

Tangtu moal kaancikan
Dua puluh persifatan

Sedeng eta kamustahilan

Tetep alloh kasifatan

Lamun alloh mika butuhna
Kanu nyieun tangtu anyarna

Sedeng eta mustahilna

Tetep Qiyam binnafsi na

Ari dalil ceuk naqli na
Ankabut ayat genep na

إِنَّ اللـــــــــهَ لَغَنِــــــــــيٌّ na

Pek ku anjeun tuluykeun na


Sifat Wahdaniyat


Wajib aqli hak allohna
Sifat wahdaniyat hartina

Sahiji tilu hartina

Dzat sifat reujeung af’alna

Dina dzat hiji allohna
Henteu dua atawana

Leuwih loba disebutna

Salbiyah kam munfasilna

Dina dzat hiji alloh na
Lain meunang rangkepkeun na

Tina juz bingbilanganna

Salbiyah kam muttasilna

Na sifat hiji alloh na
Henteu aya salianna

Nu ngabogaan sifatna

Saperti sifat allohna

Ieu harti disebutna
Salbiyah kam munfasilna

Na sifat hiji alloh na

Hiji tina sawarna na

Ieu harti disebutna
Salbiyah kam muttasilna

Na af’al hiji alloh na

Henteu aya salianna

Nu ngabogaan tapakna
Anging tapak damel allohna

Salbiyah kam munfasilna

Jumlah aya lima hartina

Lalawanan wahdaniyat
At-ta’addud henteu lepat

Bingbilangan dzat jeung sifat

Padamelan henteu lepat

Ari dalil ceuk aqli na
Mun bukti gusti allohna

Eta bingbilangannana

Moal dipanggihannana

Hiji perkara makhlukna
Ayeuna aya makhlukna

Tetela teu ta’addudna

Wajib alloh wahdaniyatna

Ari dalil ceuk naqli na
Surat al-ikhlas ayat na

Hiji قل هو الله kawitna

Pek ku anjeun tuluykeun na


Sifat Qudrot

Wajib aqli haq alloh na
Qudrot kawasa hartina

Nu qodim taya kawasana

Qoimatun tumetep na

Sifat qudrot paragina
Ijad ngayaken nana

I’dam ngewehkn nana

Kana barang nu mumkin na

Lalawanan sifat qudrot na
Al ‘ajzu apes teu lepat

Asup kana mu’takodat

Mustahil na hnt lpat

Ari dalil ceuk ‘akal na
Lamun alloh tos apes na

Tangtu moal di panggih na

Ieu pirang2 mahkluk na

Ayeuna aya mahkluk na
Tetela hnte apes na

Atuh kaharti ayana

Sifat qudrot di alloh na

Ari dalil ceuk nakli na
Al bakoroh dina ayat na

Dua puluh innalloh na

‘ala kulli tuluy kn nana


Sifat Irodat

Wajib a’kli haq alloh na
Irodat kersa harti na

Nu kodim taya kawasana

Koimatun tumetep na

Ari sifat irodat na
Paragi nangtukn nana

Kana barang nu mumkin na

Dina aya jeung euweh na

Dina beunghar jeung faqirna
Dina pinter jeung bodo na

Jeung lian anu sejen na

Tina sifat anu anyar na

Lalawanan irodat na
Al karohah kapaksa na

Ari sifat anu mustahil na

Wajib di tekad kn nana

Ari dalil ceuk ‘akli na
Lamun alloh kapaksa na

Tangtu alloh teh apes na

Sedeng eta mustahil na

Ari dalil ceuk nakli na
Aya dina surat hud na

Ayat saratus tujuh na

Pa’alul ;ima yurid na


Sifat Ilmu


1. Wajib ‘aqli haq alloh na

Ilmu uninga hartina

Nu qodim taya kawit na

Koimatun tumetep na

2. Uni’nga gusti alloh na

Kana sakur perkarana

Wajib mumkin al wujud na

Rejeng muhal al wujud na

3. Lalawanan sifat elmu na

Al jahlu bodo hartina

Wajib di tekadkn nana

Tapi dina mustahil na

4. Ari dalil ceuk a’kli na

Lamun alloh teh bodo na

Tangtu moal boga karep na

Sedeng eta mustahil na

5. Ari dalil ceuk nakli na

Dina surat bakoroh na

Dua tilu hiji na

Bikulli sayyin ‘alim na


Sifat Hayat

