Surat Al Baqarah Ayat 1
الم
Alif Laam Miim. (QS.2:1)
Huruf
alif, laam, dan miim dalam posisi Rofa’ menjadi khobar dari Isim
Isyarat haadzihii yang dibuang, dan rangkaian huruf alif laam miim itu
terdiri dari tiga huruf yang tidak ada barisnya/harokatnya, oleh karena
itu dibacanya sesuai dengan tulisan huruf itu yakni alif dibaca alif,
laam dibaca laam, dan miim dibaca miim.
PENJELASAN TAFSIR:
Alif laam miim.(QS. 2:1)
Alif,
lam, mim, termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan
beberapa surah Alquran. Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang
huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari
Alquranul Karim itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa
hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini?
Tentang soal pertama, maka para mufassir berlainan pendapat, yaitu:
1.Ada
yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau
menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, “Allah sajalah yang
mengetahui maksudnya.” Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam
golongan ayat-ayat mutasyabihat.
2.Ada yang menafsirkannya. Mufassirin yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu:
a.Ada
yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari
kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka “Alif” adalah keringkasan dari
“Allah”, “Lam” keringkasan dari “Jibril”, dan “Mim” keringkasan dari
Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah,
disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra; “Alif”
keringkasan dari “Ana”, “Lam” keringkasan dari “Allah” dan “Ra”
keringkasan dari “Ar-Rahman”, yang berarti: Saya Allah Yang Maha
Pemurah.
b.Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.
c.Ada
yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini
adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan “Alif”
adalah “Alif”, yang dimaksud dengan “Lam” adalah “Lam”, yang dimaksud
dengan “Mim” adalah “Mim”, dan begitu seterusnya.
d.Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian.
Menurut
para mufassir ini, huruf-huruf abjad itu disebut Allah pada permulaan
beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk “menantang”.
Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Alquran itu diturunkan dalam
bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf
abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan
lain-lainnya. Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini
datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni
dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang
seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu
juga dapat membuatnya.”
Maka ada “penantang”, yaitu Allah, dan ada
“yang ditantang”, yaitu bahasa Arab, dan ada “alat penantang”, yaitu
Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab,
dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab itu menurut naluri mereka,
karena di antara mereka itu adalah pujangga-pujangga, penyair-penyair
dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab
tantangan Alquran itu dengan membuat ayat-ayat seperti Alquran. Ada juga
di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan
Alquran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat
Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab
itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri.
Para
mufassir dari golongan ini, yakni yang berpendapat bahwa huruf-huruf
abjad itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquran
untuk menantang bangsa Arab itu, mereka sampai kepada pendapat itu
adalah dengan “istiqra” artinya menyelidiki masing-masing surah yang
dimulai dengan huruf-huruf abjad itu. Dengan penyelidikan itu mereka
mendapat fakta-fakta sebagai berikut:
1.Surah-surah yang dimulai
dengan huruf-huruf abjad ini adalah surah-surah Makiyah (diturunkan di
Mekah), selain dari dua buah surah saja yang Madaniyah (diturunkan di
Madinah), yaitu surah Al-Baqarah yang dimulai dengan Alif Lam Mim dan
surah Ali Imran yang dimulai dengan Alif Lam Mim juga. Sedang penduduk
Mekah itulah yang tidak percaya bahwa Alquran itu adalah dari Tuhan, dan
mereka mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata.
2.Sesudah
menyebutkan huruf-huruf abjad itu ditegaskan bahwa Alquran itu
diturunkan dari Allah, atau diwahyukan oleh-Nya. Penegasan itu
disebutkan oleh Allah secara langsung atau tidak langsung. Hanya ada 9
surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu yang tidak disebutkan
sesudahnya penegasan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah.
3.Huruf-huruf abjad yang disebutkan itu adalah huruf-huruf abjad yang banyak terpakai dalam bahasa Arab.
Dari
ketiga fakta yang didapat dari penyelidikan itu, mereka menyimpulkan
bahwa huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah pada permulaan
beberapa surah dari Alquranul Karim itu adalah untuk “menantang” bangsa
Arab agar membuat ayat-ayat seperti ayat-ayat Alquran itu, bila mereka
tidak percaya bahwa Alquran itu, datangnya dari Allah dan mendakwakan
bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata sebagai yang disebutkan di
atas. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa para mufassir yang
mengatakan bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan Allah untuk “tahaddi”
(menantang) adalah memakai tariqah (metode) ilmiah, yaitu “menyelidiki
dari contoh-contoh, lalu menyimpulkan daripadanya yang umum”. Tariqah
ini disebut “Ath-Thariqat Al-Istiqra’iyah” (metode induksi).
