Rabu, 11 November 2015

Khutbah Jum'at dalam bahasa Indonesia


KESEIMBANGAN HIDUP
Oleh: Bpk. Yahya Suyarna

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Illahi Robbi yang telah memberikan nikmat Iman dan Islam yang pada saat ini kita dalam keadaan sehat wal’afiat sehingga dapat melaksanakan salah satu kewajiban hidup kita yaitu sholat jumat di masjid ini.

Sholawat serta salam semoga tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman yang InsyaAllah termasuk kita sekalian.
Dalam kesempatan ini khotib berwasiat untuk diri pribadi dan kepada jamaah jumat sekalian untuk selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita pada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya untuk mendapatkan ridho-Nya.

Hadirin Rohimakumullah,
Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang terbaik di dunia ini dan diberikan akal serta nurani sebagai insan hamba Allah maupun sebagai kholifah di bumi ini dan kita diwajibkan untuk menunaikan tugas hidup berupa ibadah kepada-Nya.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat:56

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”

Dalam artian yang luas menyembah adalah segala bentuk pengabdian atau ibadah yang baik berdasarkan perintah Allah dan penjabarannya dicontohkan oleh Rasulullah SAW yaitu ibadah langsung kepada Allah (hablu minallah) dan ibadah sesama manusia (hablu minannas) bahkan ditugaskan pula kepada manusia untuk mengelola dan mendayagunakan apa-apa yang telah Allah ciptakan di dunia ini untuk kesejahteraan hidup manusia yang semua itu termasuk kategori ibadah juga.

Hadirin Rohimakumullah,
Kita semua yakin bahwa semua urusan dunia yang kita hadapi selama ini, sekalipun kita kerjakan siang dan malam terus-menerus tidaklah akan habis dan tidak pula akan ada ujungnya karena selama napas masih berhembus dari hidung kita pekerjaan dan keperluan pun akan terus datang dan menantang kita. Tinggal kita selaku umat yang beriman harus bisa mengatur dan mau mengatasinya, karena kalau kita tidak bisa mengatur dan tidak mau membatasi keperluan hidup kita dan lebih berbahaya lagi yaitu kita akan kehilangan arti kebahagiaan hidup dan keseimbangan hidup dalam kehidupan ini.

Allah Maha Adil menciptakan semua makhluknya selalu berpasangan antara langit dan bumi, daratan dan lautan, panas dan hujan, laki-laki dan perempuan lebih dari itu rohani dan jasmani. Dari sekian ciptaannya yang baik, seyogyanya kita dituntut untuk memelihara dan mengatur hanya sebagian saja yaitu yang ada hubungannya dengan hajat kita selaku manusia sehingga dapat berjalan dengan lancar, serasi, dan seimbang terutama keperluan jasmani dan rohani tersebut. Keseimbangan menurut Islam adalah merupakan faktor yang sangat penting, malah menjadi tujuan dan cita-cita hidup bagi setiap muslim. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah:201

Artinya: “Dan diantara mereka ada yang berdoa: “Ya, Allah Tuhan kami berilah kebahagiaan, keselamatan di dunia serta kebahagiaan di akhirat nanti dan jauhkan kami dari siksa api neraka”.

Lebih jelas lagi Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Asyakir, “orang yang meninggalkan dunia karena semata-mata memburu akhirat itu bukan orang baik, begitu juga orang yang meninggalkan akhirat karena memburu dunia semata-mata kecuali bilamana dia mendapatkan dunia dan akhirat secara bersama-sama karena dunia itu jalan menuju akhirat dan janganlah kamu menjadi beban orang lain”.

Hadirin Rohimakumullah,
Dari ayat Al Quran dan Al Hadits tersebut dapat kita ambil pengertian sebagai berikut:
1. Kita dituntut agar menyeimbangkan antara kepentingan lahiriyah duniawiyah dan kepentingan ruhaniyah ukhrowiyah, jangan sampai berat sebelah dan apalagi kalau hanya mengutamakan salah satu diantaranya. Keduanya harus seimbang, sejalan, serasi dan searah. Seperti seimbang dan searahnya rel kereta api tidak bisa tinggi sebelah, karena hal itu bisa mengakibatkan miringnya kereta api dan mengakibatkan kereta api terguling.