1. Wajib ‘akli haq alloh na

Al hayat hirup hartina

Nu kodim taya kawit na

Koimatun tumetep na

2. Ari sifat al hayat na

Paragi ngesahkn nana

Kasifatan kunu sejen na

Kaya kudrot irodat na

3. Ciri hayat ka makhluk kn

Hayatul hayawan ngambekan

Hayatul jamadat teasan

Hayatun nabat getahan

4. Ari hayat gusti alloh na

Hirup ku sifat hayat na

Ciri aya tapak kudrot na

Nyata alam semestana

5. Lalawanan al hayat na

Al maotu maot hartina

Sifat anu mustahil na

Waji di tekad kn nana

6. Ari dalil ceuk ‘akal na

Lamun gusti alloh maot na

Tangtu moal kawasana

Rejeung moal kersana

7. Oge moal uningana

Kapan eta mustahil na

Atuh wajib ayana

Sifat hayat di alloh na

8. Ari dalil ceuk naklina

Dina surat bakoroh na

Ayat dua puluh lima na

Hual hayyul koyyum na


Sifat Sama’ Bashor

1. Wajib ‘akli haq alloh na

Sifat sam’a jeng bashor na

‘adangu ningali harti na

Sifat kodim dua nana

Qoimatun dua nana
Nu tumetep di alloh na

Teu aya kawit tungtungna

Qodim qoim salawasna

3. Dangu alloh ku sama’na

Ningal alloh ku bashorna

Paragi mukakuen nana

Tah ta’alluk inkisyafna

Kana barang nu wujudna
Boh nu wajibul wujudna

Tawa nu mumkinul wujudna

Kadangu jeung katingalna

5. Lalawanan sifat sama’na

Asshomam torek hartina

Lalawanan sifat bashorna

Al’umyu lolong hartina

Timimiti sifat sama’ na
Henteu aya dalil ‘aqli na

Sabab jalma geus imanna

Terang dugi sifat hayatna

7. Ari dalil ceuk naqli na

Surat Asy-syuro ayatna

Sabelas وهو kawitna

السميع البصير terasna




Sifat Kalam

Wajib aqli hak alloh na
Sifat kalam ngadawuhna

Nu qodim taya kawitna

Qoimatun tumetep na

Kalam alloh kabagina
Kan dua dal madlul na

Dal anu di loh mahfudz na

Anu aya aksarana

Kalam madlul di alloh na
Taya huruf jeung sora na

Kitu harti sifat kalam na

Anu aya di alloh na

Lalawanan sifat kalamna
Al-bukmu pireu hartina

Sifat anu mustahilna

Wajib di tekadkeun nana

Ari dalil ceuk naqli na
Suroh An-Nisa ayat na

Saratus genep opat na

وكلم الله موسى na



Sifat Kaonuhu Qodiron

Wajib akli hak alloh na
Kaonuhu qodiron na

Bukti alloh kawasa na

Ieu sifat ma’nawiyah na

Ari sifat ma’nawiyah na
Eta sifat rekenan nana

Lain sifat bangsa aya na

Nu aya mah ma’ani na

Lain sifat bangsa euweuh na
Salagi ma’ani aya na

Pasti aya panyebutna

Sifat ma’nawiyah ngaranna

Lain sifat nu misah na
Tina sifat ma’ani na

Tapi sifat nguatan nana

Kana sifat ma’ani na

Ari lalawanan sifatna
Kaonuhu qodiron na

Kaonuhu ‘ajizan na

Bukti alloh nu apesna

Dalil aqli jeung naqli na
Sami jeung dalil qudrotna

Teu aya pisan beda na

Dina penjelasan nana

Sifat Kaounuhu Muridan

Wajib aqli hak alloh na
Kaounuhu muridan na

Bukti alloh ngersakeun na
ari sifat ma’nawiyah na

Sifat baqo rekenan nana
Lain sifat nu misah na

Tapi sifat nguatan nana

Kana sifat irodatna

Ari lalawanan sifat na
Kaonuhu muridan na

Kaonuhu karihan na

Bukti alloh kapaksana

Dalil aqli jeung naqli na
Sami dalil irodatna

Taya pisan nu beda na

Dina penjelasan nana


Sifat Kaounuhu Aliman


Wajib aqli hak alloh na
Kaounuhu ‘Aliman na

Bukti alloh uninga na

Kaasup ma’nawiyahna

Sifat bangsa rekenan nana
Lain sifat nu misahna

Tapi sifat nguatan nana

Kana sifat ilmu na

Ari lalawanan sifat na
Kaonuhu ‘Aliman na

Kaonuhu jahilan na

Bukti alloh nu bodo na

Dalil aqli jeung naqli na
Sami dalil sifat ilmu na

Taya pisan nu beda na

Oge penjelasan nana

Sifat Kaonuhu Hayyan


Wajib aqli hak alloh na
Sifat kaonuhu hayyan na

Bukti alloh nu hirup na

Kaasup ma’nawiyah na

Sifat bangsa rekenan nana
Lain sifat nu misah na

Tapi sifat nguatan nana

Kana sifat hayat na

Ari lalawanan sifat na
Sifat kaonuhu hayyan na

Kaonuhu mayyitan na

Bukti alloh nu maot na

Ari dalil ceuk naqli na
Sami dalil sifat hayat na

Taya pisan nu beda na

Oge penjelasan nana


Sifat Kaonuhu Sami’an Bashiron


Wajib aqli hak alloh na
Sami’an jeung bashiron na

Bukti alloh ngadangu na

Bukti alloh ningali na

Sifat bangsa rekenan nana
Lain sifat nu misah na

Tapi sifat nguatan nana

Kana sama’ jeung bashor na

Lalawanan sami’an na
Kaonuhu ashomma na

Lalawanan bashiron na

Eta Kaonuhu a’ma na

Ari dalil ceuk naqli na
Sami jeung sama bashor na

Taya pisan nu beda na

Oge penjelasan nana

Sifat Kaonuhu Mutakalliman


Wajib aqli hak alloh na
Sifat mutakalliman na

Bukti alloh ngadawuh na

Ieu sifat ma’nawiyah na

Sifat bangsa rekenan nana
Lain sifat nu misah na

Tapi sifat nguatan nana

Kana sifat kalam na

Ari lalawanan sifat na
Sifat mutakalliman na

Kaonuhu abkama na

Bukti alloh nu pireu na

Ari dalil ceuk naqli na
Sami jeung sifat kalam na

Taya pisan nu beda na

Oge penjelasan nana

Sifat Jaiz


Jaiz aqli hak alloh na
Eta ngadamel mumkin na

Atawa dina tinggal na

Henteu ngademl mumkin na

Ari ngaran nu mumkinna
Kongang aya jeung euweuh na

Conto na ieu makhluk na

Sok di sebut ku alam na

Ari dalil ceuk aqli na
Lamun wajib ka alloh na

Damel hiji perkara na

Atawa dina tinggal na

Tangtu tibalik jaiz na
Jadi wajib mustahil na

Sedeng kitu teh muhal na

Maka tetep sifat jaiz na

Ari dalil ceuk naqli na
Surat ibrohim ayat na

Salapan belas kawit na

إن يّــــــشأ يـــذهبــــــكم na


Sifat Shidiq


Wajib aqli hak rosul na
Rohmat salam muga tetepna

Ka para rosul kabeh na

Sifat shidiq bener hartina

Sakur nu dawuhkeun na
Pasti akur jeung buktina

Pinter jeung meneran nana

Muhal aya nyalahan na

Lalawanan sifat shidiq na
Al-kidzbu bohong hartina

Ari dalil ceuk aqli na

Lamun para rosul bohong na

Tangtu dawuhan alloh na

Eta oge pada bohong na

Sedeng eta mustahil na

Maka wajib sifat shidiq na





Sifat Amanah


Wajib aqli hak rosulna
Rohmat salam muga tetep na

Ka para rosul kabehna

Amanah kapercayana

Pamolah reujeung dawuhna
Henteu aya sulayana

Kana parentah allohna

Jadi picontoeun nana

Lalawanan amanah na
Khianat cidra hartina

Ari dalil ceuk aqli na

Lamun cidra para rosulna

Nyata migawe haramna
Atawa anu makruh na

Tangtu urang diparentahna

Kana haram tawa makruh na

Sedeng urang henteu sah na
Diparentah haram makruh na

Maka wajib di rosulna

Al-amanah tumetepna


Sifat Tabligh


Wajib aqli hak rosulna
Rohmat salam muga tetepna

Ka para rosul kabehna

Sifat tabligh nepikeun nana

Ari harti sifat tabligh na
Eta nepikeun hukumna

Nu wajib di tepikeun nana

Ka sakabeh makhluk na

Lalawanan sifat tabligh na
Al-Kitman nyumputkeun nana

Wajib di tekadkeun nana

Kana sifat mustahilna

Ari dalil ceuk aqli na
Lamun rosul nyumputkeun na

Perkara anu wajibna

Di tepikeun ka makhlukna

Tangtu urang diparentahna
Kudu nyumputkeun ilmu na

Sedeng teu sah diparentahna

Nyumput ilmu di la’nat na


Sifat Fatonah


Wajib aqli hak rosulna
Rohmat salam muga tetepna

Ka para rosul kabehna

Sifat fathonah hartina

Celakan pinter bisa na
Kaduga nangtukeun nana

Hujjah bener sehingga na

Ngelehkeun ka musuh na

Lalawanan fathonah na
Biladah belet hartina

Wajib di tekadkeun nana

Kana sifat mustahilna

Ari dalil ceuk aqli na
Mun rosul teu fatonah na

Tangtu moal kaduga na

Nangtungkeun hujjah bener na

Sedeng eta mustahilna
Al-qur’an nuduhkeun nana

Surat Hud tilu dua na

تـــــــلك حـــــــــجّتـــــنا kawitna



Sifat Jaiz


Jaiz aqli hak rosulna
Rohmat salam muga tetepna

Ka para rosul kabeh na

Sifat A’rodl Basyariah na

Sifat kamanusaan nana
Nu teu matak ngurangan na

Kana martabat rosul na

Kaya tuang jeung leueut na

Ari dalil ceuk aqli na
Kasaksi para rosulna

Sifat A’rodl Basyariah na

Di para rosul kabeh na


Khotimah


Wajib ka jalma islamna
Uninga rundayan nana

Jeung nabi utusan alloh

Muhammad putra abdulloh

Abdulloh putra muthollib
Muthollib putrana hasyim

Hasyim putra abdi manaf

Abdi manaf putra qusoy

Qusoy putrana kilab
Kilab putrana murroh

Murroh putrana ka’ab

Ka’ab putrana lu’ay

Lu’ay putrana gholib
Gholib putrana fihir

Fihir putrana malik

Malik putrana nadzor

Nadzor putra kinanah
Kinanah putra khuzaemah

Khuzaemah putra mudrikah

Mudrikah putrana ilyas

Ilyas putrana mudlor
Mudlor putrana nizar

Nizar putrana ma’ad

Ma’ad putrana ‘adnan

Nu wajib dugika adnan
Haram nguningakeun nana

Ti adnan dugika adam

Sabab taya jalan soheh

Wajib deui uninga na
Rundayan na ti ibu na

Jeung nabi utusan alloh

Muhammad putra aminah

Aminah putrana wahhab
Wahab putra abdi manaf

Abdi manaf putra zuhroh

Zuhroh putrana kilab

Tepang deui jeung rama na
Ti kilab jangkawareng na

Jadi ibu jeung rama na

Masih keneh sarundayan

Haodl Syafaat


Kaasup wajib syar’i na
Ka sakur nu mukallaf na

Yen kanjeng nabi gaduhna

Haod talaga hartina

Kaasup wajib syar’i na
Saestuna kanjeng nabi

Bakal nyafa’atan nana

Mutuskeun hukuman nana

Dina poean mahsyar na
Syafa’at udzma ngaranna

Syafaat anu tangtu na

Ka kanjeng nabi Muhammadna


Para Rosul


Kaasup wajib syar’i na
Nganyahokeun para rosul na

Anu aya na Qur’an na

Kalayan wincikan nana

Ari rosul salian na
Nu teu aya na Qur’an na

Wajib ma’rifatkeun nana

Kana jumlahan kabehna

Ari jumlah para rosulna
Tilu ratus opat belasna

Jumlah nabi saratusna

Dua puluh opat rebu na

Geus nganadzom ba’dluhumna
Ka nabi anu wajib na

Ma’rifat wincikan nana

Aya dua puluh lima na

حتم على كل ذى التكليف معرفة

*

بأنبيَاء على التفصيل قد علمـوا

Wincikan jenengan nabi dina qur’an masing timu

*

Eta misti ka sakur mukallaf nganyahokeun

 
فى تـــــــــلك حجتنا منهم ثمانية

*

من بعد عشر ويبقى سبعة وهم

Tujuh nyesa nu teu kumpul jenengan na tong tumamu

*

Ayat tilka hujjatuna dalapan belas kumpul na

 
إبراهيم هود شعيب صالح وكذا

*

ذواالكفل آدم بالمختار قد ختموا

Nabi Muhammad panungtung para nabi sing timu

*

Idris Hud Syu’eb Solih Dzulkifli Nabi Adam

NADZOM SYAHADATAEN

Syahadat Dua Bagian
Kahiji Syahadat Syar'an

Ka Dua Syahadat Munjin

Kade Kudu Teulik Pisan

Ta'rifna Syahadat Syar'an
Kadar2 Nu Ngucapkeun

Kalimat Syahadataen

Hente Milik Patekadan

Ma’fat Syahadat Syar'an
Bisa disebut Mu'minin

Mungguh Hukum Kadunyaan

Kaya Halal Peupeuncitan

Halal Di Tikahkeunana
Ka Jalma Anu Islamna

Jeung Halal Nampa Waritsna

Ti Jalma Anu Islamna

Ari Mungguhing Allohna
Jeung Mungguhing Akheratna

Kudu Terus Jeung Munjina

Eungke Peujeulasan Nana

6. Kanjeung Nabi Tos Nyaurkeun

Anjeun Kudu Ngahukuman

Ku Dzohirna Caritaan

Jeung Dhohirna Kalakuan

Jeung Teu Kudu Ngahukuman
Nu Dina Hate Di Simpeun

Da Taya Nu Uningaeun

Salianti Dzat Pangeran

Lamun Dzohir Kalakuan
Atawa Dzohir Ucapan

Aya Anu Ngabatalkeun

Nu Di Sebut Pamurtadan

Batal Syahadat Syar'ana
Sanajan Ngucapkeunana

Kana Keucap Syahadatna

Laku Ucap Nu Murtadna

Kaya Asup Ka Gareja
Di Bareungan Ku Ngahaja

Atawa Nyembah Berhala

Kaya Patung Nu Baheula

Ta'rifna Syahadat Munjin
Eta Jalma Nu Ngucapkeun

Kalimah Syahadataen

Di Bareungan Pateqadan

Teqad Anu Ma'rifatna
Jeung Teqad Anu Tasdeqna

Neuteupan Kana Syaratna

Ma'rifat Reujeung Tasdeqna

Ari Syarat Ka Duana
Teu Keuna Owah Gingsirna

Moal Barobah Teqadna

Hingga Dugi Ka Maotna

Lamun Nekadkeun Ayeuna
Sabot Usum Jeung Baturna

Jaga Mah Kumaha Eungkeuna

Mumkin Tekad Rek Robahna

Kafirna Teh Ti ayeuna
Da Arek Owah Gingsirna

Heunteu Jadi Ma'rifatna

Mungguhing Gusti Allohna

Syarat anu Ka Tiluna
Anu Di Tekadkeunana

Kudu Akur Jeung Buktina

Heunteu Nyalahan Sifatna

Sifat Cek ahli Sunahna
Nu Aya Qur'an Haditsna

Teu salah Meutakeunana

Akur Reujeung Aqoidna

18. Margi Kitu Di Wajibkeun

Nu Hayang Syahadat Munjin

Nyaho Kana Aqoidna

Bisi Jeung Bukti Nyalahan

19. Lamun Jazim Jeung Tekadna

Yen Alloh Pangeranana

Yen Muhammad Teh Rosulna

Ngan Teu Akur Jeung Buktina

20. Alloh Nunyurupna Badan

Bumi Langit Panyurupan

Di dinya Alloh Nyicingan

Atawana Di Hijikeun

21. Eta Tekad Nyulayaan

Reujeung Buktina Pangeran

Da Alloh Heunteu Butuheun

Kana Tempat Panyicingan

22. Nu Kitu Salah Tekadna

Heunteu Akur Jeung Buktina

Heunteu Sah Iman islamna

Mungguhing Gusti allohna

23. Syarat Anu Ka Opatna

Kudu teurang Kana Dalilna

Anu Teu Teurang Dalilna

Eta Teu sah Ma'rifatna

24. Ieu Cek Ibnu A'roby

Jeung Pendapat Syekh Sanusi

Anapon Cek Syekh dasuki

Taya Dalil Ma'rifat Jadi

25. Dalil Kadar Kawajiban

Lain Syarat Kama'rifatan

Pikeun Jalma Nu Kadugaeun

Kana Dalilna Mikirkeun

26. Kadua Syahadat Munjin

Kudu Tasdeq nu Ngucapkeun

Tasdeq Aya Dua Rukun

Ka Hiji Kudu Idzi'an

27. Idzi'an Eta Ngakukeun

Ka Alloh Kuring Mangeran

Ku Muhammad Di Nabian

Muhammad teh Rosul Kuring

28. Rukun Tasdeq Kaduana

Nyaeta Kudu Qobulna

Narima Ajaran nana

Ti Alloh Reujeung Rosulna

29. Mun can Bisa Ngalakonan

Tapi hate Mah nampanan

Rumaos Ka Leuleupatan

Eta Qobul Sahna Iman