Ada
mufassir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh
Allah pada permulaan beberapa surah-surah Alquranul Karim untuk menarik
perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu
cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, karena itu maka
hal ini menarik perhatian mereka.
Tinjauan terhadap pendapat-pendapat ini:
1.Pendapat
yang pertama yaitu menyerahkan saja kepada Allah karena Allah sajalah
yang mengetahui, tidak diterima oleh kebanyakan mufassirin ahli-ahli
tahqiq (yang menyelidiki secara mendalam). (Lihat Tafsir Al-Qasimi j.2,
hal. 32)
Alasan-alasan mereka ialah:
a.Allah sendiri telah berfirman dalam Alquran:
بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
Artinya:
Dengan bahasa Arab yang jelas.
(Q.S. Asy Syu’ara’: 195)
Maksudnya
Alquran itu dibawa oleh Jibril kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang
jelas. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ayat-ayat dalam Alquran itu
adalah “jelas”, tak ada yang tidak jelas, yang tak dapat dipahami atau
dipikirkan, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.
b.Di dalam Alquran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi manusia. Di antaranya firman Allah:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Artinya:
Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
(Q.S. Al-Baqarah: 2)
Firman-Nya lagi:
وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
Artinya:
….dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.
(Q.S. Al-Baqarah: 97)
Firman-Nya lagi:
هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya:
(Alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
(Q.S. Ali Imran: 138)
Dan
banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah
petunjuk bagi manusia. Sesuatu yang fungsinya menjadi “petunjuk” tentu
harus jelas dan dapat dipahami. Hal-hal yang tidak jelas tentu tidak
dijadikan petunjuk.
c. Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Artinya:
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
(Q.S. Al-Qamar: 17, 22, 32, dan 40)
2.
a.Pendapat
yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad itu adalah keringkasan dari
suatu kalimat. Pendapat ini juga banyak para mufassir yang tidak dapat
menerimanya.
Keberatan mereka ialah: tidak ada kaidah-kaidah atau
patokan-patokan yang tertentu untuk ini, sebab itu para mufassir yang
berpendapat demikian berlain-lainan pendapatnya dalam menentukan
kalimat-kalimat itu. Maka di samping pendapat mereka bahwa Alif Lam Mim
artinya ialah: Allah, Jibril, Muhammad, ada pula yang mengartikan
“Allah, Latifun, Maujud” (Allah Maha Halus lagi Ada). (Dr. Mahmud
Syaltut, Tafsir al Qur’anul Karim, hal. 73)
b.Pendapat yang
menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan
beberapa surah ini adalah nama surah, juga banyak pula para mufassir
yang tidak dapat menerimanya. Alasan mereka ialah: bahwa surah-surah
yang dimulai dengan huruf-huruf itu kebanyakannya adalah mempunyai nama
yang lain, dan nama yang lain itulah yang terpakai. Umpamanya surah
Al-Baqarah, Ali Imran, Maryam dan lain-lain. Maka kalau betul
huruf-huruf itu adalah nama surah, tentu nama-nama itulah yang akan
dipakai oleh para sahabat Rasulullah dan kaum muslimin sejak dari dahulu
sampai sekarang.
Hanya ada empat buah surah yang sampai sekarang
tetap dinamai dengan huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan
surah-surah itu, yaitu: Surah Thaha, surah Yasin, surah Shad dan surah
Qaf. (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur’anul Karim, hal. 73)
c.Pendapat
yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad itu
sendiri, dan abjad-abjad ini didatangkan oleh Allah ialah untuk
“menantang” (tahaddi). Inilah yang dipegang oleh sebahagian mufassirin
ahli tahqiq. (Di antaranya: Az Zamakhsyari, Al Baidawi, Ibnu Taimiah,
dan Hafizh Al Mizzi, lihat Rasyid Rida, Tafsir Al Manar jilid 8, hal.
303 dan Dr Shubhi As Salih, Mabahis Ulumi Qur’an, hal 235. Menurut An
Nasafi: pendapat bahwa huruf abjad ini adalah untuk menantang patut
diterima. Lihat Tafsir An Nasafi, hal. 9)
d.Pendapat yang menafsirkan
bahwa huruf-huruf abjad ini adalah untuk “menarik perhatian” (tanbih)
pendapat ini juga diterima oleh ahli tahqiq. (Tafsir Al Manar jilid 8
hal. 209-303)
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa “yang
dimaksud dengan huruf-huruf abjad yang disebutkan oleh Allah pada
permulaan beberapa surat dari Alquran hikmahnya adalah untuk “menantang”
bangsa Arab serta menghadapkan perhatian manusia kepada ayat-ayat yang
akan dibacakan oleh Nabi Muhammad saw.”