2. Dunia merupakan jembatan yang menuju akhirat. Dunia ini bukan tujuan karena sifatnya fana yang sewaktu-waktu yang telah ditentukan Allah pasti akan mengalami kehancuran dan kebinasaan termasuk didalamnya umat manusia. Dan kita akan kembali menghadap kepada sang pencipta. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Qashash:88

Artinya: ”Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”

Kita kembali kepada Allah bukan kembali begitu saja tetapi kembali untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan yang telah kita perbuat selama hidup dan mengembara di dunia yang fana ini. Sebagaimana yang diucapkan Muadz Bin Jabal, Nabi Muhammad SAW bersabda:”Tidak dapat bergerak kaki seorang hamba sehingga ditanya 4 perkara yaitu umurnya digunakan apa sampai mati dan badannya dalam hal apa ia gunakan dan dari ilmunya apa yang dia amalkan dan hartanya dari mana dia dapat dan kemana ia keluarkan”.

Dari uraian dan sabda Rasul tadi, marilah kita renungkan keadaan masyarakat kita dewasa ini. Kita perhatikan tayangan dan berita di media masa dan elektronika, tampak fenomena kehidupan masyarakat mengenai sosial, budaya, dan ekonomi telah menjadi tragedi dan misteri yang melanda proses kehidupan dalam masyarakat di era globalisasi ini, antara lain terjadinya tindakan kekerasan, korupsi dan manipulasi dalam memenuhi usaha hidup yang kadang-kadang sudah tidak memperhatikan aturan lagi baik agama maupun negara. Halal dan haram kelihatannya sudah abu-abu dan sulit dibedakan. Maka dengan cara memperhatikan keseimbangan pola kehidupan dunia tempat hidup sekarang ini adalah merupakan kesempatan dari Allah bagi manusia untuk berikhtiar guna melepaskan diri dari beban orang lain dan merupakan ladang tempat menanam amal-amal baik dan shaleh seperti pernah Rasul nyatakan “Ad-dunyaa mazroatul akhirah”.
Sedangkan akhirat itu adalah tempat kembali yang abadi. Yang ditentukan dengan buah amal perbuatannya. Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat An-Najm:39-41

Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkannya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna”

Oleh karena itu, kita jangan terlalu memburu harta yang nantinya akan kita tinggalkan dan akan mengalami kehancuran apalagi sampai melupakan hal-hal yang akan kita bawa berupa amal shaleh yang dapat menyelamatkan kita di yaumil hisab. Dan Allah memberikan peringatan dalam surat An-Nahl:96

Artinya: “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal”.

Jadi, apa-apa yang ada pada diri kita seperti pakaian dan perhiasan, ataupun yang ada di luar dari diri kita seperti harta benda dan kekayaan anak, istri, dan handai tolan malah nyawa sekalipun akan lenyap kecuali bila itu semua kita tempatkan, kita nafkahkan dan kita belanjakan di jalan yang diridhoi Allah SWT. Dan itulah yang kekal dan abadi di sisi Allah SWT. Betapa beruntungnya orang-orang yang bisa menempatkan dan bisa memanfaatkan karunia Allah tersebut di jalan yang diridhoi-Nya baik itu karunia umur, ilmu, harta benda, dan anak karena semua itu merupakan modal yang dapat dijadikan amal shaleh yang kekal di sisi Allah SWT. Yang kita akan mendapatkannya di akhirat nanti.

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Demikianlah khutbah yang dapat khotib sampaikan, semoga ada manfaatnya bagi khotib khususnya dan bagi kita sekalian selaku kaum muslimin pada umumnya. Dan semoga Allah memberikan kekuatan Iman, kesabaran, serta ketaqwaan dalam menjalankan roda kehidupan ini sehingga kita benar-benar dapat menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya untuk mendapatkan ridho-Nya. Amin ya robbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar